Balita Menghirup Asap Beracun, Karhutla Bukan Sekadar Bencana Alam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Balita Menghirup Asap Beracun, Karhutla Bukan Sekadar Bencana Alam

Tinta Media – Di tengah gencarnya narasi Indonesia Emas 2045, sebuah ironi besar justru dipertontonkan di hadapan publik. Negara yang bercita-cita melahirkan generasi unggul, sehat, dan cerdas, justru membiarkan generasi penerusnya sendiri bertarung melawan udara beracun yang merusak paru-paru mereka sejak dini. Karhutla yang kembali membara setiap tahun bukan lagi sekadar bencana ekologis musiman, melainkan telah berubah menjadi krisis kesehatan publik sistemis dan mengancam masa depan bangsa. Ketika asap pekat menjadi makanan sehari-hari balita, maka pertanyaan besarnya bukan lagi tentang cuaca, melainkan tentang di mana peran negara sebagai pelindung rakyat.

Puluhan Ribu Balita Sesak, Negara Gagap

Data Kementerian Kesehatan per 17 Oktober 2026 mencatat sebanyak 311.363 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut di 65 kabupaten/kota pada 7 provinsi terdampak yakni Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, dengan balita usia 0-5 tahun mendominasi sebanyak 70.239 kasus atau 22,6 persen. Ironisnya, lonjakan tersebut tidak diimbangi kesiapan sarana. Karena, dari 1.691 puskesmas di wilayah terdampak, hanya 827 puskesmas yang memiliki nebulizer, 1.070 puskesmas memiliki tabung oksigen, dan 1.502 puskesmas memiliki oksigen concentrator. Padahal, alat tersebut merupakan penunjang vital penanganan gangguan pernapasan. Sehingga, klaim pengerahan 2.106 sumber daya manusia kesehatan dan jutaan logistik medis belum menjawab kebutuhan mendasar di lapangan.

Negara Lalai, Generasi Emas Terancam

Fakta tersebut menegaskan satu kesimpulan yang pahit, bahwa anak telah menjadi korban langsung dari kelalaian negara dalam menangani karhutla. Bencana ini tidak datang tiba-tiba tanpa peringatan. Ia adalah bencana yang berulang, dapat diprediksi, dan telah berlangsung selama berbulan-bulan. Namun, penanganannya tetap bersifat reaktif, lambat, dan jauh dari kata tuntas. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa negara lalai menjaga kesehatan generasi yang digadang-gadang sebagai generasi emas.

Secara medis, balita adalah kelompok yang paling rentan dan menderita. Saluran pernapasan mereka masih dalam masa pertumbuhan dan belum sempurna. Laju pernapasan anak jauh lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Sehingga, dalam satuan berat badan yang sama, mereka menghirup jauh lebih banyak partikel berbahaya dan udara beracun. Ditambah lagi, sistem kekebalan tubuh balita belum sepenuhnya matang, sehingga sangat mudah terinfeksi.

Membiarkan mereka terpapar kabut asap dalam jangka waktu lama, sama saja dengan membiarkan kerusakan permanen terjadi pada tubuh mereka. Gangguan pada paru-paru sebagai organ vital akan menimbulkan risiko jangka panjang yang serius, mulai dari penurunan fungsi paru secara permanen, peningkatan risiko stunting akibat infeksi berulang, hingga gangguan kognitif yang akan menghambat kualitas sumber daya manusia. Jika fondasi kesehatannya saja sudah rusak sejak balita, maka visi Indonesia Emas 2045 hanyalah sebuah ilusi dan slogan kosong tanpa makna.

Khilafah Pelindung Generasi

Persoalan ini tidak akan pernah selesai dengan solusi tambal sulam dalam sistem kapitalisme-sekuler yang ada saat ini. Sistem yang berorientasi pada keuntungan korporasi dan abai terhadap penjagaan lingkungan inilah yang justru menjadi akar penyebab karhutla terus berulang. Dibutuhkan perubahan paradigma kepemimpinan yang mendasar dan sahih, yaitu sistem Islam.

Negara Khilafah yang berfungsi sebagai junnah (perisai pelindung) akan bergerak sangat cepat dan totalitas ketika menyangkut nyawa generasi penerus. Khilafah memahami bahwa menjaga satu nyawa sama dengan menjaga seluruh manusia. Oleh karena itu, ia tidak akan membiarkan bencana berlarut-larut dengan dalih birokrasi yang rumit atau keterbatasan anggaran. Khilafah akan mengerahkan seluruh sumber daya secara maksimal dari baitulmal untuk kepentingan penyelamatan rakyat. Dana umat akan difokuskan untuk penanganan bencana dan pelayanan kesehatan, bukan untuk pencitraan atau proyek yang tidak prioritas.

Sementara itu, sebagai raa’in atau pengelola dan penanggung jawab urusan rakyat, Khilafah akan mengupayakan segala macam cara untuk mengatasi karhutla dan dampaknya secara komprehensif, baik melalui upaya promotif, preventif, maupun kuratif dengan menggunakan teknologi terbaik yang ada. Secara preventif, Khilafah akan melakukan mitigasi terbaik dan proaktif dengan penegakan hukum yang sangat tegas terhadap korporasi pembakar lahan, menerapkan pengelolaan hutan berbasis syariat yang mengharamkan perusakan lingkungan dan eksploitasi serakah, serta membangun sistem pemantauan lapangan yang canggih dan akurat agar dapat bertindak tepat dan cepat sebelum korban berjatuhan lebih banyak.

Secara kuratif, Khilafah wajib memenuhi seluruh sarana dan prasarana kesehatan secara merata, berkualitas, dan gratis hingga ke pelosok negeri. Sebab, dalam Islam kesehatan adalah hak dasar rakyat yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban langsung di hadapan Allah Swt. atas setiap nyawa yang terabaikan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Rukmini
(Pegiat Literasi)

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA