Tinta Media – Sudan kembali terluka dan merana. Sekitar 1.500 warga Sudan meninggal dalam waktu hanya tiga hari, menyusul penguasaan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di El-Fasher. Angka ini sungguh mengerikan! Perang saudara yang terus berkecamuk dan pembantaian yang kini disaksikan dunia merupakan kelanjutan dari tragedi di El-Fasher. Lebih dari satu setengah tahun lalu, sekitar 14.000 warga sipil tewas akibat pemboman, kelaparan, serta eksekusi di luar hukum oleh kelompok tersebut secara sengaja dan sistematis. (Republika.id, 31/10/2025)
RSF telah berperang melawan tentara Sudan (SAF) sejak tahun 2023. Konflik dua tahun ini telah menewaskan lebih dari 40.000 orang dan menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan lebih dari 14 juta penduduk terpaksa mengungsi. Menurut pejabat PBB, Jacqueline Wilma Parlevelied, para pendatang baru menceritakan pembunuhan meluas yang dipicu perbedaan etnis dan politik. Namun, bukan hanya itu; di balik konflik ini terdapat kepentingan asing dan perebutan kekayaan.
Pembantaian dilakukan bahkan terhadap penyandang disabilitas yang ditembak di tempat karena tidak mampu melarikan diri. Sementara itu, yang mencoba kabur pun ditembak mati. Mirisnya, mereka yang terluka dan berlumuran darah tidak mendapatkan pertolongan.
Amena, seorang warga yang terjebak selama dua hari dalam pertempuran, bersaksi bahwa pejuang RSF menyiksa warga Sudan, melakukan pemerkosaan, dan melecehkan perempuan dewasa maupun anak-anak perempuan. Rumah sakit juga dipenuhi anak-anak dengan kondisi kekurangan gizi, dehidrasi parah, serta banyak di antaranya yatim piatu tanpa pendampingan.
Konflik Sudan tidak lepas dari perebutan kekuasaan antara dua jenderal: Abdul Fatah Al-Burhan yang memimpin SAF, dan Muhammad Hamdan Dagalo, pemimpin paramiliter RSF. Dalam pertarungan ini turut masuk kepentingan global; Sudan menjadi salah satu target proyek normalisasi Israel dengan negara-negara Timur Tengah. Amerika menjanjikan penghapusan Sudan dari daftar negara teror dengan syarat agar negara itu mau “berdamai” dengan Israel. Sudan memiliki posisi strategis bagi Tel Aviv, dipandang sebagai pintu gerbang penting untuk memperluas pengaruh Israel di Afrika dan Laut Merah.
Sudan adalah negara terbesar ketiga di Afrika dengan mayoritas penduduk Muslim. Negeri ini memiliki piramida lebih banyak, Sungai Nil lebih panjang dibanding Mesir, menjadi produsen emas terbesar di dunia Arab, dan menyimpan kekayaan alam yang melimpah. Namun, Sudan mengalami krisis kemanusiaan berkepanjangan. Konflik di Sudan bukan murni konflik etnis; ada keterlibatan Amerika sebagai negara adidaya, maupun Inggris dengan negara-negara bonekanya seperti Zionis dan UEA, demi merampas kekayaan alam negeri tersebut.
Selain itu, konflik ini turut disuburkan oleh lembaga dan aturan internasional yang dirancang dalam bingkai kepentingan global, yang pada akhirnya melanggengkan hegemoni negara-negara kuat atas negeri-negeri Muslim. Sudan, dengan segala potensi alamnya, menjadi objek perebutan kekuatan adidaya.
Melihat kondisi umat Islam hari ini, umat harus meningkatkan cara pandangnya sehingga mampu membaca problem dunia dengan perspektif ideologis. Islam memiliki solusi komprehensif bagi berbagai krisis ekonomi, politik, maupun sosial. Persatuan negeri-negeri Muslim di bawah naungan institusi negara Islam adalah sebuah keniscayaan untuk melawan hegemoni negara-negara kafir Barat yang terus membuat umat Islam terpecah dan menderita. Wallahualam bissawab.
Oleh: Ema,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 41
















