Tinta Media – Fenomena fatherless atau ketiadaan figur ayah, baik secara fisik maupun psikis, kini menjadi persoalan sosial yang makin mencuat di Indonesia. Di tengah gegap gempita perkembangan zaman dan meningkatnya tekanan ekonomi, jutaan anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah yang berperan penuh dalam kehidupannya.
Kondisi ini tak hanya menjadi perhatian para ahli psikologi dan pemerhati anak, tetapi juga meningkatkan kesadaran mengenai akar masalahnya, yaitu sistem kehidupan kapitalistik-sekuler yang telah menggerus peran keluarga, khususnya ayah.
Berdasarkan survei dari Kompas.id, seperlima anak di Indonesia mengalami fatherless dan ini terjadi karena beberapa alasan, seperti perceraian, ayah bekerja di luar kota, tidak ada kedekatan atau komunikasi ayah dengan anak, kekerasan dalam rumah tangga, kematian ayah, dll. Menurut psikolog, dampak yang dirasakan anak dari hilangnya peran ayah adalah rasa minder, emosi yang labil, ada pula kenakalan remaja, dan sulit berinteraksi sosial. (Kompas.id, 10/10/2025)
Menurut berbagai penelitian dan laporan media nasional, fenomena fatherless di Indonesia ini tergolong mengkhawatirkan. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat peningkatan signifikan dalam kasus anak dengan masalah emosional dan perilaku yang sebagian besar dipengaruhi oleh ketiadaan peran ayah.
Sejalan dengan hal tersebut, tagar.co (08/10) menyampaikan yang menjadi penyebab banyaknya fatherless di Indonesia adalah karena budaya patriarki dan tuntutan ekonomi. Patriarki yang menanamkan nilai bahwa ayah yang baik adalah ayah yang mampu menafkahi. Nilai ini terdengar baik, tetapi banyak yang salah paham dan mengartikan bahwa peran ayah sudah ‘lunas’ apabila ia mampu memberi materi saja.
Fenomena ini juga mendapat banyak tanggapan dari publik. Di satu sisi, banyak yang menganggapnya sebagai konsekuensi wajar dari dinamika kehidupan modern, di mana tuntutan ekonomi memaksa orang tua, terutama ayah, bekerja lebih keras. Namun di sisi lain, muncul kritik bahwa sistem ekonomi dan sosial yang berlaku justru menormalisasi absennya peran ayah dalam keluarga.
Buah Sistem Kapitalisme Sekuler
Fenomena fatherless tumbuh dari akar sistem kapitalisme sekuler yang menempatkan manusia dalam logika ekonomi yang kering dari nilai spiritual dan moral. Dalam kapitalisme, kesuksesan diukur dari materi, bukan dari keberhasilan membentuk generasi berakhlak dan berkarakter. Para ayah pun terjebak dalam roda kehidupan yang memaksa mereka bekerja tanpa henti demi memenuhi kebutuhan hidup hingga kehilangan waktu untuk hadir secara emosional bagi anak-anak mereka.
Kesibukan mencari nafkah menjadi penyebab dominan dari absennya figur ayah dalam kehidupan anak. Banyak ayah harus bekerja di luar kota, lembur hingga larut malam, atau bahkan merantau ke luar negeri. Akibatnya, anak kehilangan panutan dan kedekatan emosional dengan figur ayah. Anak mungkin masih memiliki ayah secara biologis, tetapi secara psikologis mereka tumbuh tanpa bimbingan dan keteladanan.
Dalam sistem kapitalistik, peran ayah direduksi sebatas mesin pencari nafkah. Nilai-nilai kekeluargaan digantikan oleh tuntutan produktivitas. Rumah tangga pun kehilangan keseimbangannya. Ibu sering kali harus memikul beban ganda, mengurus rumah sekaligus mengisi kekosongan emosional anak akibat ketidakhadiran ayah. Pada akhirnya, pola asuh menjadi timpang dan berdampak panjang terhadap tumbuh kembang anak.
Dampak Sosial dan Psikologis
Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah cenderung mengalami gangguan dalam pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan kontrol emosi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa fatherless generation lebih rentan terhadap perilaku menyimpang, kecanduan, dan kesulitan dalam membangun relasi sosial yang sehat.
Ayah adalah figur pertama yang mengajarkan disiplin, tanggung jawab, dan perlindungan. Jika fungsi itu hilang, anak kehilangan kompas moral dan emosionalnya. Seiring dengan perkembangan zaman, media sosial kini hadir menjadi wadah bagi anak-anak fatherless untuk mencurahkan isi hatinya.
Media sosial kini menjadi wadah bagi anak-anak fatherless untuk mencari validasi dan dukungan. Tagar seperti #FatherlessGeneration dan #HealingInnerChild kerap viral, menandakan banyaknya anak muda yang tumbuh dengan luka batin serupa. Namun, kita harus bisa melihat fakta di balik fenomena ini bahwa ada struktur keluarga yang tergantikan oleh individualisme dan kesibukan ekonomi.
Hilangnya Fungsi Qawwam
Dalam pandangan Islam, kondisi fatherless ini sejatinya menunjukkan hilangnya fungsi qawwam, yakni peran ayah sebagai pelindung, penanggung jawab, dan pemimpin keluarga. Allah Swt. berfirman dalam QS an-Nisa: 34, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka…”
Ayah seharusnya menjadi sosok teladan dan sumber rasa aman bagi anak. Ia bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pendidik yang menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual dalam kehidupan keluarga. Kisah Luqman Al-Hakim menjadi contoh ideal bagaimana seorang ayah memberikan nasihat dan teladan bagi anaknya. Dalam pandangan Islam, tanggung jawab pendidikan anak tidak hanya berada di pundak ibu, tetapi juga ayah yang harus aktif membimbing, mengarahkan, dan menyayangi.
Solusi dalam Sistem Islam
Islam memberikan konstruksi sosial yang menempatkan peran ayah dan ibu secara proporsional. Ayah berperan sebagai qawwam, yaitu pemimpin, pelindung, dan penafkah keluarga. Ibu berperan dalam pengasuhan, pendidikan awal, dan manajemen rumah tangga. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk keluarga yang harmonis dan berkeadilan.
Negara dalam sistem Islam juga memiliki kewajiban untuk mendukung peran ayah. Negara harus menjamin tersedianya lapangan kerja yang layak, memberikan upah yang cukup, serta memastikan kesejahteraan keluarga sehingga para ayah tidak harus mengorbankan waktu bersama anak demi bertahan hidup. Dengan demikian, keseimbangan antara kerja dan keluarga bisa tercapai dan fungsi pendidikan dalam rumah tangga dapat berjalan optimal.
Selain itu, sistem perwalian dalam Islam memastikan setiap anak memiliki figur ayah atau wali yang bertanggung jawab atasnya, baik secara moral maupun finansial. Hal ini mencegah terjadinya kekosongan figur ayah yang berdampak buruk pada perkembangan anak.
Fenomena fatherless adalah cermin dari krisis peran keluarga dalam sistem kehidupan modern. Di balik tuntutan ekonomi dan gaya hidup modern yang serba cepat, anak-anak kehilangan figur penting yang seharusnya menjadi sumber kasih sayang dan keteladanan. Islam menawarkan solusi dengan menata kembali peran keluarga, mengembalikan fungsi ayah sebagai qawwam, dan memastikan negara hadir untuk menjamin kesejahteraan keluarga. Sejatinya, membangun generasi yang kuat tidak cukup dengan materi, melainkan dengan kehadiran dan keteladanan seorang ayah yang mendidik dengan cinta dan tanggung jawab. Wallahualam bissawab.
Oleh: Sabna Balqist Budiman,
Sahabat Tinta Media
Views: 11
















