Palestina dan Matinya Rasa Kemanusiaan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Bertepatan dengan hari raya Idul Adha, Israel kembali melakukan serangan udara di wilayah selatan Jalur Gaza, terutama di Khan Younis dan Rafah. Dilaporkan, 33 warga Palestina meninggal dunia di hari pertama dan 17 orang meninggal di hari kedua, sedangkan korban luka-luka lebih dari 40 orang (beritasatu.com, 07/06/2025).

Sampai hari ini, Palestina masih menjadi sasaran genosida Zionis Yahudi, tak peduli bayi-bayi sekalipun. Mereka juga tidak memandang hari raya yang sangat dihormati oleh kaum muslimin. Rasa kemanusiaan telah mati di atas ambisi untuk menghilangkan keturunan Palestina. Toleransi yang digaungkan Barat tak berlaku lagi dengan terus membombardir tak pandang hari.

Selain itu, Zionis Israel juga membunuh pelan-pelan generasi Palestina dengan memblokade bantuan. Mereka menginginkan orang-orang Palestina mati kelaparan. Mirisnya, negara-negara besar diam. Bahkan, para penguasa muslim hanya sibuk beretorika tanpa ada aksi nyata mengirimkan pasukan untuk melawan Zionis. Seolah mereka menjadi penonton kebiadaban penjajah Zionis, meski rasa kemanusiaan terkoyak. Padahal, rasa kemanusiaan itu adalah fitrah yang melekat pada manusia untuk menolong sesama.

Matinya rasa kemanusiaan menunjukkan matinya sifat dasar manusia. Hal ini karena sistem kapitalisme terlalu mengagungkan materi dan rasa superior disertai rasa kebencian terhadap orang lain. Kebiadaban Zionis yang begitu nyata tidak memengaruhi hati nurani para pemimpin muslim.

Nasionalisme telah menghalangi mereka untuk bersikap adil terhadap muslim Palestina. Tidak ada penguasa negeri muslim yang  membebaskan Palestina dengan kekuatan militer, meskipun umat telah menyerukan jihad. Jihad hanya akan terwujud apabila ada seruan dari negara. Sayangnya, negara dengan model nation state tidak mungkin menyerukan jihad, apalagi mereka justru bergabung dengan Zionis.

Seruan jihad hanya mungkin dilakukan dalam negara Khilafah. Negara Khilafah tidak akan membiarkan rakyat disakiti atau dirampas tanahnya oleh penjajah. Oleh karena itu, butuh perjuangan untuk menegakkan Khilafah ini. Upaya ini membutuhkan kepemimpinan jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyerukan tegaknya khilafah. Melalui jamaah ini, kesadaran umat akan dibangun sekaligus menunjukkan jalan kemuliaannya.

Dalam sejarah telah terbukti bahwa Palestina berhasil dibebaskan pada masa kekhilafahan Islam. Pada masa Khalifah Umar bin Al-Khaththab, Palestina pertama kali dibebaskan pada tahun 637 M oleh pasukan jihad kaum muslimin yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Saat itu, Khalifah Umar menandatangani Perjanjian Umariyah dengan Uskup Yerusalem Sofronius, yang salah satu klausulnya melarang orang Yahudi tinggal di tanah Palestina.

Pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi, Palestina kembali dibebaskan pada abad ke-12. Ia adalah  seorang panglima perang muslim yang memimpin jihad melawan tentara Salib. Selanjutnya, pada masa Khilafah Utsmaniyah pada abad ke-20, Sultan Abdul Hamid II  menolak tawaran Theodor Herzl, pendiri Zionisme, untuk membeli tanah Palestina bagi pemukiman Yahudi.

Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk menghentikan kebrutalan penjajah Zionis Yahudi sekaligus membebaskan Palestina dari cengkeramannya adalah dengan jihad dan Khilafah.  Wallahu a’lam bissawab.

 

Oleh: Dwi Darmayati, S.Pd.,Gr.

(Praktisi Pendidikan)

Views: 22

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA