FoCUS: Pemangkasan Anggaran Perpusnas Kian Suramkan Masa Depan Pendidikan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Analis dari Forum of Contemporary Ummah Studies (FoCUS), Iwan Januar, menilai harapan mewujudkan Indonesia sebagai negara yang gemilang melalui pendidikan semakin suram menyusul pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

“Harapan untuk melihat Indonesia sebagai negara yang gemilang dengan pendidikan semakin gelap setelah pemerintah memangkas anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas),” tuturnya kepada Tinta Media, Senin (20/7/2026).

Iwan menjelaskan, pada tahun ini Perpusnas hanya memperoleh alokasi anggaran sebesar Rp377,9 miliar, turun hampir setengah dari anggaran tahun sebelumnya yang mencapai Rp721 miliar. Menurutnya, anggaran pada 2025 pun sebelumnya telah mengalami efisiensi.

Ia menilai pemangkasan anggaran tersebut berpotensi memengaruhi berbagai layanan Perpusnas, termasuk program bantuan buku kepada masyarakat.

“Tentu pemotongan anggaran ini berdampak pada layanan bantuan buku dari Perpusnas,” ujarnya.

Dalam Islam

Dalam pandangannya, Islam justru menunjukkan pentingnya literasi sebagai fondasi kemajuan peradaban. Ia menegaskan bahwa sejarah mencatat Islam telah mengubah peradaban manusia dengan membangun tradisi membaca dan menuntut ilmu.

“Sejarah mencatat Dunia Islam berabad-abad menjadi sumber peradaban dan ilmu bagi dunia,” sambungnya.

Menurut Iwan, sejak awal kedatangannya Islam telah mendorong umat manusia untuk membaca dan belajar. Ia menyebut ayat pertama yang diturunkan berisi perintah membaca sebagai bukti bahwa Islam menumbuhkan budaya belajar dan literasi.

Selain itu, ucapnya, Rasulullah SAW menekankan budaya belajar pada kaum muslimin, sehingga bangsa Arab yang semula tidak terbiasa dengan baca-tulis berubah jadi umat yang cerdas dan melahirkan banyak intelektual.

Ia menambahkan, ajaran Islam kemudian melahirkan budaya literasi yang kuat sehingga membaca, menulis, dan menghasilkan karya menjadi bagian dari kehidupan umat. Selain itu, negara juga berperan memfasilitasi berkembangnya budaya literasi.

Iwan menyebut terdapat sejumlah kebijakan para khalifah yang memperkuat tradisi literasi. Di antaranya mendorong pendidikan seluas-luasnya bagi masyarakat, memberikan penghargaan dan bayaran yang tinggi kepada guru, ulama, dan penulis, membangun pabrik kertas serta percetakan untuk memudahkan penerbitan buku, hingga mendirikan perpustakaan-perpustakaan besar dengan koleksi yang melimpah.

Ia mencontohkan, pada abad ke-10 di Andalusia terdapat 20 perpustakaan umum. Sementara Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo memiliki koleksi sekitar 2 juta judul buku, sedangkan Perpustakaan Umum Tripoli di Syam menyimpan sekitar 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar Al-Qur’an dan kitab tafsir.

Menutup keterangannya, Iwan menilai budaya literasi merupakan bagian dari peradaban dan ideologi suatu bangsa.

“Dalam hal ini Islam adalah satu-satunya ideologi yang begitu kuat menanamkan budaya literasi pada umatnya,” pungkasnya.[] Muhammad Nur

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA