Generasi Lemah Akibat Konten Merusak di Ruang Digital

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Hari ini kita hidup di zaman ketika anak-anak dan remaja lebih akrab dengan layar ponsel daripada buku fisik (Kompasiana.com, 5/12/2025). Ruang digital telah menjadi dunia kedua bagi mereka—tempat belajar, bermain, mencari hiburan, bahkan membangun identitas diri (Kompas.id, 21/11/2025). Di satu sisi, teknologi menghadirkan berbagai kemudahan. Namun di sisi lain, justru di ruang inilah racun-racun berbahaya menyusup dan melemahkan generasi sedikit demi sedikit, sering kali tanpa disadari.

 

Bukan rahasia lagi bahwa media sosial dan platform digital dipenuhi konten yang merusak generasi muda. Konten vulgar, ekstrem, penuh kekerasan, ajakan berjudi, promosi pinjaman online, hingga propaganda pemikiran yang menyesatkan hadir begitu mudah. Semua itu tampil di layar kecil yang hampir tak pernah lepas dari genggaman mereka, siang dan malam.

 

Sebagai pendidik generasi, saya menyaksikan langsung bagaimana paparan digital membentuk karakter, cara berpikir, bahkan cara beragama anak-anak dan remaja. Mereka belajar banyak hal dari dunia maya. Sayangnya, tidak semua yang mereka serap itu benar atau sehat. Tak sedikit anak yang akhirnya tumbuh dengan kepribadian ganda: tampak baik di dunia nyata, tetapi liar di dunia digital; tampak beragama, tetapi berpikir sekuler; tampak kuat, padahal sesungguhnya rapuh dan mudah tercabut dari nilai.

 

Kita tengah menghadapi generasi yang hidup dalam dua realitas: dunia nyata dan dunia digital. Ironisnya, realitas digital sering kali lebih dominan dan lebih kuat menarik perhatian mereka.

 

Teknologi: Anugerah yang Bisa Menjadi Bencana

 

Kemajuan teknologi pada dasarnya bukanlah masalah. Kita semua merasakan manfaatnya—akses belajar lebih mudah, informasi lebih cepat, dan komunikasi lebih lancar. Namun, teknologi yang tidak dikelola dengan visi yang benar dapat berubah menjadi sumber bencana.

 

Hari ini, anak-anak dapat terpapar konten pornografi hanya dengan satu klik. Mereka bisa masuk ke situs judi online tanpa verifikasi yang ketat. Mereka rentan mengalami perundungan siber tanpa ruang aman untuk berlindung. Mereka dapat berinteraksi dengan orang asing yang berniat buruk. Bahkan yang lebih berbahaya, mereka terseret konten moderasi beragama yang memisahkan Islam dari kehidupan.

 

Paparan semacam ini tidak membutuhkan waktu lama untuk meninggalkan luka. Sebagian anak menjadi kecanduan, sebagian tumbuh apatis, sebagian kehilangan arah hidup, dan sebagian lainnya memiliki pemahaman agama yang melenceng. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa hari ini, tetapi akan muncul besar di masa depan. Tidak jarang anak tampak baik-baik saja secara fisik, namun batinnya porak-poranda akibat racun digital yang dikonsumsinya setiap hari. Mereka hadir secara jasad, tetapi kehilangan keutuhan berpikir dan pegangan hidup.

 

Ketika Negara Tidak Hadir Mengawal Ruang Digital

 

Ruang digital hari ini jelas bukan ruang yang aman bagi generasi. Dalam sistem sekuler, negara lebih sering berperan sebagai penonton ketimbang pelindung. Regulasi yang lemah, pengawasan yang tidak serius, serta kebijakan reaktif yang baru muncul setelah kasus terjadi membuat anak-anak terus berada dalam ancaman.

 

Platform asing bebas masuk membawa ideologi, budaya, dan nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam. Tidak ada filter yang ketat dan tidak ada visi besar penyelamatan generasi. Upaya yang dilakukan sering kali bersifat teknis semata, seperti pemblokiran sementara atau kampanye literasi digital yang tidak menyentuh akar persoalan. Selama negara berdiri di atas paradigma sekuler, selama itu pula ruang digital dibiarkan menjadi pasar bebas yang mengutamakan kebebasan akses dibanding keselamatan generasi.

 

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan mendalam. Bukan hanya soal anak-anak hari ini, tetapi tentang masa depan sebuah bangsa. Generasi yang rapuh tidak akan mampu memikul amanah besar, tidak siap menjadi pemimpin, dan tidak cukup kuat mempertahankan identitas Islamnya.

 

Islam Punya Solusi: Negara sebagai Pelindung Generasi

 

Berbeda dengan sistem sekuler, dalam sistem Islam negara hadir sebagai raa‘in (pengurus) dan junnah (pelindung). Fokusnya bukan mengikuti arus global, melainkan menyelamatkan generasi dan menjaga akidah umat.

 

Dalam Khilafah, negara bertanggung jawab memastikan seluruh kebijakan—termasuk kebijakan digital—berorientasi pada perlindungan rakyat, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Ruang digital tidak dibiarkan menjadi “hutan liar”. Negara menerapkan pengawasan ketat dengan teknologi terbaik untuk mencegah masuknya konten merusak.

 

Konten pornografi, judi online, propaganda sekuler liberal, serta berbagai kejahatan digital diblokir secara total, bukan sekadar diperingatkan. Lebih dari itu, ruang digital diarahkan menjadi sarana pendidikan, dakwah, dan penguatan karakter generasi. Negara tidak hanya menyaring, tetapi juga menghadirkan konten alternatif yang sehat, mendidik, dan membangun.

 

Khilafah memandang anak-anak dan remaja sebagai aset umat, bukan target pasar industri digital. Karena itu, kebijakannya bersifat tegas, visioner, dan berpihak pada masa depan umat. Penegakan syariat Islam secara kafah juga menutup akar-akar munculnya konten merusak, seperti industri pornografi, riba, perjudian, kapitalisasi konten, serta paham-paham perusak iman—sesuatu yang mustahil diwujudkan dalam sistem sekuler.

 

Menyelamatkan Generasi Dimulai dari Sistem yang Benar

 

Perubahan tidak cukup hanya dengan nasihat, imbauan, atau program literasi digital. Semua itu penting, tetapi tidak memadai. Yang dibutuhkan adalah sistem yang kuat, ideologis, dan berpihak pada penyelamatan generasi.

 

Sebagai pendidik, saya mendambakan generasi yang berakidah lurus, berkarakter kukuh, dan berpemikiran jernih. Generasi yang siap menjadi pemimpin masa depan dan tidak mudah digoyahkan arus global. Untuk itu, dibutuhkan negara yang hadir secara total, bukan setengah-setengah. Diperlukan sistem Islam kafah—sistem yang tidak hanya membatasi, tetapi membangun; tidak hanya menyaring, tetapi mengarahkan; tidak hanya mengatur, tetapi menumbuhkan kesadaran.

 

Ruang digital dapat menjadi berkah, bukan ancaman, jika dikelola dengan paradigma Islam. Kerusakan generasi hari ini bukan semata persoalan teknologi, melainkan persoalan paradigma, kepemimpinan, dan sistem. Selama sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan masih dipertahankan, ancaman digital akan terus mengintai.

 

Solusinya bukan kembali ke masa lalu dan bukan pula antiteknologi, melainkan kembali kepada Islam yang komprehensif—sistem yang diciptakan untuk menjaga manusia. Jika kita benar-benar mencintai generasi, maka perjuangan menegakkan syariat Islam kafah adalah sebuah keniscayaan. Hanya dengan itulah ruang digital dan kehidupan nyata dapat menjadi aman, sehat, dan memberdayakan bagi generasi penerus. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd.,

Pengajar Mata Pelajaran Tsaqofah Islamiyah di Hagia Sophia ILS

Loading

Views: 24

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA