Om Joy Ungkap Kelemahan Analogi Turbulensi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Jurnalis Senior Joko Prasetyo (Om Joy) mengungkapkan kelemahan sikap dalam analogi turbulensi pesawat dalam perkara π‘šπ‘’π‘ π‘Žπ‘¦π‘¦π‘Žπ‘Ÿ dan π‘šπ‘’π‘˜β„Žπ‘Žπ‘¦π‘¦π‘Žπ‘Ÿ.

“Di sinilah letak kelemahan analogi tersebut,” tuturnya kepada Tinta Media, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Om Joy, peristiwa turbulensi pesawat termasuk perkara π‘šπ‘’π‘ π‘Žπ‘¦π‘¦π‘Žπ‘Ÿ. Penumpang tidak memilihnya. Pilot juga tidak menciptakannya. Ia merupakan fenomena yang berada di luar kehendak manusia.

“Sebaliknya, sistem pemerintahan, sistem ekonomi, peraturan negara, kebijakan publik, maupun pilihan antara demokrasi dan khilafah bukanlah perkara π‘šπ‘’π‘ π‘Žπ‘¦π‘¦π‘Žπ‘Ÿ. Semua itu termasuk wilayah π‘šπ‘’π‘ π‘Žπ‘¦π‘¦π‘Žπ‘Ÿ karena merupakan hasil pilihan dan tindakan manusia,” jelasnya.

Selain mencampuradukkan perkara π‘šπ‘’π‘ π‘Žπ‘¦π‘¦π‘Žπ‘Ÿ dan π‘šπ‘’π‘˜β„Žπ‘Žπ‘¦π‘¦π‘Žπ‘Ÿ Om Joy menilai analogi turbulensi ini juga menggeser fokus pembahasan.

Ia menambahkan bahwa analogi semacam ini berpotensi dipahami sebagai ajakan untuk mengurangi atau menghindari muhasabah terhadap penguasa.

“Sebab kritik ditempatkan pada posisi yang serupa dengan penumpang yang dianggap mengganggu pilot ketika pesawat mengalami turbulensi,” ujarnya.

Amar Makruf

Om Joy mengatakan, Islam memerintahkan amar makruf nahi mungkar, termasuk kepada penguasa. Penguasa bukan sosok yang kebal dari koreksi, melainkan pihak yang wajib diingatkan ketika menyimpang dari hukum Allah SWT.

“Yang lebih penting adalah jangan sampai sebuah analogi melahirkan kesan bahwa kritik terhadap penguasa merupakan tindakan yang tercela, sementara diam terhadap penyimpangan dianggap sebagai sikap yang lebih islami,” lanjutnya.

Lantas Om Joy pun mengingatkan diam terhadap kemungkaran justru merupakan perkara yang diperingatkan oleh syariat.

Tenang atau Protes

Ia menilai persoalan sesungguhnya bukan apakah rakyat harus tenang atau harus protes. Persoalannya adalah apakah sistem yang diterapkan, kebijakan yang dijalankan, dan hukum yang diberlakukan telah sesuai dengan syariat Allah SWT atau belum.

“Sebab turbulensi adalah qadha Allah yang berada di luar pilihan manusia. Sedangkan demokrasi, kapitalisme, sosialisme, maupun khilafah adalah pilihan manusia yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT,” tutupnya.[] Muhammad Nur

Loading

Views: 5

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA