Tinta Media – Jurnalis Senior Joko Prastyo atau yang akrab disapa Om Joy menyampaikan bahwa tugas editor ideologis adalah mengemban amanah dakwah.
“Editor bukan sekadar merapikan tulisan. Ia mengemban amanah dakwah,” catatnya dalam unggahan berjudul “Tugas Editor Itu…” di akun Facebook pribadinya, Ahad (28/6/2026).
Caranya, yaitu menurut Om Joy dengan menjaga pesan tetap utuh, jelas, dan mudah dipahami.
Jadi lanjutnya, editor itu mengedit untuk memperjelas, bukan untuk mengubah. “Memadatkan untuk menguatkan, bukan untuk mengurangi,” imbuhnya.
Om Joy kemudian menjelaskan, agar pesan narasumber tersampaikan secara utuh dan mudah dipahami, terdapat sembilan karakteristik yang mesti diperhatikan dan dipenuhi oleh seorang editor ketika mengedit sebuah tulisan yang masuk ke meja redaksi.
Pertama, kata Om Joy, adalah zero addition, yaitu tidak menambahkan opini, fakta, atau penekanan baru.
Kedua, zero distortion, yakni tidak mengubah sedikit pun maksud narasumber.
Ketiga, sebutnya, pemangkasan agresif, yaitu menghilangkan pengulangan, bukan menghilangkan substansi.
Keempat, ramah pembaca awam. Istilah teknis dijelaskan saat pertama kali muncul.
Kelima, kalimat padat, seperlunya tanpa kehilangan makna.
Keenam, lanjutnya, paragraf pendek agar nyaman dibaca di gawai.
Ketujuh, transisi halus, yakni antarparagraf dan antaride mengalir alami.
Kedelapan, ritme jurnalistik, yaitu setiap bagian tulisan mendorong pembaca terus membaca.
Kesembilan, siap terbit. Om joy menekankan, hasil akhir bukan sekadar ringkasan, tetapi naskah yang layak dipublikasikan.
“Editor menjaga amanah, bukan mengubah makna,” tutupnya mengakhiri.[] Muhar
![]()
Views: 6
















