Tinta Media – Buah yang manis berulat di dalamnya. Begitulah kira-kira peribahasa yang tepat untuk menggambarkan rencana New Gaza. Amerika Serikat pada Forum Ekonomi Dunia di Davos menyampaikan rencananya untuk “membangun Gaza baru” melalui Jared Kushner, menantu Trump sekaligus arsitek kebijakan luar negeri. Kushner menyampaikan rencana rekonstruksi Palestina yang hancur akibat serangan misil dari nol (bbc.com, 23/01/2026).
Kendati berhenti melakukan penyerangan dan memberikan dana kepada Zionis Israel, Kushner menawarkan solusi konvensional untuk Palestina berupa manajemen ekonomi dan keterlibatan swasta global. Menurutnya, kemiskinan, keterisolasian, dan minimnya infrastruktur menjadi faktor instabilitas berkepanjangan di Palestina. Baginya, pembangunan fisik menjadi alat untuk menciptakan perdamaian di daerah konflik tersebut. Melalui rencana ini, Amerika Serikat berambisi mengubah Gaza menjadi wilayah dengan prinsip pasar bebas seperti Amerika Serikat (mediaindonesia.com, 23/01/2026).
Rekonstruksi Gaza mencakup rencana pembangunan berupa 180 menara apartemen untuk wisata pantai, zona kawasan perumahan, kompleks pertanian dan industri, pusat data, manufaktur canggih, taman, fasilitas olahraga, hingga pelabuhan laut dan bandara. Pembangunan dilakukan melalui empat fase yang dimulai dari Rafah dan secara bertahap bergerak ke utara menuju Kota Gaza (bbc.com, 23/01/2026). Gaza akan disulap bak negara maju yang dipenuhi gedung pencakar langit dan disibukkan oleh kegiatan industri.
Bersamaan dengan rencana rekonstruksi ini, Amerika Serikat turut membentuk Board of Peace atau Dewan Perdamaian untuk Gaza sebagai badan yang mengelola rekonstruksi dan investasi secara terpusat. Amerika Serikat bahkan mengikutsertakan negeri-negeri kaum muslim seperti Turki, Qatar, dan Mesir di dalamnya (mediaindonesia.com, 23/01/2026).
Saat ini, lebih dari 20 negara telah bergabung di dalamnya, termasuk Indonesia. Namun, Palestina sendiri tidak diikutsertakan dalam badan perdamaian ini. Padahal, di sisi lain, Israel ikut berpartisipasi di dalam Dewan Perdamaian tersebut untuk memberikan andil dalam rencana rekonstruksi.
Rencana rekonstruksi ini seakan buah manis yang ditawarkan penjajah. Merencanakan pembangunan di negeri yang telah luluh lantak, menjadikan Gaza kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit khas negara maju. Namun, pada akhirnya, buah manis berulat di dalamnya. Rencana rekonstruksi Gaza hanya menjadi kedok Amerika Serikat untuk menghilangkan jejak akibat ulah tangannya.
Sebagaimana dunia tahu, Amerika Serikat menjadi donatur utama bagi Israel untuk melanggengkan penjajahan di bumi Palestina. Negara penjajah berlagak bak pahlawan dengan membangun kembali negeri yang dijajahnya. Janji perdamaian yang ditawarkan jelas membingungkan, terlebih karena pembentuknya adalah penjajah itu sendiri. Negeri yang terjajah, yakni Palestina, bahkan tidak dilibatkan dalam prosesnya. Hal ini menjadi pertanyaan besar mengenai janji perdamaian yang ditawarkan.
Di sisi lain, rekonstruksi Gaza menunjukkan ambisi besar Amerika Serikat untuk menguasai dan mengendalikan Gaza secara total. Pasalnya, pembangunan New Gaza dilakukan bersamaan dengan demiliterisasi atau pelucutan senjata Hamas. Presiden Amerika Serikat, Trump, mengancam Hamas saat melakukan penolakan pelucutan senjata.
Hal ini memperjelas niat Amerika Serikat untuk mematikan perlawanan Gaza dan menjadikan Gaza tidak berdaya di bawah cengkeramannya. Selain itu, secara terang-terangan Trump mengusulkan pemindahan warga Palestina secara permanen ke negeri-negeri tetangga.
Hal ini menunjukkan bahwa rekonstruksi Gaza dan pembentukan BoP bukanlah proyek yang bergerak atas dasar nilai kemanusiaan, melainkan proyek pembangunan semata. Pembentukannya menjadikan Amerika Serikat sebagai pemegang kendali penuh. Keikutsertaan negeri-negeri muslim menambah keprihatinan atas kekuatan umat Islam hari ini.
Bergabungnya negeri-negeri muslim dalam badan perdamaian bentukan penjajah tersebut hanya melanggengkan penjajahan di bumi Palestina. Lebih mengenaskan lagi, negeri-negeri muslim turut mendanai tindakan biadab penjajah. Hal ini menunjukkan betapa lemahnya posisi kaum muslim saat ini—lemah dan hina di hadapan penjajah.
Pada akhirnya, rencana New Gaza hanyalah keberlanjutan penjajahan Amerika Serikat. Wilayah jajahan dibersihkan dari penduduk aslinya dan dilucuti perlawanannya. Selanjutnya, pembangunan dilakukan dengan kendali penuh Amerika Serikat. Nilai luhur masyarakat tanah suci dilucuti dan Gaza dijadikan buruh-buruh industri pendorong perekonomian. Perdamaian yang ditawarkan penjajah tidak lain hanyalah buah busuk yang tampak apik dipandang mata.
Sungguh naas, padahal pada dasarnya wilayah Gaza dan Palestina adalah milik umat Islam sebelum dirampas oleh Zionis Israel. Umat Islam terdahulu telah menyirami tanah suci tersebut dengan darah mereka, memperjuangkan kebebasan dari tangan-tangan penjajah yang merusak kesuciannya. Hingga akhirnya wilayah itu jatuh ke tangan penjajah pada Perang Dunia I, diikuti runtuhnya Kekhilafahan Utsmaniyah. Inggris membagi dan menyekat wilayah kekuasaan Islam bak membagikan kue kepada para penjajah sekutunya.
Sebagai seorang muslim, selayaknya kita menuntaskan persoalan ini dengan memberikan loyalitas penuh kepada Allah dan kaum mukmin. Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 144 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang beriman.”
Ayat ini menegaskan bahwa tidak seharusnya seorang muslim menjadikan orang-orang kafir seperti Amerika Serikat dan Zionis Israel sebagai penentu masa depan umat Islam, apalagi memberikan loyalitas kepada penjajah tersebut untuk menjanjikan perdamaian, kemerdekaan, dan pembangunan yang fana bagi Palestina.
Maka, menjadi kewajiban bagi setiap umat muslim dan penguasa dunia Islam untuk melawan semua makar Amerika Serikat dan Zionis Israel dalam upaya menguasai Gaza dan Palestina. Sebagaimana dicontohkan oleh Sultan Abdul Hamid II saat menolak tawaran Zionis untuk membeli tanah Palestina. Kekhilafahan Utsmaniyah yang saat itu mengalami kesulitan dan terlilit utang tetap tegas menolak menukar tanah umat Islam dengan keuntungan duniawi. Hal ini menunjukkan ketegasan kepemimpinan Islam dalam menjaga amanah umat.
Solusi sejati bagi pembebasan Gaza dan Palestina adalah dengan mengukuhkan ukhuah islamiah, menyatukan pemikiran umat, dan bersikap tegas atas makar penjajah. Melakukan jihad fi sabilillah menjadi jalan satu-satunya dalam pembebasan Gaza dan Palestina. Di bawah kepemimpinan kekhilafahan Islam, perjuangan akan diteruskan sebagaimana umat terdahulu membebaskan Palestina dari tangan penjajah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Sri Smytn,
Aktivis Dakwah Remaja
![]()
Views: 14
















