Pernikahan atau Kemiskinan? Dilema Gen Z di Era Kapitalisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Fenomena generasi muda yang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah bukan lagi sekadar ungkapan hiperbolis. Kini, hal itu benar-benar terjadi di tengah masyarakat, terutama di kalangan Gen Z.

Hal ini terlihat dari viralnya sebuah cuitan di Threads pada akhir Oktober 2025 yang menyatakan bahwa anak muda zaman sekarang lebih takut miskin daripada menikah. Unggahan itu ditayangkan ulang lebih dari 207.000 kali dan disukai lebih dari 12.500 pengguna, menunjukkan kuatnya rasa “relate” di antara mereka (Kompas.com, 22/11/2025).

Kondisi ekonomi yang semakin sulit membuat sebagian besar generasi muda memprioritaskan stabilitas finansial ketimbang menikah muda. Biaya hidup yang terus naik, sementara penghasilan tidak sebanding, menjadikan pernikahan dianggap sebagai risiko tambahan.

BPS mencatat tren penurunan angka pernikahan pemuda. Pada 2023, jumlah pemuda yang belum menikah mencapai 68,29 persen, dan meningkat menjadi 69,75 persen pada 2024 (Kumparan.com, 10/02/2025). BKKBN menyebutkan faktor pendidikan, kondisi finansial, dan tempat tinggal sebagai penyebab utama turunnya angka pernikahan (Cnnindonesia.com, 21/07/2025).

Tingginya biaya kebutuhan, hunian yang tidak terjangkau, persaingan kerja yang ketat, dan lapangan pekerjaan yang semakin sempit turut memperbesar ketakutan tersebut. Setelah menikah, biaya hidup tentu akan meningkat sehingga banyak anak muda merasa perlu mapan terlebih dahulu.

BPS melaporkan pendapatan per kapita Indonesia pada 2024 naik menjadi Rp68,62 juta per tahun (Rp6,55 juta per bulan), tetapi kenaikan pendapatan itu tidak diimbangi turunnya biaya hidup. Jakarta, misalnya, memiliki biaya hidup yang mencapai Rp14,88 juta per bulan untuk rumah tangga. Sementara untuk lajang, kebutuhan per bulan berkisar Rp4,5–6 juta (Kompas.com, 22/11/2025).

Belum lagi derasnya arus informasi negatif tentang pernikahan: isu perselingkuhan, KDRT, dan konflik rumah tangga yang mudah ditemukan di media sosial. Semua ini melahirkan narasi “marriage is scary.” Pesan tersebut memengaruhi cara pandang generasi muda, hingga sebagian besar memandang pernikahan sebagai sumber masalah, bukan sebagai anugerah.

Ketakutan terhadap kemiskinan juga berakar dari realitas pahit: sulit mendapatkan pekerjaan, upah rendah, biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal, serta sulitnya memperoleh hunian yang layak. Dalam kondisi seperti ini, menikah dianggap sebagai beban tambahan.

Semua ini merupakan bukti gagalnya sistem kapitalisme dalam mewujudkan kesejahteraan. Kapitalisme hanya melahirkan jurang kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin, monopoli ekonomi, dominasi korporasi, serta kebijakan yang acap kali mengabaikan kepentingan rakyat. Selain itu, pendidikan sekuler dan budaya media liberal menumbuhkan gaya hidup materialistis dan hedonistik pada generasi muda. Akibatnya, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai ibadah, tetapi beban.

Dalam sistem kapitalisme, negara cenderung melepaskan tanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat. Pemenuhan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan jaminan sosial dibebankan kepada individu. Hal ini memicu persaingan, individualisme, dan kecemasan sosial yang tinggi—termasuk dalam urusan pernikahan.

Berbeda dengan Islam. Dalam sistem Islam, negara menjamin kebutuhan primer rakyat serta membuka peluang pemenuhan kebutuhan sekunder melalui penerapan ekonomi Islam. Islam mengenal pembagian kepemilikan: kepemilikan negara, kepemilikan umum, dan kepemilikan individu. Sumber daya umum (milkiyyahammah) dikelola negara dan hasilnya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, sehingga biaya hidup dapat ditekan.

Pendidikan berbasis akidah Islam membentuk generasi yang berkarakter, tidak terjebak gaya hidup hedonisme dan materialisme. Islam juga memperkuat institusi keluarga dan memandang pernikahan sebagai ibadah, penjaga kehormatan, serta sarana melanjutkan keturunan dengan penuh keberkahan.

Pernikahan dalam Islam bukanlah beban, melainkan jalan mulia yang sesuai fitrah manusia. Ketika sistem Islam diterapkan, generasi muda tidak lagi dihantui ketakutan untuk menikah, karena negara memastikan kesejahteraan dan kemuliaan hidup setiap warganya. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Fitri Andriani,

Aktivis Dakwah Remaja

Loading

Views: 70

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA