Tinta Media – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali memperlihatkan rapuhnya kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Kondisi ini sangat berpengaruh dan berdampak bagi mereka. Tidak hanya itu, pelemahan nilai tukar rupiah mulai terasa hingga ke tingkat petani perdesaan. Harga pupuk nonsubsidi naik. Tingginya harga pupuk nonsubsidi sangat memberatkan biaya produksi pertanian karena biaya tenaga kerja, bahan bakar minyak, dan benih juga ikut naik.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi yang mendorong sebagian orang mencari jalan keluar melalui pinjaman online dan utang konsumtif lainnya. Namun, kerap kali persoalan ini dipandang sebagai dinamika ekonomi biasa. Presiden Indonesia, dalam kutipan video yang beredar di media sosial, mengatakan, “Di desa kan enggak pakai dolar.” Sementara itu, dampaknya makin menekan kehidupan rakyat.
Gejolak global, termasuk konflik internasional dan ketidakpastian pasar, memang memengaruhi nilai tukar. Namun, tekanan ekonomi domestik menunjukkan pentingnya kebijakan yang mampu melindungi masyarakat dari dampak fluktuasi tersebut. Naiknya utang masyarakat dan kesulitan sektor produktif, termasuk para nelayan akibat meningkatnya biaya operasional, menunjukkan bahwa masyarakat sering menjadi pihak yang menanggung dampak terbesar dari ketidakstabilan ekonomi.
Dengan demikian, persoalan pelemahan rupiah tidak hanya berkaitan dengan nilai tukar semata, tetapi juga menyangkut sejauh mana sistem ekonomi dan kebijakan negara mampu melindungi rakyat dari tekanan hidup yang terus meningkat. Ketika beban ekonomi makin berat, kebutuhan akan solusi yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat menjadi semakin mendesak.
Kesejahteraan rakyat merupakan tanggung jawab negara. Karena itu, penyelesaian persoalan ekonomi tidak cukup dengan kebijakan jangka pendek, tetapi membutuhkan sistem yang menjadikan perlindungan rakyat sebagai orientasi utama. Pemimpin diposisikan sebagai raa’in (pengurus urusan rakyat) dan junnah (pelindung), sehingga negara dituntut hadir saat masyarakat menghadapi tekanan hidup.[]
Oleh: Wina Audina
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 30








