Tinta Media – Belum usai penderitaan di Gaza, kini kaum Muslim kembali dihadapkan pada tragedi memilukan di Sudan. Pasukan paramiliter RSF berhasil menguasai Al-Fashir, pusat pemerintahan Darfur Barat, pada Ahad (26/10/2025). Menurut laporan International Organization for Migration (IOM), sedikitnya 62.263 orang meninggalkan El-Fasher dan wilayah sekitarnya setelah kota ini direbut oleh Rapid Support Forces (RSF). Pada 29 Oktober saja tercatat sekitar 26.080 pengungsi. (Minanews.net, 06/10/2025)
Sejak RSF menguasai wilayah Sudan, sekitar 1.500 warga dilaporkan tewas hanya dalam tiga hari, dari 26–29 Oktober. Pertempuran antara RSF dan militer Sudan yang berlangsung sejak April 2023 telah menelan puluhan ribu korban jiwa dan memaksa lebih dari 12 juta orang mengungsi. Kekerasan, pemerkosaan, penahanan paksa, serta serangan terhadap fasilitas kesehatan terus meningkat. Krisis ini kian parah akibat kelangkaan pangan, air bersih, dan tempat tinggal—menunjukkan betapa seriusnya tragedi kemanusiaan di Sudan.
Sumber Persoalan
Sudan adalah salah satu negara terbesar di Afrika, berbatasan dengan tujuh negara: Mesir, Libya, Chad, Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, Eritrea, dan Ethiopia. Negara yang mayoritas penduduknya Muslim ini memiliki kekayaan alam melimpah. Sudan menyimpan cadangan minyak, gas, dan emas dalam jumlah besar, bahkan menjadi salah satu produsen emas utama di dunia Arab. Selain itu, terdapat mineral industri seperti bijih besi, tembaga, kromium, mangan, gypsum, seng, hingga uranium.
Namun, negeri yang kaya sumber daya ini justru terjebak dalam krisis tanpa akhir. Konflik di Sudan sering digambarkan sebagai perang etnis, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Ada campur tangan kekuatan global—terutama Amerika Serikat dan Inggris—yang ikut memainkan dinamika politik di sana. Akibatnya, Sudan yang seharusnya makmur malah menjadi ajang perebutan pengaruh negara adidaya.
Lembaga-lembaga internasional yang diklaim sebagai penjaga perdamaian justru kerap diam, bahkan menjadi alat pembenaran bagi intervensi dan eksploitasi terselubung. Dari Palestina hingga Sudan, dunia menyaksikan bagaimana hukum internasional berpihak pada yang kuat, bukan yang benar.
Melihat dengan Kacamata Ideologis
Umat Islam harus menaikkan level berpikirnya agar mampu melihat seluruh problem dunia melalui kacamata ideologi yang benar, yaitu ideologi Islam. Sebab, akar masalah utama umat bukanlah lemahnya sumber daya atau teknologi, melainkan cara berpikir yang telah jauh dari dasar ideologi Islam.
Berbagai problem politik, ekonomi, sosial, maupun budaya, sejatinya adalah manifestasi dari pertarungan antara peradaban Islam dan peradaban kufur. Penjajahan, kemiskinan, dan kerusakan moral bukan sekadar fenomena sosial, melainkan akibat penerapan sistem kufur seperti kapitalisme dan sekularisme.
Mirisnya, banyak negeri Muslim di sekitar Sudan, seperti Mesir, memiliki kekuatan militer besar namun tak berbuat apa pun untuk membantu. Padahal mereka adalah negeri Islam yang seharusnya saling menolong sesama Muslim. Sebaliknya, para penguasa justru diam atau bahkan bersekongkol dengan penjajah kafir.
Solusi Islam
Satu-satunya solusi atas berbagai krisis umat adalah tegaknya sistem Islam (Khilafah). Penerapan Islam secara kaffah dalam sistem pemerintahan akan menjamin keadilan dan kemakmuran umat. Kekayaan dikelola berdasarkan hukum syariat, bukan pasar bebas atau monopoli kapitalis, dan hubungan antarnegara diatur dengan prinsip dakwah, bukan dominasi ekonomi atau kolonialisme.
Dalam sejarah, di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pernah terjadi kemakmuran luar biasa di Afrika hingga tak ditemukan seorang pun yang berhak menerima zakat. Ini bukti nyata keberkahan sistem Khilafah dalam mengentaskan kemiskinan.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya al-imam (Khalifah) itu adalah perisai; manusia berperang di belakangnya dan berlindung dengan kekuasaannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Selama hukum manusia masih dijadikan pedoman, keadilan sejati tidak akan pernah terwujud. Akal manusia terbatas, maka hanya hukum Ilahi yang mampu membawa keadilan hakiki.
Persatuan Umat, Jalan Menuju Kemuliaan
Khilafah tidak akan terwujud secara otomatis, meski keberadaannya telah dijanjikan. Ia harus diperjuangkan dengan kesungguhan dan dakwah yang konsisten. Proses penyadaran harus terus dilakukan agar umat memahami peran sejatinya dan bersatu menuju perubahan yang benar.
Rasulullah ﷺ menggambarkan kaum Muslimin ibarat satu tubuh—jika satu bagian terluka, seluruh tubuh turut merasakan sakit. Gambaran ini menegaskan pentingnya persatuan umat.
Sekat nasionalisme yang memecah umat harus dilepaskan. Nasionalisme hanya menjadikan umat terpecah dan abai terhadap penderitaan saudaranya di Gaza, Sudan, dan negeri-negeri Muslim lainnya. Persatuan di bawah naungan Khilafah adalah jalan menuju kemuliaan dan kemerdekaan sejati dari hegemoni Barat yang terus menjajah dan memecah belah kaum Muslimin. Wallahualam bissawab.
Oleh: Nisa Muanisa,
Aktivis Dakwah
![]()
Views: 29
















