Vasektomi Atasi Kemiskinan, dr. Fauzan: Tidak Menyentuh Akar Persoalan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Program pengendalian kelahiran dengan metode vasektomi yang diklaim pemerintah sebagai salah satu solusi pengentasan kemiskinan dinilai Direktur Rumah Sakit Setia Bunda Kabupaten Konawe dr. Fauzan Azhari, Sp. KK., MM. Tidak menyentuh akar persoalan.

“Kebijakan ini tidak menyentuh akar persoalan. Masalah kemiskinan bukan karena jumlah anak, tapi karena sistem ekonomi kapitalisme yang menciptakan ketimpangan,” ujarnya dalam diskusi publik bertajuk “Mengatasi Kemiskinan dengan Vasektomi, Solusi atau Masalah?” Ahad (1/6/2025) di Kota Unaaha, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Menurutnya, sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan di negeri inilah yang menjadi penyebab utama kemiskinan. “Kapitalisme yang menempatkan kepemilikan dan keuntungan pada segelintir elite, telah melahirkan ketimpangan struktural. Kekayaan terkonsentrasi di tangan korporasi besar dan para oligarki, sementara rakyat kebanyakan hanya menjadi buruh murah atau tersingkir dari akses sumber daya,” ungkapnya.

Praktik seperti swastanisasi sektor publik, liberalisasi harga kebutuhan pokok, dan utang luar negeri dengan bunga tinggi, menurutnya, adalah contoh nyata eksploitasi kapitalistik yang menggerus kesejahteraan masyarakat.

Diskusi ini dihadiri puluhan peserta dari kalangan masyarakat, aktivis, hingga tenaga kesehatan.

“Dalam sistem ini, tanah dikuasai segelintir orang, industri dikuasai asing, dan rakyat dibebani pajak. Wajar bila kemiskinan terus terjadi. Ini bukan soal jumlah anak, tapi soal sistem,” ungkap salah satu peserta diskusi.

Solusi

Dalam sistem ekonomi Islam, kata Fauzan, sumber daya alam adalah milik umum yang tidak boleh dikapitalisasi. Negara wajib mengelola kekayaan tersebut untuk kepentingan rakyat secara langsung, bukan diserahkan ke swasta.

Lebih lanjut, katanya, Islam menegaskan pentingnya distribusi kekayaan melalui zakat, larangan riba, larangan penimbunan (ihtikar), serta pengaturan kepemilikan negara, individu, dan umum yang jelas. Negara berperan aktif dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat, termasuk pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan.

“Islam tidak menjadikan jumlah anak sebagai beban. Justru anak adalah rezeki dan kekuatan umat. Yang harus dikritisi adalah sistem yang menindas, bukan keluarga yang berkembang,” tutupnya.

Diskusi ini pun ditutup dengan seruan agar masyarakat dan tokoh umat lebih kritis terhadap kebijakan pemerintah yang tidak menyentuh akar masalah dan berani menawarkan solusi berbasis syariah sebagai jalan keluar yang menyeluruh.[] Rohadianto

Views: 117

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA