Tinta Media – Ramadhan identik dengan Al-Qur’an. Pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan pertama kali oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril sebagai petunjuk bagi manusia sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185.
Peristiwa menakjubkan ini sering diperingati oleh umat Islam dengan kegiatan Nuzulul Qur’an. Di Indonesia, Nuzulul Qur’an diperingati setiap malam ke 17 Ramadhan. Bertepatan dengan tanggal 16 Maret 2025, Pemerintah melalui kementerian agama mengadakan 350 ribu khataman Al-Qur’an pada 16 Ramadhan 1446 Hijriah di berbagai wilayah di Indonesia. Acara ini diadakan agar umat Islam semakin mencintai Al-Qur’an, dengan semakin membaca, mempelajari dan mengamalkan isi Al-Qur’an (www.metronews.com, 16/03/25).
Al-Qur’an Sumber Kebenaran
Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad. Tidak ada yang meragukan kebenarannya. Isinya merupakan kalam Allah SWT yang mampu menjawab seluruh persoalan manusia. Al-Qur’an bukanlah buatan manusia. Allah sendiri yang menegaskan hal ini dalam berbagai ayat di dalam Al-Qur’an. Sebagai contoh dalam surat An Nisa ayat 82 yang berbunyi :
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”
Al-Qur’an memberikan pengaturan yang lengkap bagi manusia, baik itu masalah individu terkait ibadah maupun dalam interaksi bermasyarakat dan bernegara.
Ada ayat yang berbicara tentang ibadah dan akhlak, misalnya perintah sholat, puasa, makan dan minum dengan yang halal dan thayib. Ada ayat tentang muamalah, seperti jual beli, hutang piutang, dan pinjam meminjam. Ada juga ayat-ayat yang berbicara tentang pendidikan, kesehatan, hukum dan juga politik. Sangat lengkap.
Menjadi konsekuensi logis bagi seorang Muslim yang beriman kepada hari Akhir untuk mengamalkan seluruh isinya, yang teraplikasi dalam penerapan undang-undang dalam bermasyarakat dan bernegara.
Nuzulul Qur’an, Hanya Seremoni
Setiap tahun di beberapa negara digelar kegiatan Nuzulul Qur’an, namun faktanya semua itu hanya seremonial belaka. Meski Al-Qur’an sempurna, faktanya keberadaannya saat ini tidak memberikan dampak signifikan bagi nasib umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam tidak menjadi umat mulia sebagaimana yang disebut dalam Al-Qur’an. Tidak ada kebangkitan yang terjadi pada umat Islam. Umat Islam tidak menjadi sebaik-sebaik umat. Di berbagai belahan dunia masih banyak umat Islam tertinggal dan tertindas seperti Palestina, Suriah, Rohingya, Uighur, dan lainnya.
Al-Qur’an sebagai sumber hukum nyatanya tidak digunakan untuk menetapkan perundang-undangan yang ada. Hukum-hukum yang lahir di dalamnya tidak pernah diterapkan di tengah-tengah masyarakat.
Sistem sanksinya hanya sebatas teori untuk diketahui. Semua ini tidak lain karena dampak dari penerapan sistem kapitalis demokrasi yang tegak hari ini. Sistem yang berlandaskan sekuler dalam beragama, menempatkan manusia sebagai pihak yang berhak mengatur kehidupan. Manusia yang lemah kemampuan akalnya dan terbatas, diberikan kebebasan dalam menciptakan undang-undang yang sering kali menimbulkan konflik dan kontradiksi antara berbagai pihak yang berujung pada demonstrasi dan amandemen.
Campakkan Demokrasi
Sistem demokrasi yang diterapkan hari ini menjadikan peran agama benar-benar dijauhkan dalam mengatur kehidupan. Sering kali sentimen negatif diberikan kepada orang-orang yang memperjuangkan penerapan Al-Qur’an secara kaffah dengan stigma teroris, radikal, Islam garis keras, dan sejenisnya. Tentu ini adalah opini yang menyesatkan. Seorang Muslim sudah seharusnya mengikatkan semua perbuatannya pada syariat Islam. Beriman kepada Al-Qur’an memberikan konsekuensi membenarkan semua isi yang dikabarkan di dalamnya. Sehingga sudah sepatutnya semua amal perbuatannya harus berlandaskan dan berpedoman pada tuntutan di dalam Al-Qur’an.
Kesimpulan
Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momentum penting untuk mengingatkan kembali kenapa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia adalah sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Namun, saat ini umat Islam semakin jauh dari ajaran Qur’an itu sendiri. Al-Qur’an hanya sebatas dibaca, dan dihafal tanpa diimplementasikan dalam kehidupan. Oleh karena itu diperlukan aktivitas penyadaran di tengah-tengah masyarakat oleh sebuah kelompok dakwah ideologis yang akan mengarahkan pandangan masyarakat untuk berislam secara kaffah melalui penerapan Al-Qur’an secara kaffah sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 208:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٢٠٨
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.”
Wallahu alam.
Oleh: Zahra Tenia
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 12
















