Gaza Darurat Pangan, di Mana Pemimpin Dunia?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Satu tahun tujuh bulan agenda Taufanul Aqsa sudah berjalan, tetapi sampai hari ini kita saksikan genosida masih terjadi di Gaza, Palestina. Sampai hari ini, telah banyak korban yang terus berjatuhan.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan Palestina (9/5/2025), jumlah korban syahid akibat agresi militer Israel telah meningkat menjadi 52.787 syuhada dan 119.349 korban luka sejak 7 Oktober 2023. Bukan hanya kebrutalan dari segi serangan udara dan darat, tetapi Israel juga menahan dan membatasi bantuan internasional masuk ke dalam wilayah Gaza.

Blokade total yang diterapkan pada awal Maret 2025, menjadi penyebab dari bertambahnya krisis kelaparan di Gaza. Penutupan akses masuk dan keluar di perbatasan Karm Abu Salem dan Beit Hanoun menjadikan truk-truk bantuan tidak bisa memasuki wilayah tersebut.

Tidak hanya kebutuhan pokok, akses air bersih juga terbatas. Pada akhirnya, Masyarakat Gaza menggunakan air asin atau air yang tercemar untuk dikonsumsi. Akibatnya, muncul berbagai penyakit dan infeksi pada kulit. Rumah sakit tidak mampu menangani pasien yang terus bertambah, karena kurangnya peralatan medis dan obat-obatan. Sehingga, hal ini menyebabkan kelaparan dan gizi buruk.

Dilansir dari Kantor Media pemerintah di jalur Gaza (29/4/2025), sebanyak 65 ribu anak dipindahkan ke rumah sakit karena kekurangan gizi parah dari 1,1 juta yang menderita kelaparan setiap hari.

Pada 3 Mei 2025, dilaporkan bahwa jumlah korban syahid akibat kelaparan telah meningkat menjadi 57 orang dan diperkirakan korban akan terus berlanjut. (www.borneotribun.com)

Masihkah kita tetap diam? Permasalahan Israel dengan Palestina bukan hanya sekadar permasalahan wilayah, tetapi jelas ingin membumihanguskan Palestina agar dibangun negara Israel. Sebagaimana alasan yang digunakan, “terdapat satu dalil keagamaan yang yang digunakan Zionis sebagai justifikasi atas tegaknya Israel, yakni “Janji Tuhan”. Kredo diserukan mendampingi istilah-istilah lain, seperti “Bangsa Pilihan” dan “Israel Raya” yang terbentang dari Mesir hingga Irak, menunjukkan bahwa golongan mereka seakan melihat peta wilayah itu sebagai janji Tuhan. Artinya, bukan hanya Palestina yang menjadi target, tetapi bagian wilayah yang termasuk bumi Syam. (bincangsyariah.com)

Dapat kita saksikan bersama bahwasanya pemimpin-pemimpin dunia hari ini hanya mampu mengecam Israel. Hanya kecaman dan juga perjanjian–perjanjian yang pada akhirnya dikhianati Israel.

Organisasi ulama juga sudah mengeluarkan fatwa jihad. Ali al-Qaradaghi, Sekretaris Jenderal International Union of Muslim Scholars (IUMS) mendesak kepada negara-negara muslim untuk segera melaksanakan intervensi secara militer, ekonomi, dan juga politik, guna menghentikan genosida dan penghancuran di Gaza. (Middle East Eye, 7/4/2025))

Apakah fatwa ulama sudah dijalankan oleh para pemimpin Islam? Nyatanya, belum ada pergerakan dari para pemimpin itu. Karena kenyataannya, negara-negara muslim hari ini berada di bawah komando Barat dengan dalih kerja sama, baik ekonomi, sosial, maupun politik. Akibatnya, pemimpin Islam takut negaranya tidak mendapatkan keuntungan, bahkan diperangi jika membantu Palestina. Ini dianggap mengganggu stabilitas negara. Maka, atas nama kepentingan nasionalisme, mereka menjaga keutuhan negaranya dengan hanya berkoar di media tanpa ada pergerakan.

Sebenarnya, tak ada alasan bagi umat Islam untuk takut kepada AS dan Israel. Namun, umat Islam terlihat kecil saat ini, akibat sekat nasionalisme. Jika kita kembali bersatu, maka akan menjadi kekuatan yang sangat besar. Akan tetapi, saat ini kita tidak mampu menggabungkan kekuatan militer umat Islam. Pemahaman nasionalisme yang ditanamkan oleh para penjajah telah mendarah daging dalam diri kaum muslim, membuat sekat pada negeri-negeri muslim. Akhir, umat fokus mengurusi negara masing-masing, sehingga menghilangkan ikatan persaudaraan Islam dengan muslim di belahan dunia yang lain. Selama umat masih menjadikan nasionalisme sebagai landasan berpikir, maka kita tidak akan bersatu dan jihad tidak akan terjadi.

Maka, sangat penting bagi kita memecahkan pemikiran nasionalisme dan menyatukan kembali umat Islam. Rasulullah saw. telah berhasil menyatukan kaum Anshor berasal dari Madinah dan kaum Muhajirin yang berasal dari Mekkah, serta mempersatuan suku-suku yang lain dengan ukhuwah Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Ukhuwah ini dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin dan juga para khalifah selanjutnya.

Umat wajib menyeru semua muslim di seluruh dunia dengan satu seruan, yaitu persatuan umat dan kewajiban untuk menolong saudaranya. Umat juga harus bergerak menuntut pemimpin muslim melaksanakan jihad di Palestina dan menegakkan Khilafah.

Maka, ketika Khilafah telah ditegakkan, pada saat itulah seruan jihad dalam satu komando akan terwujud. Tentara muslim dari seluruh wilayah di bawah naungan khilafah akan mampu mengusir tentara Israel.

Sungguh, hal demikian tidaklah mustahil. Allah Swt. berjanji bahwa Islam akan kembali memimpin dunia. Problematika umat yang melanda seluruh dunia, terkhusus negara-negara muslim adalah akibat dari penerapan peradaban Barat di badan umat Islam. Sistem kapitalisme telah membentuk sebuah peradaban tidak mengenal fitrah manusia,. Wallahu a’lam bishshawab. []

Oleh: Zayyin Afifah
Sahabat Tinta Media

Views: 20

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA