Kesalahan dalam Sistem Pendidikan: Fokus Hasil, Lupa Moral

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dunia pendidikan Indonesia kembali diwarnai dengan noda kecurangan. Kasus dugaan kecurangan kembali mencuat, kali ini dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun 2025. Temuan ini menuai keprihatinan publik karena seleksi yang semestinya menilai kemampuan secara objektif ternodai oleh praktik manipulatif. Tindakan curang tersebut tidak hanya mencederai reputasi perguruan tinggi, tetapi juga mengganggu semangat kompetisi yang adil di antara para peserta. Bila dibiarkan, insiden semacam ini berpotensi menjadi contoh buruk yang mengancam integritas dunia pendidikan.

Kecurangan dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru tidak hanya mencederai
nilai kejujuran, tetapi juga mengacaukan keseluruhan sistem seleksi. Ketika integritas proses
diabaikan, hasil seleksi tak lagi mencerminkan kualitas dan kemampuan peserta yang
sebenarnya. Akibatnya, kepercayaan terhadap sistem pendidikan menurun, dan mahasiswa
yang lolos pun tidak selalu merepresentasikan mereka yang paling layak.

Namun, persoalan ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada individu pelaku. Kita juga perlu mengkritisi sistem yang melahirkan ruang-ruang abu-abu untuk kecurangan terjadi. Penekanan berlebihan pada hasil akhir seperti angka, nilai, dan peringkat dalam sistem seleksi telah mengabaikan esensi dari proses, kejujuran, dan nilai-nilai etika. Ketika yang dihargai hanya “siapa yang lolos”, bukan “bagaimana ia sampai di sana”, maka tak heran jika banyak yang memilih jalan pintas. Ini adalah cermin dari krisis nilai dalam pendidikan kita orientasi pada prestasi instan, bukan pembentukan manusia utuh. Jika praktik seperti ini terus dibiarkan, akan terbentuk budaya curang yang mengakar sejak dini.

Mahasiswa yang diterima lewat cara curang berpotensi tumbuh menjadi individu yang terbiasa memanfaatkan celah untuk menipu, dan bisa menjadi calon koruptor, pelaku mafia, atau penjahat lainnya dan kelak jika menjadi pejabat, profesional, atau pengusaha yang menjalankan praktik kecurangan menjadi hal biasa atau bahkan wajib hukumnya. Sudah saatnya kita meninjau ulang sistem pendidikan yang ada, bukan hanya dari aspek teknis, tapi juga dari nilai-nilai dasar yang ingin kita tanamkan. Sebab jika kejujuran terus dikorbankan demi pencapaian semu, maka kita sedang membangun masa depan yang rapuh.

Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan jalan pembentukan karakter dan spiritualitas seseorang. Sejak wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ berbunyi “Iqra” (bacalah), pesan tersebut telah menandai pentingnya ilmu dalam peradaban Islam. Namun, yang sering kali dilupakan adalah bahwa ilmu dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari adab (akhlak).

Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar menajamkan akal, tetapi juga menyucikan hati, menuntun lisan untuk berkata benar, dan membimbing tindakan menuju jalan yang bersih dan terpuji. Para ulama masa silam menegaskan bahwa adab adalah fondasi sebelum ilmu, sebab ilmu yang tak disertai akhlak hanya akan melahirkan kecerdasan yang menyesatkan arah. Dalam tradisi pendidikan Islam, ditekankan betul pentingnya proses menuntut ilmu—dimulai dari niat yang tulus hingga ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta cara-cara yang halal dan jujur. Pendidikan sejati seharusnya melahirkan insan yang berilmu sekaligus berakhlak, bukan hanya yang berprestasi tetapi miskin integritas.

 

 

 

Oleh: Shira Tara
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 35

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA