Jurnalis: Masalah Terbesar Indonesia adalah Visi Peradaban

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Jurnalis Senior Joko Prasetyo (Om Joy), menilai masalah terbesar Indonesia adalah visi peradaban.

“Masalah utamanya bukan sekadar kurang senjata. Masalah terbesar justru: visi peradaban,” tuturnya kepada Tinta Media, Kamis (28/5/2026).

Padahal, tandasnya, sejarah menunjukkan: bangsa besar lahir bukan sekadar karena kaya sumber daya, tetapi karena memiliki visi peradaban yang kuat.

“Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam pendahuluan 𝑁𝑖𝑧ℎ𝑎𝑚 𝑎𝑙-𝐼𝑞𝑡𝑖𝑠ℎ𝑎𝑑𝑖 𝑓𝑖 𝑎𝑙-𝐼𝑠𝑙𝑎𝑚 (Sistem Ekonomi Islam) karya beliau (1953) menjelaskan, kebangkitan hakiki suatu umat bukan dibangun pertama-tama oleh kekayaan materi, tetapi oleh kekayaan pemikiran yang melahirkan arah hidup, sistem, dan peradaban. Karena itu, negeri yang kaya sumber daya tetapi miskin pemikiran tetap mudah didominasi,”

Apalagi, Om Joy menilai,, Indonesia sesungguhnya tidak miskin kekuatan. Indonesia memiliki: cadangan nikel terbesar dunia, emas, batu bara, gas, jalur laut strategis, bonus demografi, populasi Muslim terbesar, wilayah luas, dan posisi geopolitik yang sangat penting.

Hal ini disampaikan Om Joy sebagai respon terhadap pernyataan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra, dalam seminar nasional di Universitas Negeri Surabaya, Selasa 19 Mei 2026, yang mengingatkan Indonesia bisa menjadi target Amerika Serikat karena kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.

“Kita dalam kondisi tidak siap perang, hitung berapa kekuatan militer kita, kalau kita perang paling cuma bisa 4 hari,” ucapnya mengutip pernyataan Yusril.

Pernyataan Yusril tersebut, jelas Om Joy, memang realistis bila dilihat dari ketimpangan militer global. Namun di sisi lain, ucapan tersebut juga memperlihatkan cara pandang negara modern yang terlalu lama dididik menjadi bangsa konsumen, bangsa pasar, dan bangsa yang kehilangan arah politik peradaban.

“Selama puluhan tahun Indonesia dibangun dalam sistem kapitalisme global yang menjadikan negeri ini lebih sering berfungsi sebagai: pemasok bahan mentah, pasar konsumsi, sumber tenaga kerja, dan objek perebutan pengaruh geopolitik dunia,” terangnya.

Akibatnya, lanjut Om Joy, kekayaan besar tidak otomatis melahirkan kemandirian besar. Sumber daya alam melimpah, tetapi teknologi strategis bergantung.

“Jumlah penduduk besar, tetapi arah politik tercerai. Mayoritas Muslim, tetapi Islam dipinggirkan hanya menjadi urusan spiritual pribadi,” ucapnya prihatin.[] ‘Aziimatul Azka

Loading

Views: 24

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA