70 Ribu Nyawa Melayang di Gaza, FDMPB: Bukan Perang, Ini Penghapusan Satu Generasi!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pengakuan Israel dampak dari serangan militernya di Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina sejak operasi militer yang dimulai pada 7 Oktober 2023, menurut Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra bukan sekadar statistik perang, tetapi penghapusan satu generasi.

“Ini bukan sekadar statistik perang. Ini adalah penghapusan satu generasi secara perlahan dan sistematis,” ujarnya kepada Tinta Media, Kamis (5/2/2026).

Dr. Ahmad Sastra menambahkan bahwa kejahatan Israel atas Palestina juga ditunjukkan melalui serangan pasca penandatanganan Board of Peace yang menelan 31 korban, termasuk anak-anak dan perempuan.

“Tak sampai di situ, kejahatan Israel atas Palestina juga ditunjukkan dengan serangan pasca penandatanganan Board of Peace yang menelan 31 korban, termasuk anak-anak dan perempuan. Ini kejahatan yang tak termaafkan,” imbuhnya.

Ia juga menilai bahwa tragedi kemanusiaan justru terus dibingkai dengan narasi “hak membela diri”, cara pandang tersebut menunjukkan kegagalan serius sistem internasional dalam menjaga nilai moral dan keadilan global.

“Lebih dari 70 ribu orang tewas, namun narasi yang terus diulang adalah ‘hak membela diri’. Di sinilah kebangkrutan moral sistem internasional tampak nyata,” bebernya.

Dr. Ahmad Sastra menjelaskan bahwa apabila pembelaan diri dimaknai sebagai penghancuran total wilayah padat penduduk, maka konsep tersebut telah disalahgunakan secara ekstrem. Ia menegaskan hukum internasional tidak lagi bekerja secara adil karena cenderung lunak terhadap negara kuat, tetapi keras dan represif ketika diterapkan kepada negara lemah.

“Hak asasi manusia yang diagungkan dalam pidato-pidato global berubah menjadi slogan kosong ketika berhadapan dengan veto Dewan Keamanan PBB dan aliansi militer. Nyawa manusia kalah oleh kepentingan geopolitik dan industri senjata. Seperti yang dikritik oleh banyak sarjana hukum internasional, sistem global hari ini tidak netral, melainkan sarat relasi kuasa,” ujarnya.

Dr. Ahmad Sastra menegaskan bahwa kekacauan yang terjadi saat ini tidak bisa disandarkan pada ajaran agama. Menurutnya, akar persoalan justru bersumber dari warisan kolonialisme, menguatnya nasionalisme eksklusif, serta tarik-menarik kepentingan geopolitik global yang membentuk konflik berkepanjangan.

“Kekacauan yang kita saksikan hari ini bukanlah akibat ajaran agama, melainkan konsekuensi langsung kolonialisme, nasionalisme eksklusif, dan kepentingan geopolitik global,” tegasnya.

Dr. Ahmad Sastra menjelaskan bahwa fakta sejarah menunjukkan Palestina pernah mengalami stabilitas dalam waktu yang panjang ketika berada di bawah pemerintahan Islam. Ia menyebut era Khilafah Umayyah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah sebagai periode di mana kota-kota seperti Al-Quds atau Yerusalem menjadi ruang hidup bersama yang relatif damai bagi Muslim, Yahudi, dan Nasrani.

“Perlindungan terhadap tempat ibadah dan minoritas dijamin melalui sistem hukum Islam (ahl al-dzimmah),” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

Loading

Views: 23

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA