Tinta Media – Bahaya seorang pemimpin yang haus pujian adalah ketika ia mengambil keputusan karena dorongan sanjungan. Ia bersikukuh pada keputusan yang salah meskipun banyak masukan dari rakyat yang tidak setuju dengan keputusannya untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP). Apalagi setelah mendapat pujian dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang memuji ketegasan Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan BoP di Washington, D.C., Kamis (19/2) waktu setempat. Ia lupa bahwa setiap keputusannya membawa nama rakyat Indonesia. Trump menyebut Prabowo sebagai figur pemimpin yang tangguh, cerdas, dan dihormati. Haus pujian dapat membuat seseorang lupa diri dan tidak menyadari bahwa justru dirinya yang menjadi antek asing—tuduhan yang kerap dialamatkan kepada suara-suara kritis yang tidak sepakat dengan kebijakannya.
Pujian dapat mengubah sosok yang dahulu dijuluki “Macan Asia” menjadi tunduk pada agenda politik Amerika dan Israel yang terbukti melanggengkan penjajahan di Gaza, Palestina. Untuk memahami bahwa keputusan bergabung dengan BoP adalah keliru, kata Ustaz Felix, tidak perlu menjadi orang yang sangat cerdas, cukup mampu berpikir waras. BoP dibentuk bukan untuk kemerdekaan Palestina, melainkan penjajahan dengan dalih menciptakan perdamaian dunia. Pujian sering membuat seseorang tuli, bisu, dan buta sehingga tidak mampu melihat kesalahannya sendiri dan kelu untuk menyuarakan kebenaran.
“Asal bapak senang”, itulah yang kerap dilaporkan bawahan atas program-program unggulan yang dijalankan. Pujian membuat pemimpin lupa diri sehingga tidak ada evaluasi atas pelaksanaan di lapangan. Ribuan anak yang keracunan dianggap kecil jumlahnya dibandingkan mereka yang menerima program MBG. Kasus anak bunuh diri pun dianggap biasa dan tertutupi oleh keberhasilan yang terus digaungkan oleh para pemuji.
Kita harus belajar dari kepemimpinan Umar bin Khaththab yang memiliki kerendahan hati, tanggung jawab, dan sifat amanah dalam melayani rakyatnya secara langsung. Beliau tidak begitu saja percaya pada laporan yang diterima, apalagi jika semuanya terkesan baik-baik saja. Ia terbiasa melakukan patroli malam bukan untuk pencitraan, melainkan untuk memastikan kesejahteraan rakyatnya. Dalam suatu patroli malam, Umar menemukan seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang menangis kelaparan. Ia segera kembali ke baitulmal, mengambil gandum dan minyak, lalu memanggulnya sendiri ke rumah ibu tersebut. Bahkan, beliau memasak sendiri makanan itu hingga anak-anak tersebut kenyang dan tertawa.
Di zaman yang serba digital seperti saat ini, seharusnya lebih mudah bagi pemimpin untuk melihat kondisi rakyat yang sebenarnya. Tidak perlu lagi patroli malam; cukup dengarkan suara rakyat yang bertebaran di media sosial. Kerendahan hati dan sifat amanah untuk mau mendengar suara rakyat sangat diperlukan agar dapat mengambil kebijakan yang prorakyat. Namun, pujian dari para penjilat sering menutup mata, telinga, dan hati para pemimpin yang haus pujian. Dianggap hebat dan terhormat membuatnya lupa diri dan tidak lagi berpihak pada rakyat. Ia menuduh suara kritis yang tidak setuju dengan kebijakannya sebagai antek asing dan pemecah belah bangsa, padahal dirinya sendiri yang justru tidak menyadarinya. Pujian dan penghormatan sering membuat pemimpin lupa akan jati dirinya sebagai pelayan rakyat. Pemimpin yang haus pujian akan bekerja untuk mereka yang pandai menjilat, bukan untuk rakyat. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 36
















