Negara Bertanggung Jawab atas Mental Generasi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Tragedi berdarah yang terjadi pada hari Sabtu tanggal 30 November 2024 di kawasan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, menjadi berita yang sangat menyesakkan. Seorang anak berinisial MAS yang baru saja berusia 14 tahun dengan kejamnya menusuk kedua orangtua dan neneknya yang berada satu atap dengannya. Kejadian itu berlangsung dini hari saat semua keluarga tengah tertidur (Tempo.co, 1/12/2024).

Hingga saat ini kepolisian masih menyelidiki motif pelaku. Awalnya ia mengaku mendapat bisikan yang meresahkannya sehingga ia melakukan hal keji tersebut. Hasil pemeriksaan pun menunjukan pelaku tidak sedang dalam pengaruh obat-obatan, sehingga penyidik pun melakukan pemeriksaan psikologi terhadap pelaku. Masih banyak contoh kasus pembunuhan yang dilakukan oleh anggota keluarga sendiri. Dikutip dari harian kompas.com (24/9/2024) tercatat ada beberapa kasus pembunuhan, salah satunya yang terjadi pada hari Jum’at 23/8/2024 sore hari di Desa Kasugengan Kidul, Kab. Cirebon, Jawa Barat. Seorang anak 29 tahun tega membunuh ayah kandungnya yang berusia 79 tahun.

Banyaknya kasus pembunuhan oleh anggota keluarga terhadap anggota keluarganya yang lain menjadi fenomena tersendiri. Hal tersebut menunjukan tidak adanya pengendalian diri yang baik terhadap emosi maupun kejiwaan para pelakunya. Kesemuanya itu bisa jadi disebabkan berbagai faktor, salah satunya faktor ekonomi, pendidikan, ataupun rusaknya pribadi seseorang karena menganut faham rusak yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya dijadikan sarana ibadah, tanpa menerapkan aturannya yang dibawa pada kehidupan sehari harinya.

Lebih luasnya lagi dalam hal ini negara belum mampu mengurangi faktor faktor yang mungkin menjadi penyebab terjadinya tindak kriminalitas dalam sebuah keluarga. Misalnya faktor ekonomi, himpitan ekonomi yang saat ini serba sulit bisa menjadi pemicu terjadinya tindak kriminalitas baik di lingkungan keluarga maupun bukan. Ataupun faktor pendidikan, kurangnya pemahaman tentang agama bisa membuat seseorang tumbuh dengan karakter yang rusak sehingga mudah melakukan tindakan buruk tanpa memikirkan konsekuensinya.

Dalam Islam, negara sebagai raa’in (Pengurus), dia bertanggung jawab dalam hal membangun dan mencetak generasi-generasi berkualitas, berilmu dan berkarakter sesuai dengan akidah Islam. Dengan menjaga faktor pendidikannya dari segi fasilitas ataupun kurikulum yang disampaikan, juga dari segi ekonominya yang stabil yang mampu mensejahterakan rakyatnya. Ditambah dengan sistem sanksi yang tegas dan bisa membuat jera para pelaku kejahatan.

Negara harus menjaga setiap aspek kehidupan dari berbagai hal negatif yang merusak sehingga nantinya akan dapat mengurangi faktor-faktor terjadinya tindak kriminalistas. Negara yang dipimpin dengan kepeminpinan Islam akan mampu membangun sistem yang berasaskan akidah Islam sehingga mencetak generasi yang beriman, bertakwa, berilmu dan memiliki mental yang kuat. Pola pikir dan pola sikapnya sesuai dengan aturan yang Islam tetapkan.

Wallahu a’lam bish shawwab.

 

Oleh: Ira Damayanti
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA