Beritanya Redup, Kejahatannya Tak Pernah Padam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Di tengah pemberitaan tentang Palestina yang perlahan meredup, penderitaan rakyat Palestina, terutama anak-anak, tidak ikut berhenti. Ketika perhatian publik dunia beralih pada isu lain, kejahatan yang dilakukan Zionis Israel terus berlangsung dan bahkan menambah daftar korban dari waktu ke waktu. Lebih dari 1.500 anak dilaporkan mengalami luka-luka, dengan hampir separuh di antaranya terluka akibat peluru tajam. Tidak hanya itu, sebanyak 355 anak Palestina dari Tepi Barat juga berada dalam tahanan militer Israel. Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata tentang masa kecil yang direnggut oleh konflik dan kekerasan. Anak-anak yang seharusnya belajar, bermain, dan merasakan kasih sayang justru harus mengenal rasa takut, kehilangan, luka, hingga trauma sejak usia dini.

Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, menyampaikan peringatan tentang potensi ledakan konflik menyusul aksi brutal tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat belakangan ini. Serangan-serangan tersebut terang-terangan dilakukan di wilayah yang diakui komunitas internasional sebagai wilayah Palestina. Dalam pidatonya pada Selasa waktu setempat di hadapan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai Timur Tengah, termasuk isu Palestina, Alakbarov menyatakan bahwa hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 76 warga Palestina syahid di Tepi Barat sepanjang tahun 2026, termasuk 18 anak di bawah umur (Republika.co.id).

Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan rasa aman justru harus kehilangan keluarga, rumah, masa depan, bahkan nyawa mereka. Redupnya pemberitaan bukan berarti kejahatan telah berakhir. Justru di balik minimnya sorotan media, tragedi kemanusiaan terus terjadi. Korban terus berjatuhan dan kehidupan anak-anak Palestina tetap berada dalam bayang-bayang kekerasan.

Ironisnya, pelanggaran terhadap hak hidup, keamanan, dan perlindungan anak terjadi secara nyata, sementara dunia internasional yang selama ini lantang menggaungkan hak asasi manusia tampak membisu. Standar HAM yang selalu dibicarakan seolah kehilangan ketegasannya ketika korbannya adalah rakyat Palestina.

Karena itu, dunia tidak boleh menganggap diamnya media sebagai tanda bahwa keadaan telah membaik. Anak-anak Palestina masih membutuhkan perlindungan nyata serta langkah yang benar-benar mampu menghentikan kezaliman, bukan sekadar simpati dan kecaman. Sebab, selama dunia hanya menjadi penonton dan para pemimpin berhenti pada pernyataan serta kecaman, generasi demi generasi anak Palestina akan terus tumbuh dengan luka dan trauma akibat kejahatan yang seharusnya tidak pernah mereka alami. Korban pun akan terus berjatuhan dan kehidupan anak-anak Palestina tetap berada dalam bayang-bayang kekerasan.

Islam tidak membenarkan pembiaran terhadap kezaliman, terlebih ketika korbannya adalah anak-anak dan masyarakat sipil. Ketika hak hidup, keamanan, dan masa depan mereka dirampas, kezaliman tersebut tidak seharusnya hanya dijawab dengan kecaman atau pernyataan politik semata. Dalam Islam, penjajahan dan penindasan harus dihadapi serta dihentikan.

Sudah saatnya negeri-negeri Muslim tidak lagi berpangku tangan melihat penderitaan Palestina. Seruan untuk membebaskan Palestina harus terus disuarakan. Partai politik ideologis mengambil peran untuk terus menyadarkan umat dan penguasa tentang kewajiban membela kaum Muslim yang tertindas. Seruan jihad untuk membebaskan Palestina serta pengerahan kekuatan militer negara-negara Muslim juga harus terus disuarakan sebagai bagian dari perjuangan mengakhiri penjajahan.

Oleh: Shira Tara
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA