Tinta Media – Lagi-lagi rakyat lemah dijadikan korban, sementara otak dan pelaku yang sebenarnya bebas menikmati hasil kejahatannya. Mengapa penegak hukum tidak belajar dari kasus sebelumnya bahwa bandar dan petugas pemberantas narkoba dapat bekerja sama dengan menjebak serta mengorbankan pihak yang lemah demi uang dan jabatan?
Pandji Pragiwaksono dalam materi stand-up comedy-nya menyoroti penegakan hukum di Indonesia. Ia menceritakan tentang Teddy Minahasa, jenderal polisi yang menjadi bandar narkoba. Dalam satu kisah, ia dipanggil ke Taiwan oleh bandar narkoba. Sang bandar meminta izin untuk menjual narkoba ke Indonesia. Dalam penampilannya, Pandji menirukan ucapan bandar kepada Irjen Teddy bahwa setengah dari narkoba dapat dijual dan setengahnya lagi dijadikan barang bukti yang akan disita agar ia bisa naik jabatan. Permainan kotor semacam ini bisa saja terulang pada ABK (anak buah kapal) yang terjebak dalam permainan para bandar narkoba. Aparat penegak hukum seharusnya memahami berbagai modus terselubung, karena sering kali apa yang terlihat di depan mata dapat menipu. Ada kejahatan jaringan narkoba yang sengaja dibiarkan dan tidak diungkap. Hanya mereka yang kuat yang mampu mengambil keuntungan dalam suatu kasus dengan mengorbankan pihak lemah yang tidak tahu apa-apa sebagai pelakunya.
Bagaimana mungkin ABK yang baru bekerja dijadikan tersangka, bahkan divonis hukuman mati atas kepemilikan narkoba yang ditemukan di kapal tempat ia bekerja? Apakah tidak ada penyelidikan lebih lanjut untuk menemukan bandar narkoba yang sebenarnya, termasuk kemungkinan aparat yang terlibat dalam kasus ini? Aparat penegak hukum tidak boleh menutup mata terhadap kondisi penegakan hukum di negeri ini yang kerap menjadikan pihak lemah sebagai korban sehingga pelaku utama tidak pernah terungkap.
Bahkan dalam kasus terbaru, seorang kepala satuan narkoba yang bertugas memberantas narkoba justru menjadi bandar. Selain itu, enam anggota polisi juga dilaporkan positif sebagai pengguna narkoba. Bagaimana rakyat dapat percaya pada penegakan hukum, khususnya dalam kasus narkoba, jika aparat justru menjadi pelaku utama kejahatan tersebut? Penegakan hukum hanya tajam kepada yang lemah, tetapi tumpul dan tidak berdaya terhadap mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Otak dan bandar sesungguhnya terlalu kuat untuk dijerat hukum.
Negeri ini belum aman dari ancaman narkoba jika penegak hukumnya tidak mampu membongkar jaringan peredaran yang sesungguhnya. Rakyat kecil sering menjadi korban atas nama penegakan hukum, sementara penjahat kelas kakap terbebas dari jeratan dengan dalih kurangnya bukti. Sering kali apa yang terlihat di depan mata bukanlah fakta sebenarnya. Ada hal tersembunyi yang perlu diungkap untuk menemukan pelaku sesungguhnya. Di sinilah tantangan bagi penegak hukum yang berintegritas untuk menegakkan keadilan, bukan memainkan hukum demi uang dan jabatan.
Rakyat sudah muak dengan penegakan hukum di negeri ini yang lebih berpihak kepada yang kuat dan menjadikan pihak lemah sebagai korban untuk menutupi kejahatan yang sebenarnya. Kita semua merindukan sistem yang menjamin penegakan hukum tanpa pandang bulu. Siapa pun yang bersalah harus ditindak tegas meskipun memiliki uang dan kekuasaan. Rakyat akan merasa aman dari berbagai bentuk kejahatan jika penegakan hukum dilakukan secara tegas dan adil kepada siapa pun tanpa pengecualian.
Tentunya, kita tidak bisa berharap pada penegakan hukum dalam sistem kapitalisme yang menilai segala sesuatu dengan materi, bahkan hukum pun dapat diperjualbelikan. Hanya dalam sistem Islam, yakni Khilafah, hukum dapat ditegakkan untuk melindungi yang lemah dan menghukum siapa pun yang bersalah, termasuk penguasa yang zalim. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 13
















