Tinta Media – Pemanasan global menyebabkan pencairan es di kawasan Arktik. Pencairan es ini terjadi secara drastis sejak akhir tahun 1970-an. Para ilmuwan memperkirakan Arktik dapat mengalami musim panas pertama tanpa es pada rentang tahun 2027 hingga 2030. Bahkan, luas es mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada tahun 2012.
Kawasan Arktik telah menjadi wilayah penting bagi dunia. Pencarian rute yang lebih pendek dari Atlantik ke Asia telah menjadi mimpi dan target kekuatan maritim selama berabad-abad. Pencairan es Arktik meningkatkan peluang penghematan waktu pelayaran hingga beberapa hari dan memangkas jarak tempuh hingga ribuan kilometer di antara blok-blok perdagangan utama. Es yang semakin surut berpotensi membuka rute baru serta meningkatkan lalu lintas laut di kawasan tersebut.
Sumber daya alam Arktik sangat melimpah, meliputi minyak, gas alam, mineral berharga (nikel, platinum, berlian, logam tanah jarang, dan bijih besi), hutan boreal yang luas, air tawar (sekitar seperlima pasokan air tawar dunia), serta kehidupan laut yang kaya, seperti ikan, paus, dan beruang kutub.
Model Politik Luar Negeri AS
Presiden AS, Donald Trump, berambisi menduduki bahkan menguasai Greenland, yang merupakan bagian wilayah Denmark. Padahal, Denmark adalah negara sekutu AS. Greenland sendiri merupakan wilayah otonomi Denmark yang strategis dan kaya sumber daya alam. Kenyataannya, ambisi AS tersebut telah memicu penolakan keras dari para pemimpin Eropa, termasuk pemimpin Denmark sendiri (Verfassungsblog, 26/01/2026).
AS sebagai negara adidaya pengusung kapitalisme bersikeras ingin memperoleh Greenland dengan satu motif utama, yaitu kepentingan ekonomi yang menjanjikan. Presiden Trump tidak hanya menolak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer, tetapi juga berulang kali menegaskan ambisinya untuk mencaplok Greenland. Hal ini mengubah apa yang sebelumnya mungkin dianggap sebagai provokasi retorika menjadi skenario geopolitik yang nyata.
Presiden Donald Trump bahkan mengancam akan memberlakukan tarif impor tambahan kepada negara-negara yang tidak mendukung upaya AS mencaplok Greenland. Ia menegaskan bahwa pulau terbesar di dunia tersebut harus dikuasai demi keamanan nasional AS, mengingat meningkatnya kehadiran China dan Rusia di kawasan Arktik (Stockbit, 19/01/2026).
AS dituduh menggunakan berbagai cara untuk menguasai sumber daya alam negara lain, termasuk perebutan wilayah yang berujung pada pelanggaran hukum internasional. Pernyataan ini mencerminkan kritik terhadap kebijakan luar negeri AS, yang kerap menjadi subjek perdebatan karena motif ekonomi dan militernya.
Negara-negara di dunia yang berada di bawah kendali AS dan ideologi kapitalisme telah menjadi terjajah, lemah, dan menderita, termasuk umat Islam. Faktanya, sistem kapitalisme sangat tidak relevan dengan kondisi manusia. Sistem ini melahirkan keserakahan melalui praktik eksploitasi sumber daya alam secara intensif dan berlebihan demi keuntungan maksimal, sekaligus melemahkan akal dan mematikan fitrah manusia.
Islam Memancarkan Sistem Politik Luar Negeri yang Mulia
Islam memancarkan sistem politik luar negeri negara yang hanya dapat terwujud di bawah naungan Khilafah. Politik luar negeri Islam sangat berbeda, yakni bertujuan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia melalui perluasan pengaruh dan wilayah. Politik ini juga menjunjung tinggi martabat setiap individu, mengedepankan kepentingan terbaik umat Islam, serta mewujudkan perdamaian dunia berdasarkan prinsip-prinsip syariah tanpa terikat pada blok tertentu.
Implementasi politik luar negeri ini diwujudkan melalui beberapa cara. Pertama, diplomasi, di antaranya melalui surat-menyurat, perundingan, dan dialog, sebagaimana dicontohkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kedua, perjanjian damai, yaitu mengadakan perjanjian dengan negara lain (kafir _mu‘ahid) berdasarkan kebutuhan dan asas saling menguntungkan, dengan syarat tidak merugikan umat Islam. Ketiga, penggunaan kekuatan militer bila diperlukan, yakni dengan tidak menjalin hubungan diplomatik dengan negara yang secara langsung memusuhi atau memerangi Islam. Hal ini bertujuan menghilangkan penghalang dakwah dan melindungi umat.
Tujuan utama dari strategi ini adalah meraih keridaan Allah Swt. dan mewujudkan kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, sudah saatnya mengganti sistem kapitalisme buatan manusia dengan sistem Islam yang bersumber dari wahyu Ilahi. Wallahualam bissawab.
Oleh: Lulu Sajiah, S.Pi.,
Pemerhati Agromaritim
![]()
Views: 27
















