Bukan Sekadar Praktik, Om Joy: Problem Demokrasi Terletak pada Fondasi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Jurnalis Joko Prasetyo (Om Joy) menilai, problem demokrasi terletak pada fondasinya. “Di titik ini, persoalannya tidak lagi sekadar pada praktik, tetapi pada fondasi. Demokrasi meletakkan kedaulatan di tangan manusia, sementara manusia sendiri memiliki keterbatasan, dipengaruhi kepentingan, dan tidak lepas dari dorongan hawa nafsu,” ujarnya kepada Tinta Media, Senin (30/3/2026).

Oleh karena itu menurut Om Joy, berbagai problem yang diakibatkan dari penerapan sistem demokrasi seperti dominasi elite, pengaruh modal, tarik-menarik kepentingan, dan relativisme moral bukanlah anomali semata, melainkan konsekuensi yang dapat muncul dari fondasi tersebut.

“Selama manusia menjadi pembuat hukum, hukum berpotensi menjadi alat kekuasaan, bukan sepenuhnya penuntun kebenaran,” tegasnya.

Solusi Mendasar

Om Joy kemudian menyampaikan pandangannya terkait solusi mendasar atas berbagai persoalan kehidupan manusia.

“Solusi mendasar untuk masalah di atas tentu saja menegakkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah,” ujarnya.

Pasalnya, sebut Om Joy, Islam menawarkan pendekatan yang berbeda secara fundamental.

“Islam tidak meletakkan kedaulatan pada manusia, melainkan pada wahyu,” jelasnya.

Ia mengutip perkataan Imam al-Qurthubi dalam 𝐴𝑙-𝐽𝑎̄𝑚𝑖‘ 𝑙𝑖 𝐴ℎ̣𝑘𝑎̄𝑚 𝑎𝑙-𝑄𝑢𝑟’𝑎̄𝑛 dalam menafsirkan QS Yusuf: 40 penetapan hukum (𝑎𝑙-ℎ̣𝑢𝑘𝑚) adalah hak Allah semata.
.
Menurutnya, hal senada juga disampaikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab 𝐴𝑠-𝑆𝑖𝑦𝑎̄𝑠𝑎ℎ 𝐴𝑠𝑦-𝑆𝑦𝑎𝑟‘𝑖𝑦𝑦𝑎ℎ bahwa kewajiban berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.

“Prinsip ini bukan hanya teologis, tetapi menjadi dasar dalam konstruksi sistem politik Islam,” imbuhnya.

Ambil Sikap

Om Joy lantas menilai kaum Muslim harus mengambil sikap. “Ini bukan lagi soal pilihan sistem yang opsional, tetapi sistem yang dibangun dari sumber hukumnya: manusia atau Allah,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Islam menetapkan hukum dari wahyu: tetap, tidak tunduk pada kepentingan, dan tidak berubah oleh kekuasaan.

“Maka ini bukan pilihan teknis yang bersifat netral. Melainkan garis batas bagaimana seharusnya kaum Muslim diurus. Mau taat atau tersesat,” tandasnya.

Om Joy mengutip firman Allah SWT yakni, “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata” (QS al-Ahzab: 36).
.
Setelah ini, terang Om Joy, tidak ada lagi ruang abu-abu: tunduk pada hukum Allah, atau tetap bertahan pada hukum manusia. “Anda di posisi yang mana?” pungkasnya.[] Muhammad Nur

Loading

Views: 20

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA