Menegakkan Moral, Terganjal Pasal

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Terjadi lagi kasus kepala sekolah atau guru kena sanksi karena mendisiplinkan aturan sekolah. Dunia pendidikan sedang sarat masalah. Semangat membentuk karakter anak didik terbentur dengan hak anak yang ambigu. Meskipun kepala sekolah kembali diaktifkan, tetapi kasus ini menunjukkan ketidakjelasan aturan.

 

Pendidikan adalah modal penting untuk memperkuat suatu negara. Namun sayang, pendidikan hari ini lebih diarahkan pada tenaga siap kerja, bukan tenaga ahli. Karakter yang diharapkan sekadar slogan saja. Seharusnya pendidikan membentuk karakter pemimpin yang amanah sehingga negara kuat dan tidak mudah dikuasai/dijajah bangsa lain.

 

Pendidikan yang hilang arah tanpa standar yang jelas terlihat dari berganti menteri, berganti pula kurikulumnya. Anak didik bak kelinci percobaan. Bisa dipastikan pendidikan tidak mampu mencetak generasi emas. Kasus pelaporan guru oleh murid menunjukkan kegagalan akibat kesalahan paradigma pendidikan.

 

Dampak Kapitalisasi

 

Pendidikan adalah hak dasar setiap rakyat. Seharusnya negara menyediakan untuk semua rakyat dengan mudah dan murah, serta kualitas terbaik. Akan tetapi, sepertinya mustahil hal itu didapat. Karena, negeri ini menerapkan sistem pendidikan ala kapitalisme yang tujuannya adalah profit. Negara menyerahkan urusan ini kepada siapa saja untuk mengelolanya.

 

Tidak heran, pendidikan yang berkualitas sangat mahal. Uang menentukan mutu, sedangkan si papa (miskin) akan mendapatkan pendidikan ala kadarnya. Negara abai terhadap pelayanan dasar rakyatnya. Lagi-lagi pendidikan dikapitalisasi dan masa depan bangsa dipertaruhkan.

 

Beginilah sistem kapitalisme yang didasarkan pada manfaat, meskipun manfaat kembali pada yang punya kuasa uang dan jabatan. Sebagaimana kriminalisasi guru yang menegakkan morak terganjal pasal. Aroma kapitalisasi dan politisasi sangat kental. Pemangku jabatan dan aparat sigap merespons pengaduan untuk mendapatkan simpati, meski berujung pada kerusakan generasi.

 

Kembali pada Pendidikan ala Nabi

 

Pendidikan warisan Nabi saw. bertujuan membentuk kepribadian lslam. Antara ilmu yang dipelajari dan tingkah laku menyatu. Mereka paham akan jati dirinya sebagai seorang hamba yang menjalankan aturan Pencipta.

 

Lahirlah sosok para generasi hebat dari pola pendidikan ini, seperti lbnu Sina yang dikenal sebagai bapak kedokteran, lbnu Haitsam bapak optik dunia, Jabir lbnu Hayyan bapak kimia modern, lbnu Nafis bapak Fisiologi serta astronomi, dan masih banyak lagi para ilmuwan terkemuka yang ilmunya sampai hari ini masih digunakan di banyak lembaga sekolah maupun universitas di dunia.

 

Anak didik juga dipahamkan untuk menghargai guru yang telah menunjuki mereka ilmu. Sejatinya ilmu dari Allah Taala, maka memuliakan guru adalah bentuk memuliakan Sang Pemilik Ilmu. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

 

Maka, kasus pelaporan, perundungan, dan pelecehan terhadap guru tidak akan terjadi. Mereka sadar bahwa ilmu yang mereka miliki adalah hasil dari pengorbanan para guru. Guru telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk menggembleng mereka hingga bisa meraih derajat tinggi. Bahkan, keberhasilan yang mereka capai karena ada doa dan rida guru.

 

Negara juga memperhatikan kesejahteraan guru hingga tingkat sejahtera. Sudah bukan rahasia lagi, gaji guru di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab satu bulan bisa mencapai puluhan juta. Sungguh penghargaan yang sepadan sehingga guru bisa maksimal mencerdaskan dan mencetak anak didik calon pemimpin masa depan. Sebaliknya, jika hari ini sistem pendidikan ala kapitalisme tetap dijalankan, bukan tidak mungkin kriminalisasi terhadap guru akan terus terjadi. Pendidikan yang hilang arah menghasilkan generasi bermasalah. Negara lemah mudah dikuasai pihak lain.

 

Terkait kesejahteraan guru dalam sistem ini sangat memprihatinkan. Kerap kita lihat para guru mencari pekerjaan sampingan setelah jam sekolah karena gaji yang didapat tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bisa dibayangkan generasi yang lahir dari sistem ini ala kadarnya, daya juang rendah, dan akhirnya mudah dikendalikan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

 

Sungguh, hanya dengan pendidikan ala Nabi, guru dan anak didik bermartabat dan negara kuat. Seharusnya umat sadar hanya dengan penerapan lslam sajalah akan terwujud pendidikan berkarakter. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Umi Hanifah,

Sahabat Tinta Media

Views: 49

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA