Moderasi Beragama, Solusi Dekadensi Moral Remaja?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Hari ini masyarakat dikenyangkan oleh berbagai kabar
mengenai perundungan, pelecehan, seks bebas, aborsi dan tindakan kriminalitas
lainnya yang banyak dilakukan oleh para remaja. Hal ini membuka lebar mata
kita, menyoal dekadensi moral yang makin parah di kalangan remaja, termasuk
pelajar. Mengingat mayoritas dari pelajar adalah para remaja.

              Remaja
yang memiliki potensi besar membentuk peradaban maju, justru berperilaku
berkebalikan yang mencerminkan adanya pemahaman dan pemikiran buruk pada diri
remaja saat ini. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut pemerintah memberi
solusi dengan penanaman moderasi beragama melalui institusi pendidikan.

              Sebagaimana
yang dikabarkan Republika.co.id pada Rabu (11/09), telah diselenggarakan
kegiatan sosialisasi moderasi beragama di Balikpapan, Kalimantan. Kegiatan ini
dihadiri oleh ibu Iriana Joko Widodo, ibu Wury Ma’ruf Amin, serta para istri
menteri yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia
Maju (OASE KIM) “Kegiatan Sosialisasi Moderat Sejak Dini’ ini mengusung tema
“Cinta Tuhan Dengan Mencintai Indonesia”, yang diikuti oleh 500 pelajar lintas
agama dari sekolah SMA dan MA se-Kota Balikpapan di bawah naungan Kemenag dan
Kemendikbudristek.

              Adapun
tujuan dari kegiatan ini yang sengaja disasarkan pada kalangan pelajar,
disampaikan oleh Eny Retno Yaqut, istri Kemenag Yaqut dalam sambutannya. Yakni
supaya para pelajar tertanamkan nilai moderasi beragama sejak dini. Dengan hal
itu diharapkan dapat membentuk para pelajar yang mencintai toleran dan damai.
Dan para pelajar yang mengikuti sosialisasi ini bisa mempraktikkan nilai-nilai
moderasi beragama dengan sikap toleransi, anti kekerasan, komitmen kebangsaan
dan penerimaan terhadap tradisi lokal, serta menjadi duta moderasi di sekolah
masing-masing.

              Eny juga
mengatakan bahwa Kemenag berkomitmen untuk terus memfasilitasi nilai-nilai
moderasi, salah satu buktinya  yakni
dengan kegiatan sosialisasi tersebut. Ibu Iriana juga memastikan bahwa acara
sosialisasi moderasi semacam ini akan ada untuk selanjutnya.

Benarkah Menjadi Solusi?

              Kita tahu
betul bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di
dunia. Sehingga sebagai seorang muslim sudah selayaknya dan sepatutnya
menjadikan Islam sebagai way of life dalam kehidupannya, bahkan dari bangun
tidur hingga tidur kembali. Juga paham di luar kepala bagaimana Islam mengatur
kehidupan.

              Namun, di
era Sekuler-Kapitalis saat ini, orang-orang yang paham dengan agamanya sendiri
justru di-cap ‘Radikal’ dan dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Maka moderasi
beragama yang digaungkan di institusi pendidikan, tak lain dasar tujuannya
yakni menangkal radikalisme di kalangan pelajar, yang dianggap mengancam
eksistensi ideologi Sekuler-Kapitalis.

              Berangkat
dari definisi moderasi beragama sendiri , yang memberi pengertian bahwa dalam
beragama kita harus mengambil jalan tengah, tidak perlu ekstrem dan tidak perlu
fanatik dengan ajaran yang dianut, menyelaraskan tujuan moderasi beragama
dengan pengecapan radikal terhadap kaum muslim. Yaitu menjadikan seseorang
berprofil moderat dan menjauhkan dari profil kepribadian Islam. Sehingga untuk
mendapatkan moral yang baik itu sendiri sangat sulit untuk didapatkan.

              Moderasi
beragama merupakan wujud upaya Barat dalam mencampurkan pemikiran Islam dengan
pemikiran liberalism, seperti HAM, feminisme, pluralism, dan
pemikiran-pemikiran barat lainnya. Moderasi menjadi wasilah Barat untuk
penanaman ide-ide mereka secara implisit dan halus. Dengan begitu, moderat yang
sejalan dengan pemikiran Sekuleris menjadi pengokoh berdirinya ide tersebut dan
menghalangi kembalinya berdirinya Islam Kaffah.

              Padahal,
jika dinalar, kerusakan moral justru terjadi dan akan semakin parah ketika
seseorang tidak memegang teguh agamanya. Karena dalam agama Islam, nilai-nilai
moral tertanamkan, terterapkan dan menyatu, dengan keseharian, dan otomatis
menjadi sebuah kepribadian yang baik akhlaknya.

              Dari sini
jelas, bahwa sistem kapitalis tidak mampu untuk menyelesaikan problem, bahkan
tidak menyentuh akar persoalan. Sejatinya hal ini menunjukkan kekhawatiran yang
cenderung terhadap ancaman kebangkitan Islam, bukan pada dekadensi moral
remaja. Sehingga solusi yang diberikan tentu mengarah pada penghapusan
nilai-nilai Islam. Kejadian ini pula menguak tugas para penguasa dalam menjaga
sistem dan ideologi titipan Barat.

Perspektif Islam

              Berbanding
terbalik dengan kehidupan bernegara yang menjadikan Islam sebagai aturan
kehidupan. Melalui institusi pendidikan, negara akan memastikan bahwa tiap
kurikulum serta materi yang disampaikan berbasis syariat Islam. Syariat Islam
sendiri mencakup berbagai aturan kehidupan.

              Terlebih
adanya perintah Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah [2:208] yang berarti

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam
secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia
musuh yang nyata bagimu”

Dari ayat tersebut, menunjukkan adanya perintah untuk masuk
Islam secara keseluruhan. Moderasi beragama jelas bertentangan dengan kandungan
ayat tersebut. Paham berbahaya semacam moderasi ini jelas tidak akan disebarkan
dalam dunia Pendidikan Islam. Negara akan menjamin individu untuk memiliki
kesempurnaan iman melalui penerapan Islam secara komprehensif. Dalam bidang
pendidikan, negara akan menjaga dan terus memperbaiki kualitas remaja dengan
ideologi Islam. Dengan begitu, remaja akan paham agama Islam dengan baik,
sehingga  Islam akan menjadi kompas moral
dan berpikirnya.

              Hal ini
menjadi bukti bahwa hanya Islam yang mampu mencetak dan mewujudkan profil
pelajar Islam yang tangguh, pembangun peradaban mulia dan berkepribadian Islam.
Sehingga tak layak bagi kita untuk terus berada di sistem kufur
Sekuler-Kapitalis saat ini. Inilah saatnya kita untuk kembali berjalan hidup
dengan aturan Sang Khaliq yang hanya bisa diterapkan dengan Daulah Khilafah. WalLah a’lam bi ash-shawab.

Oleh : Darisa Mahdiyah, Sahabat Tinta Media 

Loading

Views: 12

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA