Apa yang Terjadi di Suriah?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Di tanah Syam, angin berhembus, seperti pelarian yang membawa jerit dan duka ke setiap sudut negeri Syam. Langitnya yang dahulu biru bak surga yang dijanjikan Allah, kini menggantung kelabu, berat dengan ratap dan doa. Reruntuhan berdiri seperti raksasa tua yang kelelahan menyaksikan sejarah yang merenggut anak-anaknya sendiri, di tanah yang retak, cerita-cerita yang perih menetes ke dalam bumi.

Syam yang terdiri dari Suriah, Palestina hingga Yordan, adalah saksi dari amarah dan kehancuran yang menjalar seperti api liar.

Ahad 8 Desember 2024, merupakan hari yang berbahagia bagi rakyat Suriah dengan kejatuhan rezim Bashar Assad. Sementara waktu, rakyat Suriah berakhir penderitaan mereka dari kekejaman Hafidz Assad dan anaknya Bashar Assad, bak Fir’aun di zaman modern.

Bashar Assad dalam menampuk kekuasaan, persis seperti bapaknya, menjalankan pemerintahan secara otoriter dan berlumuran darah, memburu habis-habisan rakyatnya sendiri yang menentang kekuasaannya. Pada Maret 2011, penangkapan, penyiksaan, pembunuhan massal dilakukan oleh pasukan militer dan para pengikutnya terhadap warga yang mayoritas penganut Sunni, tidak kurang 3 juta warga Suriah yang tewas dalam konflik tersebut.

Kelompok Islam Hayat Tahrir Al Syam (HTS) baru saja mendeklarasikan kemenangannya atas perubahan di Suriah. Pemimpin HTS, Abu Mohammad Al Jolani memuji peristiwa sejarah atas perebutan negara Suriah dari rezim Bashar Assad.

Di masjid terkenal di Damaskus, pimpinan HTS Mohamad Al’Jaulani mengatakan, “Rezim al’Assad telah memenjarakan ribuan warga sipilnya sendiri secara tidak adil tanpa melakukan kesalahan apa pun”, kata Al’Jaulani di masjid Umayah di Damaskus, seperti dilansir dari al Jazeera Senin (9/12/2024). “Kami (masyarakat Suriah adalah pemilik negara ini), kami telah berjuang dan diganjar dengan kemenangan ini, ujarnya.

Al’Jaulani bergabung dengan Al’Qaeda di Irak setelah invansi Amerika Serikat di Irak pada tahun 2006, ditahan selama 5 tahun dan dipenjarakan Amerika di sana. Ia lahir pada tahun 1982 di Arab Saudi tempat ayahnya bekerja sebagai insinyur perminyakan, keluarganya itu kembali ke Suriah pada tahun 1989 dan menetap di dekat Damaskus. Ia memimpin HTS yang sempat bernama Jabbah Nusra (JN) yang merupakan Afiliasi Al’Qaeda dan kemudian berpisah dengan gaya yang lebih moderat dan toleran.

Puluhan tahun sudah rakyat Suriah hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Di bawah rezim Assad, ribuan masyarakat Suriah yang anti pemerintahan Assad dipenjara, disiksa bahkan dibunuh, tidak sedikit kaum muslim yang menjadi syahid setelah menahan derita bertahun-tahun di dalam penjara.

Tapi apalah dikata sejarah telah membuktikan bahwa para penguasa diktator akan tumbang diruntuhkan oleh rakyatnya sendiri, seperti rakyat Suriah setelah digulingkan rezim Bashar Assad, sebagian rakyatnya melarikan diri keluar negeri, sedang Assad dan keluarganya melarikan diri ke Rusia.

Dengan apa yang terjadi di Suriah, umat muslim harus waspada, bila negeri mereka hanya berpindah tangan ke rezim lainnya yang tunduk ke pihak asing walaupun pimpinan HTS (Ha’yat Tahrir Syam) mengatakan tidak ada keterlibatan pihak asing dalam aksi pembebasan Damaskus, tapi eksistensi Turki dan Amerika Serikat ada dibalik peristiwa Suriah.

Harus diingat, negara-negara kafir penjajah seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa dan sekutunya, tidak akan tinggal diam dan tidak akan pernah membiarkan pelepasan Suriah dari pantauan mereka, perlu disadari bahwa negara-negara kafir Barat yang paling bertanggung jawab atas kekacauan di Timur Tengah, mereka membentuk negara-negara bangsa (nation state) untuk memecah belah persatuan kaum muslimin.

Kejatuhan rezim Assad di Suriah bukanlah akhir dari perjuangan. Selama tangan-tangan kafir Barat terutama Amerika dan Rusia yang ingin tetap mempertahankan dominasi mereka melalui solusi-solusi palsu seperti negosiasi politik dan pemerintahan boneka yang tetap mempertahankan sekularisme.

Muslim di Suriah harus tetap bersatu padu menyatukan satu visi dan misi yang sama, yakni membangun pemerintahan yang hakiki di atas puing-puing sekularisme, muslim di Suriah harus tetap mewaspadai segala upaya makar Barat, baik langsung maupun melalui pihak-pihak lain yang berusaha membajak dan membelokkan ke arah yang bertentangan dengan Islam.

Muslim di Suriah haruslah belajar dari tragedi pasca revolusi di Libya, Tunisia, Irak, Mesir, betapa revolusi umat Islam dibajak oleh tangan-tangan kafir Barat, yang akhirnya melalui kaki tangan mereka revolusi Islam hanyalah pergantian rezim lama ke rezim yang baru, contoh Mesir, rezim Mesir sekarang ini hanyalah penerus rezim yang lama yang zalim dan sekuler yang ditumbangkan oleh rakyatnya. Mesir saat ini masih berhubungan baik dengan Israel dan tetap melayani kepentingan-kepentingan Barat yang nyata memusuhi Islam. Revolusi yang setengah-setengah hanyalah sebuah kehancuran dan akan tetap bergantung kepada sistem sekuler yang hanya mengantarkan ke kebinasaan.

Umat muslim dunia khususnya muslim di Suriah pasca revolusi Islam, hanya bisa diselesaikan dengan perubahan hakiki yaitu tegaknya sebuah institusi yang menerapkan Islam secara menyeluruh berdasarkan manhaj kenabian yang mampu mengatasi problematika umat.

Wallahualam bissawab.

 

 

 

Oleh: Titien Khadijah
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 11

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA