Tinta Media – Setelah genosida di Palestina, kini perhatian dunia tertuju pada Sudan. Beberapa video pembunuhan massal warga sipil oleh kelompok paramiliter RSF (Rapid Support Forces) viral di berbagai platform. Ini menunjukkan dampak tragis dari konflik etnis dan perang saudara yang telah lama berlangsung di jantung benua Afrika. Lebih dari 60 ribu warga menjadi korban dan terpaksa mengungsi dari wilayah konflik. Tragedi kemanusiaan ini menewaskan hampir 1.500 orang hanya dalam empat hari, antara 26 hingga 29 Oktober 2025. (minanews.net, 06/11/2025)
Pelanggaran HAM berat tengah terjadi di negara terbesar ketiga di Afrika Utara ini. Sudan berbatasan langsung dengan Mesir, namun kondisi penduduknya yang 97 persen beragama Islam sangat memprihatinkan. Alih-alih menjadi negeri makmur, Sudan justru terpuruk dalam krisis kemanusiaan berkepanjangan. Warganya dikepung kemiskinan, kelaparan, dan ancaman kekerasan yang bisa merenggut nyawa kapan saja.
Ironisnya, Sudan memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Negara ini merupakan produsen emas terbesar untuk Uni Emirat Arab, dengan hasil mencapai sekitar 15 ton per tahun dari tambang Ariab. Selain itu, Sudan juga memiliki ladang minyak melimpah yang menghasilkan hampir 500.000 barel per hari dari wilayah Heglig, Unity, dan Paloich di Sudan Selatan. Namun, kekayaan besar itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyatnya.
Permasalahan di Sudan sejatinya tidak sesederhana konflik etnis atau perang saudara. Konflik ini jauh lebih kompleks karena disinyalir melibatkan campur tangan Amerika Serikat dan Inggris—beserta sekutunya seperti Zionis Israel dan Uni Emirat Arab— dalam perebutan pengaruh politik dan penguasaan sumber daya alam yang berlimpah di Sudan.
Mirisnya, lembaga-lembaga internasional yang sejatinya dibentuk untuk menjaga keamanan dunia justru kerap menjadi alat untuk melanggengkan kepentingan negara-negara adidaya. Aturan-aturan internasional pun sering kali dibuat untuk memuluskan agenda kolonialis terhadap negeri-negeri kaum Muslim. Sudan — mutiara di jantung Afrika — kini hanya menjadi objek permainan dan perebutan kekuasaan mereka.
Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Sudan, Palestina, dan negeri-negeri muslim lainnya seharusnya menjadi alarm bagi seluruh umat manusia untuk bergerak atas nama kemanusiaan. Khususnya bagi kaum Muslim, penting untuk tidak terjebak dalam sekat nasionalisme yang justru membuat umat terpecah dan abai terhadap penderitaan saudara seiman di negeri lain.
Umat perlu disadarkan bahwa konflik-konflik tersebut bukan semata masalah kemanusiaan, tetapi juga bagian dari perang pemikiran dan ideologi. Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem hidup yang sempurna dan memiliki solusi bagi seluruh aspek kehidupan. Karena itu, sudah saatnya umat manusia kembali kepada ajaran Islam dan menjadikannya sebagai satu-satunya solusi atas berbagai persoalan dunia — politik, ekonomi, maupun sosial — agar keadilan dan kedamaian benar-benar terwujud di muka bumi. Wallahualam bissawab.
Oleh: Vini Setiyawati,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 40
















