Idul Fitri dan Kemenangan di Gaza

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Zionis membombardir Gaza saat warga merayakan Idul Fitri 1446 H, Minggu (30/3). Serangan brutal itu merenggut 9 nyawa, 5 di antaranya anak-anak. Dilansir dari Al-Jazeera, warga Palestina menggelar salat Idul Fitri. Namun, serangan Israel seakan tak ada hentinya. Terbaru, sejak pelanggaran gencatan senjata tanggal 18 Maret, korban meninggal berjumlah 1.522 orang dan 3.834 lainnya terluka. (CNN Indonesia, 30/03/25)

Betapa mencekamnya suasana di Palestina. Ketika bulan Ramadan, mereka menahan lapar siang dan malam, berbuka masih dalam keadaan lapar, bertahajud dengan lumuran darah anak-anaknya.

Idul Fitri sejatinya menjadi momen bagi umat Islam merayakan kemenangan di seluruh penjuru dunia, tetapi tidak dengan warga Palestina. Mereka masih berhadapan dengan manusia kejam yang tak kenal rasa kemanusiaan, bak binatang yang menghabisi mangsanya. Bom di mana-mana. Dengan skala ratusan kali lebih tinggi, tubuh-tubuh lemah tanpa senjata itu dibom hingga berhamburan, beterbangan ke langit. Sungguh pemandangan yang memilukan dan tidak masuk akal.

Meskipun gencatan senjata dilakukan, para penjajah biadab Zionis terus menampakkan kemalangan luar biasa kepada saudara-saudara kita di Palestina. Jangan pernah lupakan bahwa penjajah Zionis dan AS adalah pengkhianat perjanjian. Sejarah telah membuktikan sejak masa Rasulullah di Madinah, tampak saat Bani Nadhir dan disusul Bani Quraidzah yang melanggar perjanjian dengan Rasulullah. Padahal, harta dan jiwa mereka dijaga oleh Rasulullah ketika beliau yang memimpin.

Sistem yang Tak Memanusiakan Manusia

Umat Islam dengan kondisi yang mengenaskan atas kebrutalan Zionis Yahudi la’natullah adalah buah dari sistem yang dianut negeri-negeri muslim hari ini. Sistem kapitalisme tak mempunyai solusi paripurna dalam menyelesaikan genosida di Palestina dan penjajahan di negeri-negeri Islam lainnya.

Sekat-sekat nasionalisme juga menjadi pemicu diamnya kaum muslimin yang berbeda negara. Salah satu buktinya, antara Mesir dan jalur Gaza di Rafah (wilayah di Palestina) terbentang tembok tebal dan panjang yang membatasi kaum muslimin yang bersaudara.

Sekat-sekat ini menghantarkan manusia pada titik terjauh dari hanya sekadar empati, bahkan mendoakan pun sungkan. Terlihat dari bulan Ramadan, tak ada masjid-masjid yang signifikan mendoakan saudara kita di Palestina. Ini karena individualisme. Paham-paham ini kemudian melahirkan masalah baru, bahkan terbukti tak sanggup menyelesaikan pembantaian di Palestina.

Mesir yang berbatasan langsung dengan jalur Gaza misalnya, seharusnya dengan mudah membuka tabir antara wilayahnya dan wilayah Gaza. Kota Kairo, ibu kota Mesir hanya berjarak kurang lebih 400 km dari Gaza, seperti jarak antara Jakarta dan Semarang, butuh sekitar 4 jam naik mobil. Jarak yang tidak terlalu jauh. Namun, sekat imajiner inilah yang membatasi seolah mereka bukan manusia yang layak ditolong. Sekat yang membatasi bahwa muslim di Mesir, Arab, dan yang lainnya abai pada sekelilingnya. Padahal, umat Islam adalah bersaudara. Sekat yang dibuat dari hasil produk Barat dan diadopsi seluruh umat Islam di dunia.

Sekat-sekat ini menghantarkan manusia pada titik terjauh dari hanya sekadar empati karena paham individualisme. Juga produk buatan manusia lainnya yaitu demokrasi, HAM, moderasi tak mampu menyelesaikan genosida dan semua problematika kehidupan.

Bukan Hanya Doa, Pembebasan Palestina Harus dengan Jihad

Sebelumnya, sudah lama raja Mesir mengklaim bahwa Israel memiliki strategi politik untuk mengevakuasi rakyat Gaza. Proyek lama diembuskan Trump tentang isu pemindahan warga Palestina dari jalur Gaza ke Mesir dan Jordania. Padahal, tanah yang diduduki Zionis Israel saat ini adalah tanah kepunyaan kaum muslimin, sejak  Khalifah Umar bin Khattab menerima kunci Baitul Maqdis dari tangan seorang Sophronius, petinggi umat Kristiani. Maka, otomatis umat Islam saat itu, bahkan tanpa peperangan berhasil membebaskan Baitul Maqdis dan seluruh penduduknya dari kebiadaban penguasa Romawi. Umar bin Khattab lalu memberikan jaminan perlindungan dan keamanan kepada Yahudi dan Kristen. Maka, pada tahun 637 baik umat Islam, Nasrani, maupun Yahudi tercatat hidup dengan aman dan berdampingan di Yerusalem.

Namun hari ini, Gaza terus dibombardir dan penduduknya tak punya apa-apa untuk melindungi diri dari sinar matahari, apalagi berlindung dari hujan pesawat dan artileri. Gaza saat ini masih dibombardir dan tiada yang tersisa untuk mengobati yang terluka. Tak ada yang tersisa dari mereka yang syahid dengan kumpulan daging dan tulangnya.

Gaza saat ini sedang dibombardir. Pengepungan dari atas dan bawah seolah tak henti. Keluarga yang syahid tak punya tempat untuk menggelar rumah duka. Namun, kita mampu melihat saban waktu tanpa jeda tanpa bisa berbuat apa-apa.

Idealnya, yang bisa kita lakukan sekarang adalah memobilisasi kekuatan dari negeri muslim. Namun, karena umat belum bisa melakukan itu semua, maka rakyat wajib mendesak pemerintah untuk melakukan langkah-langkah lebih efektif. Bila dalam perspektif agama, maka jihad adalah solusinya, yaitu mengirimkan tentara terbaik untuk menjemput kemenangan dan solusi hakiki bagi rakyat di Palestina.

Sudah saatnya umat meyakini bahwa solusi alternatif bagi penjajah di setiap negeri kaum muslimin adalah jihad fii sabilillah. Kita harus bersatu di bawah naungan Khilafah. Dengannya menjadi adidaya dunia, kita bisa mengangkat kehormatan agama ini sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, dengan tegaknya hukum Allah di muka bumi selama 1300 tahun lamanya, bukan hukum buatan manusia yang cacat buatan Barat.

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa ketika dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah, kamu merasa berat dan cenderung pada (kehidupan) dunia? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal, kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih serta menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (TQS. At-Taubah: 38-39).

Wallahu a’lam bisshawab.

Oleh: Lisa Herlina
Aktivis Dakwah

Loading

Views: 13

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA