Revolusi Suriah dalam Kendali Turki dan Amerika

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Serangan yang dipimpin oleh Kamar Operasi Al-Fath Al-Mubin, yang terdiri dari Hai’ah Tahrir Al-Sham (HTS), Front Pembebasan Nasional (didukung Turki), dan Jaisyul Izzah selama 10 hari, akhirnya berhasil menumbangkan rezim bengis Bashar Assad.

Serangan yang awalnya ditujukan untuk membebaskan zona de-eskalasi di sekitar Idlib, meluas hingga mencapai Damaskus. Rakyat Suriah yang telah lama menderita di bawah rezim Assad turut bergabung. Tentara Suriah juga menunjukkan perlawanan minimal karena ketidakpuasan terhadap kepemimpinan rezim Assad sehingga mempercepat kekalahan rezim. Selain Tentara Nasional Suriah, koalisi faksi oposisi juga didukung oleh Turki.

Rezim brutal ini akhirnya tumbang dan berakhir pada Ahad, 8 Desember 2024. Kekejian Bashar Assad terjadi saat Arab Spring pada tahun 2011. Lebih dari 500.000 rakyat Suriah terbunuh. Perang saudara di Suriah juga telah menyebabkan lebih dari 6 juta orang mengungsi di dalam negeri dan hampir 5,6 juta rakyat Suriah pergi ke luar negeri.

Kebengisan Bashar Assad juga terjadi di Ghouta pada tahun 2013. Untuk membunuhi rakyatnya, Assad menggunakan senjata kimia. Ribuan tahanan politik juga diperlakukan dengan keji di penjara-penjara Suriah. Penjara Sednaya adalah salah satunya yang menjadi saksi bisu tempat rumah jagal manusia.

Pergerakan awal revolusi berawal saat pesan peringatan kepada Bashar Assad yang menolak normalisasi hubungan dengan Turki. Erdogan meminta Assad untuk berunding, tetapi Assad menolak dan mengajukan syarat seperti penarikan pasukan Turki dari wilayah Suriah. Karena tidak mendapatkan solusi politik dengan Assad, Erdogan akhirnya menggerakkan faksi oposisi dengan persetujuan Amerika setelah Assad terus menunda perundingan. Turki memberikan lampu hijau bagi faksi oposisi untuk memulai serangan. Jadi, serangan ini dikendalikan oleh Turki dan Amerika Serikat yang bertujuan untuk mendorong solusi politik baru di Suriah.

Rakyat Suriah harus sadar, bahwa sejatinya negara-negara kafir penjajah, seperti Amerika Serikat dan sekutunya, tidak akan pernah membiarkan revolusi di Suriah lepas dari kendali mereka.

Barat jelas tidak menginginkan Suriah menjadi negara yang berdasarkan Islam. Negara yang menjalankan syariah Islam secara menyeluruh dalam naungan Khilafah. Tentu saja ini sangat menakutkan bagi mereka. Sebab itulah negara kafir penjajah akan melakukan berbagai cara untuk menghalanginya. Kehadiran khilafah akan menjadi malapetaka bagi mereka dan meruntuhkan tatanan kapitalisme yang selama ini mereka bangun. Khilafah juga akan menghapus keberadaan entitas penjajah Yahudi dari tanah Palestina.

Selain itu, Khilafah akan menumbangkan penguasa-penguasa pengkhianat di Timur Tengah yang selama ini menjadi budak negara Barat. Singkatnya, Khilafah akan mengakhiri penjajahan Barat, dan membebaskan umat yang selama ini mengalami penderitaan di negerinya.

Rakyat Suriah, harus paham, bahwa solusi dari Barat tidak akan menyelesaikan penderitaan mereka. Perjuangan harus terus diarahkan untuk menggagalkan solusi sekuler yang ditawarkan penjajah. Perjuangan harus terus berlanjut hingga tercapainya tujuan yang sejati yakni kembalinya Khilafah Islamiyah, yang akan membawa kemuliaan dan keadilan sejati bagi umat Islam khususnya di negeri Syam.[] Achmad Mu’it

Views: 27

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA