Generasi Hedonis dalam Cengkeraman Algoritma Kapitalis

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Rutinitas muda mudi di ruang digital, tanpa disadari, membentuk pola pikir serba instan. Algoritma platform dirancang untuk menggoda pengguna agar terus berlama-lama di depan layar. Di tengah sulitnya lapangan pekerjaan dan kuatnya tekanan tren pergaulan akibat _fear of missing out_ (FOMO), generasi muda menjadi sangat rentan terjerumus ke dalam judi online dan pinjaman online. Impitan ekonomi dipadu narasi “uang cepat” dan kemudahan pencairan dana menjadi umpan yang tampak solutif, padahal justru menjerat pada pilihan-pilihan pragmatis yang berujung kehancuran.

Hasil riset Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan mencatat bahwa 58 persen generasi muda terjerat pinjol akibat gaya hidup hedonis. Standar hidup yang menuntut pengalaman, flexing, dan selalu mengikuti tren—mulai dari makanan, fesyen, film, hingga hiburan—mendorong pola hidup “tampak sejahtera padahal tekor”. Kemudahan akses pinjaman, bahkan judol yang menjanjikan penghasilan semu, dijadikan jalan pintas untuk menopang gaya hidup tersebut.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Dr. Vera Intanie Dewi, Ketua Program Studi Magister dan Doktor, yang menegaskan bahwa mahasiswa seharusnya telah memiliki kemampuan mengelola keuangan sebelum terjun ke dunia kerja. Fakta menunjukkan, kelompok usia 17–40 tahun di Indonesia tercatat 61,7 persen tidak memiliki tabungan. Bahkan, 67 persen masyarakat baru mulai memikirkan manajemen keuangan menjelang masa pensiun. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat belum berada dalam kondisi sejahtera. Ditambah lagi, banyak generasi muda terimpit beban ekonomi karena harus menopang kehidupan orang tua atau lansia—fenomena generasi sandwich—yang hidup dalam kecemasan dan kebutuhan validasi sosial dari ruang digital, sehingga kerap kesulitan menentukan skala prioritas.

Berbagai data tersebut menunjukkan bahwa generasi muda berada dalam pusaran hegemoni digital. Mereka digiring untuk mengambil keputusan impulsif. Kapitalisme dan sekularisme menormalisasi individualisme dan gaya hidup bebas, sementara agama terpinggirkan dari ruang publik digital. Kreator konten lebih mengutamakan materi yang menguntungkan secara finansial dan menghibur, sehingga meningkatkan screen time dan secara halus menanamkan pemikiran sekuler. Sebaliknya, konten yang mengusung politik Islam kerap dilabeli ekstremisme, dibatasi, bahkan dihapus.

Sejatinya, platform-platform digital hari ini lahir dari rahim sistem kapitalisme. Sistem pendidikan yang berjalan pun menghasilkan generasi yang semakin jauh dari nilai-nilai agama. Kapitalisme yang diterapkan di negeri ini membentuk generasi tanpa arah hidup yang jelas, mengutamakan kepuasan materi tanpa memikirkan kehidupan akhirat. Negara pun tak mampu mengendalikan algoritma milik korporasi raksasa yang berorientasi pada keuntungan semata. Kondisi ini menjadi bagian dari agenda sistemis yang menjadikan generasi muslim sebagai objek bisnis digital.

Oleh karena itu, generasi yang terjerat kapitalisme harus diselamatkan. Hegemoni digital hasil peradaban sekuler yang berorientasi keuntungan sebesar-besarnya hanya dapat dihentikan melalui kedaulatan negara dengan sistem Islam. Penjajahan modern memanfaatkan tekanan ekonomi untuk menjerumuskan umat Islam ke dalam kehinaan yang berkelanjutan. Sistem digital Islam hanya dapat diterapkan oleh negara Islam yang berlandaskan akidah Islam dan hukum syariat yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dalam Islam, negara memosisikan pemimpin sebagai raa’in (pengurus dan pelindung umat). Negara bertanggung jawab menjaga akidah umat dan memenuhi seluruh kebutuhan rakyat, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial budaya, keamanan, hingga politik luar negeri. Negara Islam yang menerapkan Islam secara kafah tidak hanya memenuhi kebutuhan individu, tetapi menjamin kesejahteraan seluruh rakyat.

Dengan sistem ekonomi Islam, negara mengelola dan mendistribusikan sumber daya alam secara mandiri, mengembangkan teknologi industri, serta membuka lapangan pekerjaan bagi generasi sesuai keahliannya. Pendidikan menjadi prioritas utama melalui sistem pendidikan Islam kafah yang berlandaskan akidah Islam, sehingga melahirkan generasi berkepribadian Islam, berpola pikir islami, dan berperilaku sesuai syariat. Akidah yang kukuh menjadi fondasi umat, sehingga praktik ribawi, perjudian, narkoba, dan gaya hidup hedonis dapat dicegah secara sistemis.

Dalam sistem digital Islam, negara menetapkan regulasi sesuai syariat. Ruang digital diarahkan untuk konten yang mendidik, menyehatkan, dan mendorong kemajuan ekonomi serta teknologi. Negara melakukan filterisasi terhadap konten yang merusak akal dan moral, serta menerapkan sanksi tegas bagi pelanggaran. Konten bermuatan kemaksiatan akan dihapuskan secara menyeluruh.

Pada hakikatnya, dunia digital adalah bagian dari madaniyah yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah Islam kafah ke seluruh penjuru dunia. Melalui dakwah inilah, umat khususnya generasi muda, memahami makna perubahan sejati dalam Islam. Generasi perlu terlibat dalam pembinaan dan pengkajian Islam ideologis agar terbentuk jati diri muslim yang hakiki—generasi yang memiliki visi hidup bermakna, kesadaran sebagai bagian dari umat, dan kesiapan menjadi agen perubahan menuju tatanan kehidupan Islam yang lebih baik. Wallahualam bissawab.

Oleh: Dewi Poncowati
Aktivis Muslimah Peduli Generasi

Loading

Views: 40

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA