Konflik Sudan dan Abainya Para Penguasa Negeri Muslim

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Konflik yang terjadi di Sudan kembali menarik perhatian dunia. Negeri Muslim yang kaya sumber daya alam ini justru menjadi incaran ketamakan para pemimpin Barat. Mirisnya, masyarakat sipil lagi-lagi menjadi pihak yang merasakan ketidakadilan. Berbagai bentuk penindasan, pembantaian, hingga pembunuhan massal menunjukkan bahwa krisis Sudan telah berubah menjadi bencana kemanusiaan yang serius dan menuntut respons internasional segera.

Pembantaian di Sudan dilaporkan meningkat setelah El-Fasher direbut oleh RSF, menewaskan ribuan warga, membuat jutaan penduduk terusir, serta mengungkap bukti pembunuhan massal. Eksekusi, serangan terhadap pengungsi, penggerebekan, dan kekerasan seksual meluas, sementara relawan dan lembaga kemanusiaan turut menjadi target. Rumah sakit di wilayah tersebut pun melaporkan lonjakan korban, termasuk anak-anak yatim. Kondisi ini diperparah oleh kelangkaan pangan, air bersih, dan tempat berteduh yang layak. (Republika.id, 31/10/2025)

Akar krisis Sudan sejatinya telah berlangsung sejak lama, tepatnya pada tahun 1899 ketika Inggris dan Mesir resmi menguasai wilayah ini dan membentuk kondominium Britania Raya–Mesir. Puncaknya terjadi pada 1942 saat Inggris memisahkan administrasi Sudan Utara dan Selatan. Mereka kemudian menetapkan berbagai kebijakan yang memengaruhi ekonomi, seperti kebijakan “pintu tertutup” yang membatasi mobilitas penduduk Utara dan Selatan, serta kebijakan ekonomi laissez faire yang membuka jalan bagi perampasan besar-besaran sumber daya alam sehingga memicu konflik berkepanjangan.

Sudan, khususnya bagian Selatan, dikenal sangat kaya dengan sumber daya alam—mulai dari minyak bumi, gas alam, emas, hingga mineral industri seperti tembaga, mangan, seng, bijih besi, dan uranium. Negeri ini juga memiliki lahan subur yang berpotensi menjadi sentra pertanian kapas, wijen, milet, dan sorgum, sehingga dijuluki “keranjang makanan” Afrika. Kekayaan inilah yang memicu persaingan sengit antara negara-negara kapitalis, terutama Inggris dan Amerika Serikat—untuk menguasainya.

Berbagai cara mereka tempuh demi meraih keuntungan, meskipun harus mengorbankan rakyat Sudan. Para kapitalis hanya mengejar hasil tanpa memedulikan kemanusiaan—membunuh, merampas, memfitnah, dan melakukan tindakan keji lainnya. Inilah wajah asli kekejaman para penguasa kapitalis di seluruh dunia.

Selama ini, umat di berbagai negara dibodohi dengan propaganda bahwa konflik Sudan hanyalah perselisihan etnis dan perang saudara. Padahal, rakyat Sudan menderita jauh lebih dalam. Mereka hampir putus asa menanti pertolongan dari para pemimpin Muslim yang kini justru sibuk mempertahankan kekuasaan. Inilah yang terjadi ketika kaum Muslimin kehilangan pelindungnya (junnah), yakni seorang Khalifah.

Padahal Nabi saw. telah bersabda:

“Sesungguhnya imam/Khalifah adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah dan berlaku adil, baginya pahala; dan jika ia memerintahkan selain itu, ia bertanggung jawab atasnya.” (HR. Muslim)

Di bawah naungan Khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah dan dipimpin oleh seorang Khalifah, umat akan terlindungi—baik harta, jiwa, maupun kehormatannya. Karena itu, umat Islam harus menyadari bahwa keadaan mereka tidak akan berubah kecuali dengan kembali kepada Islam.

Konflik Sudan tidak akan terjadi jika para penguasa dan kaum Muslimin bersatu di bawah panji Rasulullah. Sebagaimana sabda Nabi saw.:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi. Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa melapangkan satu kesulitan seorang Muslim, Allah akan melapangkan satu kesulitannya pada hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, umat Islam harus bersatu dan membangun kesadaran bahwa konflik di berbagai negeri Muslim—seperti Gaza Palestina, Uyghur, Rohingya, hingga Sudan—hanya akan berakhir jika umat kembali kepada sistem politik Islam di bawah kepemimpinan Khilafah. Khilafah tidak akan tegak begitu saja tanpa dakwah sebagaimana jalan yang ditempuh Nabi saw. Inilah solusi tuntas bagi krisis dunia Islam. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Atika Ma’rifatuz Zuhro,

Muslimah Peduli Generasi

Loading

Views: 52

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA