Pakar Kehutanan Ungkap Penyebab Karhutla Tak Kunjung Padam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Pakar Kehutanan Ungkap Penyebab Karhutla Tak Kunjung Padam

Tinta Media – Pakar Kehutanan Agung Wibowo mengungkapkan penyebab karhutla di Kalimantan tidak kunjung padam.

“Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan adalah kebakaran bawah atau kebakaran gambut yang terjadi di bawah permukaan tanah yang sulit dipadamkan,” ujarnya dalam rubrik Fokus: Karhutla, Mengapa Terus Berulang? di kanal YouTube UIY Official, Ahad (18/10/2026).

Kebakaran bawah ini, urainya, adalah kebakaran yang terjadi di lahan gambut atau rawa yang diapit sungai. Saat tumbuhan mati rebah lalu masuk rawa, kayu-kayu tersebut tidak terurai atau terdekomposisi secara sempurna.

“Melapuknya kayu yang tidak sempurna, di atasnya tumbuh pohon rawa lagi begitu seterusnya dalam waktu lama membentuk semacam kubah dari tumpukan kayu dan bahan-bahan organik lainnya. Bahan organik ini unsur utamanya adalah karbon yang menjadi bahan bakar yang sangat berbahaya saat ada api. Maka saat gambut dikeringkan, dia akan mudah terbakar dan sangat sulit dipadamkan,” bebernya.

Selain itu, lanjutnya, yang terjadi di lapangan itu jauh besar karena ada El Nino Godzilla yang terjadi pada bulan September di mana Indonesia tidak mendapatkan curah hujan yang memadai karena curah hujannya dibawa ke Afrika dan Amerika

“El Nino ini ada pengaruhnya. Namun pemicu kebakaran itu adalah perilaku yang dilakukan manusia itu sendiri. Kebakaran-kebakaran itu tidak terjadi begitu saja. Kebakaran itu terjadi utamanya adalah karena konsesi hutan ataupun pemberian Hak Guna Usaha (HGU) kepada perkebunan dengan mengeringkan lahan gambut,” imbuhnya.

Ia menyarankan, agar tidak terjadi lagi kebakaran lahan gambut, dilakukan 3R yaitu rewetting (membasahi), replanting atau revegatation (menanam kembali), dan revitalization (revitalisasi ekonomi yang ramah gambut).

Terakhir, ia melihat, untuk mencegah dan mengatasi kebakaran ini tidak cukup dengan 3R, namun butuh visi dari para pembuat peraturan yang menyentuh aspek-aspek sosial yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.

“Visi kebijakan dan peraturan seharusnya menyentuh aspek-aspek lingkungan yang diperlukan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Pilihan ada di tangan kita, apakah tetap mempertahankan keadaan ini ataukah mulai berpikir untuk mencari solusi agar setiap musim kemarau tidak mengalami kebakaran lagi,” pungkasnya.[] Erlina

Loading

Views: 5

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA