Guru Dijadikan Kriminal, Potret Bobroknya Sistem Pendidikan Nasional

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal, di balik ungkapan ini ada rentetan beratnya tugas guru demi kemajuan taraf berpikir generasi dan juga membentuk karakter mulia pada anak negeri. Namun ironisnya, segudang tugas mulia ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi yang harus mereka hadapi.

Berbagai problematika menghantam sistem pendidikan kita, seperti hilangnya rasa hormat murid terhadap guru, murid yang melawan atau mencelakai guru, kasus guru yang dikriminalisasi, belum lagi minimnya gaji yang diterima oleh guru honorer. Beratnya beban kehidupan membuat banyak guru yang terjerat pinjol (pinjaman online) dan judol (judi online), bahkan beberapa kasus asusila terjadi antara guru dengan murid, dan juga kasus-kasus pelecehan lainnya.

Dalam laman liputan6.com (22/10/2024) Kemendikdasmen, perayaan Hari Guru Nasional 2024 kali ini mengusung tema ‘Guru Hebat, Indonesia Kuat’. Ini merupakan dukungan dan apresiasi untuk seluruh guru di Indonesia. Tahun ini peringatan Hari Guru Nasional menjadi perayaan ke-30 sejak 1994 lalu. Pada tahun ini juga pemerintah merilis logo perayaan Hari Guru Nasional, yakni dominasi warna merah dan putih serta dituliskan tema perayaan tahun ini.

Artinya, sejak 30 tahun yang lalu Indonesia telah melakukan puluhan perayaan seperti ini. Lalu, apakah nasib guru sudah sangat sejahtera? Atau justru sebaliknya, dipenuhi dengan duka dan nestapa? Bagaimana bisa seorang pendidik yang mulia dijebloskan ke penjara oleh orang tua anak didiknya sendiri? Bagaimana bisa berbagai problematika pendidikan datang bak derasnya
air hujan?

Kapitalisme Sekuler Jadikan Biang Keladi

Masyarakat saat ini diserang habis-habisan oleh pemikiran Barat dari berbagai penjuru. Yang paling ironi adalah sistem pendidikan yang juga sudah disusupi. Bayangkan, bagaimana jadinya generasi sekarang jika mereka dijauhkan dari agamanya sendiri? Mereka dituntut percaya bahwa semua agama sama, juga diwajibkan toleransi dengan ikut memahami, bahkan mempelajari agama lain.

Dalam bidang fashion, gaya hedon menyerang berbagai lapisan masyarakat, termasuk guru dan pelajar. Dengan kendaraan, gadget dan outfit yang harganya di atas pendapatan mereka, seharusnya sulit didapatkan kaum pelajar kecuali memang mereka berasal dari keluarga berada. Tak heran banyak yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan keinginan.

Meskipun haram, jika menguntungkan tak masalah. Urusan neraka masih lama. Astaghfirullah, serusak inikah mereka?

Di bidang fun dan food, mereka juga dihasut. Mereka merasa belum keren kalau belum mencoba yang sedang trend. Perkara viral menjadi tujuan, bahkan alkohol dan dunia malam mereka jadikan petualangan. Halal haram bukan pedoman. Hidup cuma sekali, urusan tobat belakangan. Seperti inilah jawaban mereka jika dinasihati. Entah itu kalimat motivasi atau hanya sekadar penghibur diri.

Lingkungan sekolah dan masyarakat yang sudah terkontaminasi juga mempercepat kerusakan pada akhlak dan akidah anak. Sudah berkali-kali kurikulum pendidikan diganti, tapi belum juga memberikan hasil berarti.

Kesejahteraan guru masih jauh dari harapan. Banyak guru, terutama honorer yang kesulitan finansial. Pendapatan yang diterima sangat kurang jika dibandingkan dengan jasa pengabdian.

Abainya negara terhadap hidup mereka juga menjadi alasan, banyak guru terlibat pinjol ilegal. Bahkan, beberapa guru mendapatkan potongan-potongan yang diambil secara otomatis saat gajian. Bukannya ditambah, gaji guru malah berkurang, sementara semua bahan pokok, BBM, dan listrik mengalami kenaikan.

Mulianya Guru dalam Islam

Guru adalah sebuah amanah yang berat, ibarat cahaya yang harus menghilangkan kegelapan dan menerangi jalan. Selain mengajar, yang paling penting adalah membentuk karakter dan akhlak para murid, sehingga guru harus bisa menjadi teladan terbaik yang akan ditiru.

Guru harus mengajarkan cara berpikir yang benar dan berbasis syari’at, tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh syari’at. Guru harus menjunjung tinggi kebenaran dan memberantas kebohongan dan kebatilan.

Peran guru akan sangat baik jika difasilitasi oleh negara dan didukung oleh orang tua, sekolah, serta masyarakat. Jangan sampai guru berjuang sendirian.

Dalam Islam, menuntut ilmu adalah wajib, dan ilmu tak lepas dari sistem pendidikan. Oleh karena itu, negara akan memberikan wadah berupa pendidikan terbaik untuk guru dan murid, melengkapi infrastruktur, sarana, prasarana, serta kebutuhan penyelenggaraan pendidikan agar terlaksana dengan baik.

Di masa pemerintahan Islam, dalam masa keemasannya, guru adalah profesi tertinggi dan mendapat penghargaan. Negara juga mendukung kesejahteraan para guru melalui baitul mal dan dijamin oleh negara secara gratis atau dengan biaya termurah sebagai hak setiap rakyat.

Biaya pendidikan juga bisa didapatkan dari hasil wakaf, meskipun akomodasi pendidikan merupakan tanggung jawab negara. Akan tetapi, tidak menutup kesempatan bagi masyarakat untuk berperan dalam memajukan bidang pendidikan.

Khatimah

Jika kesejahteraan guru dijamin oleh negara, maka guru dapat fokus mengajar, memberikan ilmu, dan tidak perlu mengalami tekanan ekonomi hingga terlibat pinjol dan lainnya.

Pemerintahan Islam berbasis syariah dan menerapkan aturan sesuai Al-Qur’an dan as-Sunah. Aturan ini berasal dari Sang Pencipta yang tidak akan menzalimi mahluk Nya.

Dalam negara Islam, pejabat pemerintahan bukanlah penguasa, melainkan pelayan yang akan mengurusi umat, dan tidak mendahulukan kepentingan diri mereka sendiri.

Jika syariat Islam diterapkan secara sempurna, maka rahmat akan turun dari langit dan bumi. Wallahu ‘alam bishawab.

 

 

 

 

Oleh: Audina Putri
Aktivis Dakwah Muslimah

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA