Perusakan Kebun Zaitun, Bukti Kezaliman Penjajah Israel

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Perusakan Kebun Zaitun, Bukti Kezaliman Penjajah Israel

Tinta Media – Identitas suatu bangsa tidak hanya tecermin dari perilaku penduduknya, tapi juga tempat tinggal beserta lingkungan hidup mereka. Jika Indonesia identik dengan penghasil kayu dan hayati laut yang berkualitas tinggi, maka Palestina memiliki ciri khas zaitun terbaik di dunia. Bahkan, menjadi salah satu sumber pemasukan negara yang cukup besar, yaitu sekitar 8 persen dari PDB. Setiap tahunnya akan terjadi panen raya pada awal bulan Oktober hingga November yang mampu menghidupi 900.000 lebih keluarga Palestina.

Pemusnahan Manusia serta Alamnya

Panen raya yang seharusnya menjadi momentum sukacita bagi penduduk Palestina di Tepi Barat, berubah menjadi kepedihan yang mendalam. Pasalnya, sekitar seminggu sebelum waktu panen raya, banyak buldoser milik tentara Israel yang merusak tanaman zaitun. Bahkan, sampai mencabut tanaman tersebut hingga ke akar-akarnya, tanpa tersisa satu pun. Warga Palestina yang menyaksikan hal tersebut tidak mampu berbuat apa-apa. Raut kesedihan nampak jelas di wajah mereka, setelah melihat penghancuran puluhan hektare kebun zaitun.

Masih terbayang di benak tentang peristiwa genosida yang dilakukan Israel terhadap warga sipil Palestina. Puluhan ribu nyawa melayang selama tiga tahun terakhir serangan yang dilakukan oleh Israel. Kehilangan keluarga dan sanak suadara telah meninggalkan luka mendalam bagi warga Palestina. Sekarang, mereka harus menerima kenyataan bahwa sumber penghasilannya untuk bertahan hidup harus ikut dilenyapkan. Hanya beralasan bahwa pepohonan di wilayah Tepi Barat dapat mengancam keamanan penjajah Israel, sudah mampu membuat dunia menutup mata terhadap perusakan perkebunan zaitun tersebut.

Sepertinya, penjajah Israel tidak akan puas sampai penduduk Palestina benar-benar angkat kaki meninggalkan wilayah Palestina. Niat jahat Israel untuk membumihanguskan Palestina dilakukan dengan berbagai perbuatan keji yang telah terjadi selama ini. Mulai dari pembantaian terhadap warga sipil Palestina, berlanjut kepada perusakan fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, serta kendaraan umum. Hingga saat ini, Israel membidik perkebunan zaitun yang menjadi sumber penghidupan warga serta identitas yang berhubungan dengan tanah kelahiran rakyat Palestina.

Negara Kuat Berwujud Singa Sirkus

Di sisi lain, bagaimana sikap yang diambil oleh berbagai negara kuat di dunia? Mulai dari Amerika Serikat hingga Eropa.

Penyerangan yang terjadi akhir bulan September 2026, menelan beberapa korban, salah satunya wartawan fotografer asal Amerika Serikat. Pada insiden tersebut, menurut pernyataan saksi mata dan bukti video yang sudah beredar luas, terjadi pengeroyokan, penganiayaan, dan perampasan kamera oleh pendatang ilegal Israel. Dugaan yang beredar adalah pelaku ingin menutupi bukti-bukti bahwa mereka merusak perkebunan zaitun milik warga Palestina. Setelah insiden terjadi, dugaan tersebut makin menguat dengan sikap tentara Israel yang menyerang warga sipil serta paramedis yang hendak membantu korban. Tentara Israel menyerang dengan tembakan dan gas air mata berdasarkan pernyataan saksi mata yang melihat langsung kejadian tersebut.

Perwakilan dari beberapa negara merespons tindakan keji tersebut, salah satunya Amerika Serikat. Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS, menyatakan sikap prihatin terhadap insiden yang menimpa korban dan akan menyelidiki lebih mendalam terkait insiden tersebut. Hal serupa juga disampaikan oleh negara Uni-Eropa, yang menyayangkan terjadi kembali penyerangan terhadap warga Palestina oleh Israel. Namun, negara Uni-Eropa sepakat untuk mengambil tindakan melalui jalur diplomasi. Negara Uni-Eropa masih ingin menjaga hubungan baik dengan Israel dalam berbagai perjanjian yang telah disepakati bersama sebelumnya. Walaupun di antara negara Uni-Eropa juga terdapat kubu yang menentang dan menjadi penengah, tetapi berdasarkan keputusan akhir Uni-Eropa tetap bersepakat untuk menjalankan kerja sama dengan Israel sesuai perjanjian yang telah ada.

Berdasarkan fakta tersebut, sudah jelas bahwa negara yang memiliki wujud singa yang kuat ternyata hanya berani di atas panggung sirkus. Berbagai alasan diplomatis serta peran negara yang hanya membela warganya saja, menunjukan seberapa sedikit nyali yang dimiliki. Negara-negara yang selama ini dianggap kuat, ternyata hanya manjadikan nilai HAM sebagai topeng yang menutupi jiwa-jiwa pengecutnya. Perjanjian demi perjanjian yang telah disepakati menjadi rantai pengikat leher negara tersebut. Lantas, harus ke mana harapan kedamaian untuk warga Palestina digantungkan?

Tanah Persatuan yang Suci

Hanya Sang Khalik yang menjadi tempat bergantung. Namun, apakah harus menunggu azab dulu tapi berdampak ke seluruh umat manusia?

Penegakan hukum yang adil di muka bumi memang akan sulit terjadi saat ini. Kezaliman merajalela, kejahatan menjadi hal yang biasa, sampai kerusakan alam dianggap indikator kemajuan suatu negara. Rakyat dituntut dapat mandiri tanpa bantuan negara. Sementara itu, negara bebas mengeksplorasi sumber daya alam dan manusia secara membabi buta. Situasi dan kondisi yang terjadi tidak lain akibat dari sistem kapitalisme yang dianut dunia saat ini.

Salah satu tanah suci di muka bumi, akhirnya menjadi korban dari sistem kapitalisme yang rusak, yaitu Palestina. Tanah yang diperjuangkan oleh darah syuhada untuk tetap damai harus menelan kepahitan yang terjadi. Lantas, bagaimana agar Palestina bebas dari kehancuran? Satu-satunya cara adalah Palestina harus berada di bawah naungan Islam.

Dalam naungan Islam, maka penerapan Islam harus secara menyeluruh (kafah). Penerapan Islam melalui penegakan hukum syarak. Mengapa harus menegakkan hukum syarak? Sebab, hukum syarak memiliki tujuan (maqashid syariah). Ada lima tujuan ini, di antaranya menjaga agama, jiwa, harta, akal dan keturunan. Jika tujuan ini tercapai, maka akan menghadirkan kedamaian di dunia, termasuk Palestina.

Untuk menegakkan hukum syarak memerlukan negara yang menjaganya, yaitu Khilafah. Dengan adanya Khilafah, maka rantai pengikat leher setiap muslim dapat dihilangkan. Rantai inilah yang menghalangi sesama muslim untuk saling membantu. Rantai ini terbentuk dari sekat nasionalisme.

Oleh karena itu, persatuan umat Islam hanya dapat terbentuk dalam satu komando khalifah. Khalifah yang akan memimpin kehidupan di bumi dengan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan demikian, tidak ada lagi hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Tidak ada lagi ketakutan akan terancamnya agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan. Selain itu, tidak ada lagi bencana akibat kerusakan alam yang disebabkan oleh ulah manusia. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Sarah Anis
(Aktivis Dakwah)

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA