Tinta Media – Maraknya penggunaan teknologi untuk mengakali tes Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) merupakan permasalahan serius dalam moralitas calon mahasiswa saat ini. Fenomena ini tidak sekadar mencerminkan lemahnya integritas individu, tetapi juga menjadi cermin kegagalan sistem pendidikan dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia, berkepribadian Islam, dan memiliki kompetensi yang sesungguhnya.
Laporan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengungkap tingginya angka kecurangan di kalangan pelajar SMA dan mahasiswa memperkuat kekhawatiran ini. Kecenderungan menyontek, mencari jalan pintas, dan menghalalkan segala cara demi hasil menunjukkan bahwa nilai kejujuran dan ketakwaan telah terpinggirkan.
Fenomena ini tak bisa dilepaskan dari sistem hidup yang mendominasi saat ini, yakni kapitalisme. Dalam pandangan kapitalis, kesuksesan diukur dari hasil materi semata, tanpa memperhitungkan cara dan moralitas yang menyertainya. Konsep halal dan haram menjadi kabur di tengah ambisi mengejar capaian duniawi.
Berbeda halnya dengan Islam, yang menjadikan rida Allah sebagai standar kebahagiaan dan kesuksesan sejati. Dalam sistem Islam, negara memiliki peran strategis dalam menjaga individu agar senantiasa terikat pada hukum-hukum Allah, termasuk dalam dunia pendidikan.
Sistem pendidikan Islam, yang berlandaskan akidah Islam, berfungsi tidak hanya sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai pembentuk karakter dan kepribadian. Generasi yang dilahirkan bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan moral. Mereka memiliki keahlian yang mumpuni sekaligus komitmen yang tinggi terhadap syariat.
Dengan karakter Islam yang kuat, kemajuan teknologi tidak akan disalahgunakan, melainkan diarahkan untuk kepentingan umat dan meninggikan kalimat Allah. Inilah generasi perubahan yang sejati, yang tidak hanya cakap dalam sains dan teknologi, tetapi juga menjadikan Islam sebagai kompas hidup mereka.
Oleh: Dian Mayasari, S.T.
(Tenaga Pendidik)
Views: 29
















