FoCus: Menikah dan Memiliki Anak, Lebih dari Sekadar Matematika Ekonomi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Analis Politik Forum of Contemporary Ummah Studies (FoCUS) Iwan Januar mengatakan bahwa menikah dan memiliki anak, lebih dari sekadar matematika ekonomi.

“Menikah dan memiliki anak lebih dari sekedar matematika ekonomi,” tuturnya kepada Tinta Media, Kamis (22/1/2026).

“Lebih dari bicara pendapatan dan pengeluaran rumah tangga,” imbuhnya.

Menurut Iwan, ada hal yang harus dibenahi dari fondasi kehidupan hari ini; yakni memantapkan akidah/keyakinan. Sebab kehidupan ini memang tegak di atas suatu asas kehidupan.

“Tidak ada asas kehidupan yang menjadikan hidup seorang manusia dan keluarga tetap kokoh berdiri melainkan akidah Islam/keimanan,” ujarnya.

“Mulai soal jodoh, memiliki anak, kesehatan, rezeki sampai ajal dibangun di atas asas iman pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” tegasnya.

Ia mengingatkan, hanya Allah yang Maha menjamin kehidupan semua makhluk-Nya. “Dialah Ar-Razaq, Maha Pemberi rizki, Maha Menyempitkan juga Maha Melapangkan rizki. Bila Dia sudah memberi maka tak ada yang bisa mencegah, namun bila Dia sudah menahan maka tak ada yang bisa memberi,” terangnya.

Ia kemudian mengutip hadits yang artinya “Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak ada yang bisa menolak ketetapan-Mu. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya. Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan. (HR. Ahmad),” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa mungkin terdengar klise atau mengawang-awang bicara soal finansial dikaitkan dengan akidah atau rezeki, tapi faktanya tidak.

“Bukan manusia yang menurunkan hujan dari langit, bukan manusia juga yang bisa menolak musibah seperti mendatangkan pandemi. Kita bisa membuat perencanaan keuangan tapi Allah yang punya takdir atau keputusan,” tukasnya.

“Orang yang berkeluarga dan memiliki anak bukan orang yang nekat, gegabah dan minus usaha. Mereka adalah orang-orang yang berkeyakinan kalau Allah Maha Penolong dan memudahkan segala langkah hamba-Nya,” ungkapnya.

Iwan memandang bahwa orang beriman juga akan melatih diri menjadi orang-orang yang zuhud, jauh dari sikap hedonis. Mengajari diri agar menjadi _abdan syakuro_. Hamba yang pandai mensyukuri setiap nikmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, baik yang kecil apalagi yang besar.

“Ketika rezeki sedang Dia sempitkan mereka bersabar dan berprasangka baik pada Allah. Ketika rezeki dilapangkan mereka bersyukur dan menggunakan rezeki itu di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” bebernya.

“Pasangan suami-istri yang beriman bukan manusia yang fatalistik, orang yang nol perencanaan dan usaha, dan menyerahkan semuanya pada Allah. Mereka juga punya perencanaan dalam memiliki anak namun tetap yakin Allah Maha berkehendak,” terangnya.

Ia melihat bahwa urusan pernikahan dan keluarga tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab negara. Utamanya ketika bicara jaminan kehidupan seperti sekolah yang bermutu namun terjangkau oleh rakyat, apalagi gratis dan tersedia beasiswa. Sama seperti fasilitas kesehatan yang dapat diakses oleh setiap warga dengan mudah dan murah.

“Itulah peran negara. Sehingga beban kehidupan untuk rakyat semakin terasa ringan karena negara berperan besar dan aktif dalam mengurus rakyatnya,” tandasnya.

Ia lanjut memaparkan bahwa dalam kehidupan Islam yang melaksanakan syariat Islam dalam naungan Khilafah, pendidikan dan kesehatan adalah tanggung jawab negara. Dibiayai bukan dari pajak, tetapi dari berbagai pos pendapatan negara seperti hasil sumber daya alam, ghanimah, sedekah.

“Saat negara absen mengurus rakyat, maka kehidupan keluarga selalu insecure karena beban biaya hidup yang tinggi. Anak-anak muda pun takut untuk menikah. Sementara yang sudah menikah pun pikir-pikir untuk punya anak apalagi menambah jumlah anak,” paparnya.

Ia mempertanyakan bagaimana kalau persoalan ini tidak diselesaikan dan negara tidak turun tangan?

“Dua kemungkinannya; pertama, populasi penduduk Indonesia bakal menurun dan itu tidak baik untuk suatu negara. Kedua, mungkin angka pernikahan menurun tapi angka hubungan seks di luar nikah justru akan meningkat bahkan dilakukan oleh remaja usia belasan tahun. Dua-duanya sama-sama masalah besar untuk negeri ini,” jelasnya.

Maka, pesan Iwan, jangan sampai menikah dan punya anak menjadi privilege untuk orang-orang tertentu saja.

“Menikah dan punya anak adalah hak setiap warga negara. Hak setiap muslim bahkan amal saleh yang luar biasa,” pungkasnya.[] Ajira

Loading

Views: 35

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA