Satu butir kurma dimakan
Dibelah lagi menjadi tujuh
Bagai kekasih menanti
pujaan
Entah di mana hendak
berlabuh
Tinta Media – Pantun di atas menunjukkan
betapa merindunya saudara kita di Palestina kepada siapa pun yang menolongnya. Di saat pembunuhan massal masif
terjadi, tiada yang mampu menghentikan. Hingga menimbulkan reaksi berupa aksi di
beberapa wilayah, baik di mancanegara maupun di dalam negeri. Berjalan
menyusuri satu tempat yang dibombardir menuju tempat lain yang juga menjadi
target zionis selanjutnya. Tak ada tujuan, hanya berharap dan berpasrah
pertolongan dari Allah.
Gelombang aksi terus
terjadi di beberapa wilayah di Indonesia yang menolak genosida di Gaza dan
Rafah. Sejak Oktober 2023 hingga hari
ini massa menuntut keadilan atas nama kemanusiaan. Di Palembang, Jogja, Jakarta
dan beberapa wilayah di dalam negeri termasuk Medan ikut turun ke jalan.
Terpantau ribuan massa melakukan long march, memadati kawasan seputaran Mesjid
Raya Al-Mashun, Jl. Sisingamangaraja, tanggal 09 Juni kemarin. Salah satu
tuntutan massa adalah mendesak agar penguasa di negeri-negeri kaum muslimin
mengirimkan tentaranya dan menerapkan syariah Islam sebagai wadahnya.
Viva.co.id,10-06-2024
Namun aksi menyerukan dalam
hal membela Palestina ini bukanlah sekedar perkumpulan manusia yang disebabkan
manfaat semata namun lebih dari pada itu.
*Kaum Muslim Adalah Satu Tubuh*
Sangat masyhur di telinga
bunyi hadis berikut : “Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai,
saling menyayangi dan bahu membahu, bagaikan satu tubuh. Jika salah satu
anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain ikut merasakan
sakit juga dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Muslim)
Saat anggota tubuh yang
lain sakit, sepatutnya kita ikut merasakan kepedihan. Anggaplah mereka bagian
dari anggota keluarga kita, orang tua kita, kakak, adik, anak kita. Yang dengan
ridha-Nya melepaskan kepergian saudaranya kepada Rabb sebagai seorang yang
syahid dengan pahala yang luar biasa balasannya dari Allah.
Tentu itu tidak mudah kita
tanamkan selama di tubuh kaum muslimin masih tersekat nasionalisme. Yaitu ide
yang berasal dari sistem sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan.
Artinya urusan agama tidak boleh masuk ke dalam ranah pergaulan, ekonomi,
sosial budaya apalagi politik. Karena akan mencederai kepentingan penguasa yang
menginginkan kebebasan. Yang notabene meminggirkan aturan agama, padahal agama
itu adalah aturan yang datang dari Allah, Maha Memiliki, Maha Pengatur.
Sejalan dengan ide
nasionalisme, wajar adanya kekuatan aqidah kaum muslimin makin keropos. Ketika
mesin pembunuh zionis tak mampu dihentikan, disisi lain tidak sedikit pula
orang-orang yang menganggap isu Palestina ini akan hilang dengan sendirinya,
sedang ia menyibukkan diri dengan dunianya sendiri seperti tanpa sedikit pun
merasa ada kewajiban kita yang harus ditunaikan yaitu menentukan di mana posisi
kita saat melihat saudaranya diperangi tanpa ampun. Ada saatnya Allah akan
bertanya. Kita berhujjah.
Dari kekuatan militer yang
dimiliki zionis tidak sebanding dengan apa yang dimiliki oleh negeri-negeri
kaum muslimin jika bersatu. Dan persatuan ini adalah atas dasar aqidah yaitu
ikatan ukhuwah islamiah bukan ikatan nasionalisme umpama tembok yang dibuat di
perbatasan Mesir dan Rafah.
Mudah saja bagi Allah
menghancurkan apa yang telah diciptakan oleh hamba-Nya. Karena Allah Maha
Pencipta. Tembok semisal perbatasan Mesir dan Rafah akan musnah dengan
persatuan negeri-negeri kaum muslimin. Dengan penguasanya yang ikut
memerintahkan agar menurunkan militernya melawan militer zionis.
Saatnya menghadirkan yang
dibutuhkan saudara kita di Palestina. Bukan sekedar kata-kata kecaman, kutukan,
boikot. Tapi aksi nyata melawan pasukan kera di bawah ketiak negara adidaya.
Yang sebenarnya juga sangat mudah Allah hancurkan. Hanya saja Allah ingin
melihat kita sebagai penonton atau pejuang di saat keperihan yang syahid
dipertontonkan dalam genggaman. Sebagaimana kisah burung pipit dan cicak ketika
Nabi Ibrahim dibakar oleh raja Namrud. Kisah tersebut menceritakan burung pipit
yang berulang kali bolak balik ke tepi danau mengambil air dengan paruhnya yang
kecil, kemudian menuangkannya ke api yang hendak membakar tubuh nabi Ibrahim.
Berbeda halnya dengan cicak yang meniupkan untuk memperbesar api yang membakar Ibrahim.
Maka jika diibaratkan, tentukanlah posisi kita sebagai burung pipit meskipun
tampak sedikit yang dilakukan ia menjadi pembela kebenaran daripada cicak yang
melegalkan kezaliman.
Wallahua’lam bis showab
Oleh: Lisa Herlina, Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 4
















