Perbaiki Moral, Terjegal Pasal

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kasus murid melaporkan guru semakin sering terjadi di Indonesia. Guru yang berusaha memperbaiki moral siswa siswinya dengan memukul, menampar, membentak atau bahkan sekadar menegur justru dilaporkan ke polisi. Padahal, guru melakukannya untuk mendisiplinkan siswa yang melakukan kesalahan, seperti merokok, melempar sandal, dan sebagainya.

 

Tindakan guru untuk melatih disiplin siswa, kini menjadi bumerang. Setiap gerakan guru bisa direkam, kemudian diviralkan dan dijadikan sasaran penghakiman sepihak. Kondisi ini menjadikan guru pada posisi sulit, membiarkan siswa yang melanggar aturan akan menjadikan mereka generasi rusak, sementara mendisiplinkan bisa dijegal pasal.

 

Demikian rumit peran guru di era digital. Bahkan, media sosial bisa lebih cepat menjatuhkan vonis sebelum proses hukum dimulai. Tentu semua itu memengaruhi kinerja guru. Wibawa seorang guru kini tidak diukur dari ketegasannya, tetapi karena kehati-hatian agar tidak viral dengan laporan siswa dan wali murid. Padahal, mendidik tanpa ketegasan bagaikan menulis tanpa tinta, tidak berbekas.

 

Ironis, guru dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa hilang wibawa, tidak dihormati, bahkan cenderung dijadikan sasaran jeratan pasal yang lebih memihak siswa pelanggar aturan sekolah. Di sisi lain, pendidikan merupakan modal penting dalam melahirkan generasi unggul yang bukan sekadar cerdas, tetapi juga bermoral. Jika tindakan guru selalu dijegal oleh pasal, bagaimana guru membentuk generasi berkualitas?

 

Moral menjadi hal yang sangat penting dalam Islam. Pendidikan di masa Rasulullah dan kekhilafahan bertujuan membentuk kepribadian lslam. Antara ilmu yang dipelajari dan tingkah laku akan menyatu. Guru dan siswa sama-sama paham terhadap jati dirinya sebagai hamba Allah yang wajib menjalankan aturan-Nya. Maka, tidak heran jika di masa itu lahir para generasi hebat seperti lbnu Sina sebagai bapak kedokteran, Jabir lbnu Hayyan dikenal bapak kimia modern, lbnu Haitsam bapak optik dunia, dan banyak lagi ilmuwan yang ilmunya digunakan di lembaga sekolah maupun universitas di dunia hingga sekarang.

 

Para siswa juga dipahamkan untuk menghargai guru yang telah memberikan mereka ilmu. Orang tua telah membekali pemahamahan bahwa ilmu dari Allah Taala, maka memuliakan guru merupakan cara memuliakan Sang Pemilik Ilmu. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang banyak (berkah).” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

 

Sungguh, pendidikan ala Nabi menjadikan guru dan murid mulia. Semua sadar dengan posisi dan perannya masing-masing sehingga saling menghargai dan mendukung untuk tercapainya tujuan bersama. Dengan demikian, pendidikan dapat menghasilkan generasi unggul bermoral, kemudian menjadikan negara kuat dan bermartabat. Wallahualam bissawab.

Oleh: R. Raraswati,
Aktivis Muslimah Peduli Generasi

Loading

Views: 16

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA