Tinta Media – Begitu lantang dan penuh semangat meneriakkan slogan “NKRI Harga Mati”, seolah menjadi pihak yang paling cinta tanah air. Namun ironisnya, tidak sedikit dari mereka justru tersandung kasus korupsi dan bahkan telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Cinta tanah air sejatinya adalah naluri manusia. Akan tetapi, sebesar apa pun rasa cinta itu, tidak cukup hanya diungkapkan lewat slogan yang menggebu-gebu. Cinta sejati harus dibuktikan melalui perbuatan nyata yang menunjukkan tanggung jawab dan kepedulian terhadap negeri tempat kita dilahirkan.
Jika benar-benar cinta pada negeri ini, seharusnya kita menghadirkan solusi, bukan justru menciptakan masalah dengan merugikan negara melalui praktik korupsi. Negeri ini membutuhkan jalan keluar yang nyata, bukan sekadar pencitraan. Harapan baru hanya akan lahir dari upaya sungguh-sungguh untuk membawa bangsa ini keluar dari kegelapan menuju cahaya, bukan dari teriakan slogan yang bertolak belakang dengan perbuatan.
Sudah saatnya kita berpikir secara cerdas bahwa solusi terbaik bagi manusia berasal dari Tuhan Sang Pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta. Gerakan Reformasi memang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru, tetapi faktanya tidak membawa perubahan yang hakiki. Isu KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang dahulu diusung mahasiswa hanya mampu mengganti rezim, bukan mengganti sistem kapitalisme demokrasi yang menjadi akar persoalan negeri ini.
Pergantian rezim terbukti tidak serta-merta menghapus KKN. Korupsi tetap tumbuh subur, bahkan dilakukan oleh pejabat yang mengeklaim diri paling nasionalis dan paling NKRI. Kolusi dan nepotisme pun terus berlanjut, ditandai dengan politik dinasti—ketika kekuasaan diwariskan kepada anak, menantu, atau kerabat dekat. Negeri ini kian gelap di bawah kendali orang-orang serakah yang tamak terhadap kekayaan dan kekuasaan. Cara pandang kapitalistik yang tertanam dalam benak para pejabat menjadikan kekuasaan sebagai sarana meraup keuntungan materi, bukan untuk mengurusi kepentingan rakyat.
Hal ini sangat berbeda dengan politik dalam Islam. Dalam pandangan Islam, kekuasaan adalah amanah untuk mengurusi urusan rakyat agar mereka merasa aman dan terpenuhi hak-haknya untuk hidup sejahtera, terlebih di negeri yang memiliki kekayaan alam melimpah. Sistem Islam menjaga umat dari perbuatan yang melanggar syariat Allah. Penerapan Islam secara kafah akan melahirkan kehidupan yang berkah dan jauh dari berbagai problem. Tidakkah kita berpikir jernih untuk meninggalkan sistem kapitalisme demokrasi yang terbukti menjadi akar masalah, dan beralih kepada sistem Khilafah yang insyaallah membawa negeri ini dari gelap menuju terang?
Penegakan hukum yang tegas dan adil akan mampu memberantas korupsi serta berbagai kejahatan dan penyimpangan lainnya. Rakyat pun merasa aman dan terlindungi. Sumber daya alam yang sejatinya milik rakyat dikembalikan kepada pemiliknya, dikelola oleh negara, bukan diserahkan kepada korporasi swasta atau asing, sehingga hasilnya dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.
Dalam sistem Islam, rakyat diberi kebebasan menyampaikan pendapat dan mengoreksi penguasa ketika kebijakannya menyimpang dari syariat Allah, tanpa ancaman kriminalisasi. Rakyat hidup sejahtera dan aman di negeri yang indah serta kaya sumber daya. Sudah saatnya kita duduk bersama, saling mengingatkan, bukan saling menyalahkan, dengan kembali pada hukum Tuhan Pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta. Inilah saatnya menegakkan sistem Khilafah melalui penerapan syariat Islam secara kafah, agar negeri ini benar-benar keluar dari kegelapan menuju cahaya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 35
















