Tinta Media – Tragis, Fat Cat seorang gamer asal Cina mengakhiri hidupny dengan melompat ke jembatan Chongqing usai diputus cinta oleh pacarnya karena menikah dengan pria lain. Tan Zhu merupakan perempuan idamannya sehingga rela berkorban secara
brutal. Ketika pacaran selama 760 hari sudah mengirim uang sebesar 510 ribu
yuan atau senilai dengan 1,8 miliar. (News.okezone, 10/05/24)
Cinta buta berujung petaka! Fenomena pacaran memang meracuni
pemikiran pelakunya karena mampu membuat seseorang melakukan banyak hal sesuai
keinginan. Akal didesain untuk mengikuti lifestyle dengan standar ganda.
Miris, bunuh diri jadi solusi dan tren masa kini. Fat Cat
bukan kasus yang pertama, melainkan ribuan kasus dari maraknya pacaran yang
digandrungi oleh remaja. Hal serupa menimpa seorang mahasiswi di Sleman,
ditemukan tak bernyawa dalam kondisi gantung diri. Dugaan kuat akibat
kekecewaan usai diputus oleh kekasihnya. (Harianjogja.com, 31/04/24)
Artinya memang ada yang keliru, baik dari sisi gaya hidup,
budaya, lingkungan, pendidikan, bahkan ranah ideologi.
Lifestyle diera digital notife hari ini selalu berkembang
dengan standar bercorak westernisasi. Pacaran menjadi kebutuhan untuk pemenuhan
nafsu yang harus di salurkan. Seseorang akan gelisah apabila naluri ini tidak
terpenuhi. Ironisnya apa pun jenis lifestyle-nya bercorak fun, food, fashion,
free sex, free thinking, film, dsb.
Westernisasi merupakan budaya barat dengan paradigma
sekuler. Artinya, pemisahan agama dengan aturan kehidupan. Alhasil setiap orang
bebas atas dirinya sendiri, bebas untuk membuat aturan seperti apa yang dipilih
untuk mengarungi kehidupan ini.
Paradigma sekuler melahirkan pemikiran liberal (free thinking)
yakni seseorang beranggapan bebas memilih teman bahkan menjalin hubungan dengan
siapa pun dan apa pun. Bebas mau bunuh diri, karena yang berhak atas nyawa
seseorang adalah dirinya sendiri. Barometer kehidupan adalah kepentingan dan
keinginan bukan baik dan buruk versi Al-Khaliq. Ketika realitas sudah tidak
sejalan dengan kepentingan maka dunia serasa hancur, masa depan suram, atau
bunuh diri menjadi solusi alternatif.
Realitasnya, kerusakan ini didukung dari sudut pandang
kurikulum pendidikan secara global atau internasional hanya fokus pada
pengembangan sumber daya manusia (SDM) yaitu fokus pada ketrampilan berpikir,
berkomunikasi, dan, pembelajaran sehingga mampu bersaing secara internasional
dalam mengikuti kemajuan teknologi dan globalisasi. (Pribadidepok.sch.id)
Kemaksiatan semakin merajalela di muka bumi yang fana, nyawa
tiada berharga. Menunjukkan kerusakan sistemik. Dalam segi pendidikan tidak
mampu melahirkan generasi bertakwa dan berbudi luhur sehingga menjadi lumrah
apabila generasi hari ini krisis moralitas.
Perlu dipahami bahwa hari ini, China menerapkan sebuah
ideologi sekuler, tidak melibatkan peran
Tuhan dalam mengatur kehidupan. Sehingga seseorang bahkan negara memiliki cara
pandang ini tentu akan mendikte Tuhan, mendudukkan agama sesuai keinginan dan
kebutuhan.
Sebuah ideologi apabila diinstal di dalam pemikiran
seseorang akan melahirkan perbuatan yang khas dan unik karena ideologi
merupakan ruhnya perbuatan. Realitasnya, China juga menerapkan sistem ekonomi
kapitalisme. Beranggapan bahwa untuk mendapatkan tujuan maupun keuntungan bebas
memanfaatkan apa pun termasuk memanfaatkan Tuhan. Menerapkan satu ideologi
selain Islam saja sudah salah, apalagi mencampuradukkan antara kedua sistem thogut
ini, tentunya mendatangkan murka Allah.
Rangkaian panjang ini didasarkan oleh lemahnya akidah Islam.
Akidah dianalogikan sebagai fondasi kehidupan, bagaimana ketika sebuah rumah
tanpa fondasi? Tidak mempertimbangkan komposisi materialnya, apakah akan
berdiri rumah yang kokoh? Itu hanya sebatas menggambarkan bangunan rumah.
Bagaimana Jika sebuah kehidupan tanpa aqidah Islam?
Allah sendiri membuat perumpamaan aqidah dengan pohon yang
baik, para ulama sepakat bahwa pohon yang baik seperti pohon kurma. Bagaimana
akar menghujam kokoh ke tanah, batangnya kokoh menjulang ke atas, daun yang
rimbun, dan buah yang manis. Seperti itulah aqidah, setidaknya dampak dari
aqidah yang kokoh ialah bermanfaat untuk orang seperti buah yang manis. (QS.
Ibrahim:24)
Muncullah konsekuensi apabila aqidah mengkristal pada hati
dan pemikiran seseorang yaitu melahirkan sakhsiyah islamiyah atau kepribadian Islam.
Alasan seseorang melakukan sesuatu amal perbuatan disandarkan pada hukum syara
merupakan buah manis dari aqidah Islam yang kokoh.
Allah sudah mengingatkan kepada kita, jangan mencari din
atau agama selain Islam, sebab tidak akan diterima serta di akhirat termasuk
orang yang rugi. (QS. Ali Imran:85)
Islam merupakan agama sekaligus seperangkat aturan kehidupan
yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (habl min Allah), manusia dengan
dirinya sendiri (habl min an-Nafsi), dan manusia degan manusia lain dalam
bermasyarakat (habl min nass) serta berisi tataran pemikiran yang khas (tsaqofah
Islam) secara menyeluruh.
Sejatinya kemaksiatan terjadi di penjuru dunia karena Islam
tidak lagi diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Fungsi Islam sebagai mabda
atau ideologi tidak lagi di gunakan setelah runtuhnya Daulah Turki Ustmani 14
abad silam.
Islam itu sangat jelas dalam mapping kehidupan, dari sumber
hukumnya, hukum perbuatannya, hingga sanksi dalam setiap tindak penyimpangan
ada di dalam Islam. Islam merupakan agama yang basic, sehingga hanya di dalam Islam
ada sistem politik Islam (Khilafah), sistem ekonomi, sistem pemerintahan,
sistem pergaulan, sistem pendidikan, dsb.
Bukan esensi dari Islam yang hilang dan tidak mengikuti
zaman, tetapi kaum muslimlah yang nyaman dengan produk sekuler, feminis,
liberal, dan isme-isme lainnya sehingga Islam diposisikan apa dan bagaimana
dekat dengan Allah. Apa itu sholat? Bagaimana tata cara sholat? Tanpa berpikir
untuk melaksanakan what and how, harus menjawab pertanyaan why terlebih dahulu.
Jawaban kenapa kita sholat akan mendapatkan strong why atau alasan kuat kenapa
kita melaksanakan hal tersebut.
Senada halnya dengan pertanyaan kenapa pacaran haram?
Bahwasanya sesuatu yang mendekati haram itu akan mengikuti zatnya yaitu
haram. Allah sudah mention kepada kita di
dalam QS. Al Israa ayat 32, peringatan untuk jangan mendekati zina, karena zina
itu perbuatan keji serta jalan yang buruk. Di dalam islam tidak ada yang
abu-abu semuanya jelas sesuai ketentuan dan aturannya.
Tidak ada sanksi (uqubat) dalam menangani berbagai tindak
kriminal yang sempurna dan adil selain hukum sanksi dalam Islam. Bagaimana
hukuman yang tepat untuk pelaku zina? bagaimana hukuman ditentukan kadar
maksiatnya? Semua itu di atur dengan mekanisme yang begitu sistematik tanpa
adanya revisi sepanjang masa.
Sejatinya, hanya dengan menerapkan Islam di dalam kancah
kehidupan akan menjadikan solusi haqiqi. Sudah saatnya pelajari Islam lebih
dalam, terapkan Islam Kaffah untuk melanjutkan kehidupan Islam.
Wallahu’alam Bisowab.
Oleh: Novita Ratnasari, S.Ak., Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 2
















