Potret Buram Dunia Pendidikan, Jadikan Islam sebagai Solusi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dunia pendidikan kembali tercoreng. Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan kelakuan para siswa yang sedang mengejek, bahkan sampai melakukan gestur acungan jari tengah. Perbuatan tersebut dinilai sangat tidak pantas dilakukan terhadap guru yang seharusnya dihormati. Menurut informasi, kejadian tersebut terjadi di SMAN 1 Purwakarta. Aksi tersebut menuai kecaman luas karena dinilai mencerminkan krisis etika (Detik.com, 18/4/2026).

Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat langsung merespons kejadian tersebut dan merasa sangat prihatin. Orang tua para siswa pun telah dipanggil ke sekolah. Pihak sekolah juga telah mengambil langkah awal, yaitu memberikan sanksi skorsing selama 19 hari kepada siswa yang terlibat. Para siswa juga menjalani pembinaan di rumah. Menurut Dedi, sanksi tersebut bukan solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa.

Peristiwa tersebut menunjukkan adanya krisis moral yang semakin parah. Semakin hari, ada saja peristiwa di dunia pendidikan yang membuat masyarakat geleng-geleng kepala. Sebagai pelajar, seharusnya siswa menghormati seorang guru, bukan malah mengejek dan melecehkannya. Kenakalan siswa semakin memprihatinkan di tengah wacana Indonesia Emas, yang ada justru Indonesia “nyungsep”. Lihat saja hari ini, para pelajar dan mahasiswa sudah keterlaluan perilakunya dan sangat mencoreng dunia pendidikan. Pelecehan terhadap guru adalah tindakan yang sangat buruk dan tidak beradab.

Kita harus melihat fakta bahwa fenomena tersebut bukan semata-mata karena faktor individu. Itulah buah dari sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan saat ini. Hasilnya sungguh memprihatinkan dan membuat resah. Sistem pendidikan sekuler tidak menghasilkan pembentukan karakter pada anak atau siswa.

Kacamata kapitalisme memandang bahwa pendidikan hanya untuk menyiapkan sumber daya manusia agar menjadi pekerja. Sekolah hanya menjadi tempat transfer ilmu tanpa harus diamalkan. Belajar hanya untuk mendapatkan ijazah dan kelulusan demi memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Nilai akademik tinggi serta keterampilan teknis hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.

Sekularisme melahirkan kebebasan berperilaku yang menyebabkan siswa bebas melakukan apa saja yang diinginkannya. Ditambah lagi dengan perkembangan teknologi digital, kehidupan generasi semakin terbawa arus. Mereka menggunakan gawai hanya untuk bersenang-senang dengan membuat konten yang tidak bermanfaat. Mereka hanya mengejar viral tanpa memikirkan apakah perbuatan tersebut melanggar syariat atau tidak.

Sistem pendidikan sekuler tidak mampu membentuk karakter dan menanamkan adab pada siswa. Mereka belajar bukan untuk mengamalkan ilmu, tetapi sekadar meraih nilai akademik. Guru juga dipandang sebagai penyedia jasa yang dibayar, bukan sosok yang dimuliakan dan dihormati. Begitulah potret buruk penerapan sistem kapitalisme sekuler. Guru tidak memiliki wibawa dan lemah di hadapan muridnya. Bahkan, ada yang takut ketika menegur murid yang melakukan pelanggaran. Hal ini terjadi karena hukum dalam sistem sekuler juga tidak mampu melindungi guru. Hukum bisa dibeli sehingga yang salah bisa menjadi benar dan sebaliknya.

Semua itu berbanding terbalik dengan sistem Islam. Dalam Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Dalam belajar, seseorang harus memiliki adab kepada orang yang memberikan ilmu agar ilmunya berkah. Rasulullah saw. bersabda:
“Muliakanlah orang yang kamu belajar kepadanya.” (HR Abu al-Hasan al-Mawardi).

Profil Pelajar Pancasila yang digaungkan pemerintah seakan menjadi tamparan keras setelah banyaknya kasus yang terjadi pada guru, bahwa program tersebut hanya formalitas tanpa hasil yang signifikan.

Sebaliknya, sistem pendidikan Islam menerapkan kurikulum berlandaskan akidah Islam yang mampu mencetak generasi yang beriman dan bertakwa serta takut kepada Allah. Sistem ini juga mampu melahirkan manusia yang berkepribadian Islam.

Pelajaran agama Islam menjadi mata pelajaran pokok atau fondasi bagi seluruh cabang ilmu, bukan sekadar pelajaran tambahan. Khalifah sebagai kepala negara bertanggung jawab atas seluruh rakyatnya. Oleh karena itu, negara berperan mengontrol media sosial dari konten-konten yang merusak. Dengan demikian, sangat minim beredarnya konten yang tidak mendidik dan merusak moral generasi. Islam memfilter mana konten yang pantas dan tidak pantas untuk dikonsumsi publik.

Islam juga sangat memuliakan guru. Seorang guru memiliki wibawa, kedudukan yang terhormat, dan dihargai. Kesejahteraan guru dijamin oleh negara sehingga tidak ada guru yang harus mencari pekerjaan sampingan. Dalam Islam, tidak ada istilah guru honorer; semua guru memiliki nilai dan posisi yang sama, yaitu sebagai pencetak generasi unggul. Dari segi hukum, hukum Islam bersifat tegas, adil, dan mampu memberikan efek jera kepada siapa pun yang melakukan pelanggaran. Dengan demikian, ketertiban sosial, moral, dan adab akan terjaga.

Banyaknya kasus pelecehan terhadap guru seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita semua, baik orang tua maupun siswa. Semua ini dapat teratasi dengan penerapan syariat Islam secara kafah dalam naungan Khilafah Islamiah. Hanya dengan itulah akan lahir generasi penerus bangsa yang bermoral dan berakhlak mulia serta memuliakan guru dan orang yang lebih tua. Semoga umat semakin sadar dan mau memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam yang pernah ada. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Dartem
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA