Anak Putus Sekolah Hanya Ada pada Sistem Sekuler Kapitalisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pendidikan adalah salah satu proses belajar untuk mengetahui yang tidak tahu menjadi tahu. Dengan belajar, anak akan memiliki ilmu dan kemampuan untuk bekal dalam menjalani hidup. Kenyataannya, masih ada anak yang belum sekolah.

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi  Kementerian Pendidikan  Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen),
Tatang Muttaqin, faktor ekonomi dan membantu orang tua mencari nafkah menjadi penyumbang terbanyak pada tingginya angka anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia. Angka ATS yang disebabkan oleh faktor ekonomi adalah sebanyak 25,55 persen dan mencari nafkah sebanyak 21,64 persen. Hal itu disampaikan Tatang dalam Rapat Panja Pendidikan dengan Komisi X DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Senin (19/5/2025).

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa anak putus sekolah banyak disebabkan karena faktor ekonomi. Kurangnya pendapatan yang diperoleh keluarga dibandingkan pengeluaran yang besar menyebabkan orang tua lebih memilih memenuhi kebutuhan pokok daripada menyekolahkan anak.

Walaupun pemerintah telah memprogramkan wajib belajar sembilan tahun pendidikan dasar, dana bos dan ada juga KIP (Kartu Indonesia Pintar), tetap saja terjadi lonjakan anak putus sekolah. Hal ini disebabkan karena orang tua tetap membayar biaya pendidikan, seperti seragam sekolah, biaya tugas sekolah, uang saku anak. Selain itu, keringanan biaya sekolah ini hanya pada jenjang sekolah atas. Apabila untuk lanjut jenjang kuliah, maka harus menyiapkan dana yang besar.

Adapun untuk memperoleh pekerjaan yang bagus, harus ada ijazah kuliah. Lulusan sekolah menengah atas hanya akan menjadi buruh. Jika harus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (kuliah), maka pendidikan menjadi makin mahal.

Ada berbagai program yang dicanangkan pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa agar tidak putus sekolah, tetapi pada kenyataannya tidak memberikan solusi tuntas. Ini karena orang tua lebih memilih anaknya membantu mencari nafkah daripada sekolah.

Pendidikan saat ini dinilai mahal oleh sebagian masyarakat karena taraf pendapatan mereka rendah. Sehingga, yang bisa bersekolah adalah orang yang punya uang. Terjadilah ketimpangan dalam mengenyam pendidikan.

Pendidikan saat ini mahal karena permasalahan bersifat sistemik sehingga perlu solusi yang tersistem juga. Penerapan sistem sekuler kapitalis yang diterapkan oleh negara di semua bidang, yakni pendidikan ekonomi, hukum, pemerintahan saling keterkaitan satu sama lain. Karena itu, solusinya pun tidak bisa hanya fokus pada satu bidang saja, tapi keseluruhan.

Sistem sekuler kapitalis telah memisahkan urusan agama dengan kehidupan sehingga pengaturannya diatur oleh manusia itu sendiri. Sistem ini berpeluang terjadi penyelewengan, penyalahgunaan, nepotisme, dan lainnya. Hal ini disebabkan lemahnya manusia itu sendiri sehingga aturan yang diterapkan berpotensi terjadi pelanggaran.

Dalam Islam, pendidikan adalah hak semua rakyat. Jadi, baik orang miskin ataupun orang kaya berhak mendapatkan pelayanan pendidikan tersebut. Adapun masalah pembiayaan, maka negara akan meminta dana ke Baitul Maal untuk keperluan sarana dan prasarana sekolah dan keperluan lainnya. Dengan dana tersebut, pihak sekolah akan mengelola untuk kebutuhan sekolah sehingga tidak ada pungutan ke orang tua mengenai buku, atribut sekolah, SPP, dan lain sebagainya.

Dengan layanan pendidikan yang gratis ataupun murah, maka tidak ada alasan bagi orang tua untuk tidak menyekolahkan anaknya, apalagi putus sekolah.

Walaupun bermasalah dari segi ekonomi, anak tetap akan sekolah. Ini karena negara Islam tidak hanya menjamin pendidikan saja, tetapi masalah perekonomian dan keamanan rakyat.

Tersedianya lapangan pekerjaan memudahkan orang tua untuk mencari nafkah. Selain itu, tujuan negara adalah menyejahterakan rakyat, sehingga rakyat harus terpenuhi kebutuhan primernya. Apabila ekonomi dan keamanan dijalankan dengan baik, maka orang tua akan senang menyekolahkan anaknya. Mereka mengetahui bahwa tujuan memberikan pendidikan kepada anak adalah untuk mendidik mereka agar memiliki ilmu dan adab dalam menjalani kehidupan.

Pendidikan bukanlah sarana untuk menunjang perekonomian negara dengan harapan nantinya anak-anak memperoleh pekerjaan yang mapan, bukan menjadi buruh.

Dalam Islam, pendidikan, perekonomian, dan keamanan saling keterkaitan. Sehingga, negara harus menjalankan semuanya sesuai dengan aturan Islam. Jadi, pendidikan dicanangkan untuk membangun kecerdasan dan peradaban dunia Islam guna mencetak generasi emas unggul sebagai estafet pembangunan negara.

Pendidikan yang berlandaskan Islam tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mendidik anak-anak agar menjadi SDM yang bertakwa kepada Allah sehingga terbentuk kepribadian Islam. Pendidikan harus mampu untuk membentuk SDM yang cerdas,  pemberani, pejuang tangguh, berdakwah untuk kemuliaan Islam, menjadi mercusuar dunia yang mampu membawa Islam meraih kejayaannya, disegani, dan menjaga agama Islam agar terus mulia dihadapan dunia.

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi
manusia lainnya.” (HR. Thabrani)

Hadis ini menekankan pentingnya membantu dan bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melakukan perbuatan baik dan membantu orang lain, kita dapat meningkatkan kualitas hidup kita sendiri dan orang lain di sekitar. Tidak hanya untuk manusia saja, tetapi juga untuk agamanya.

 

Oleh: Hafizatul Dwi Maulida, S.Pd,

Sahabat Tinta Media

Views: 18

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA