Proyek Revitalisasi Pasar Menyengsarakan Rakyat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Riak-riak masih mewarnai proyek revitalisasi Pasar Ciparay, dikarenakan pedagang masih berjualan di area proyek. Petugas akhirnya bertindak tegas agar para pedagang keluar dari lokasi itu dan pindah untuk melakukan aktivitas jual belinya ke pasar Cijagur. Salah seorang anggota Ikatan Warga Pasar Ciparay (IWPC) Agus Munawar membenarkan bahwa proses pemindahan para pedagang itu memang ada hambatan (XPOSE24.COM, 17/2/2025).

Oleh karena itu, Pemerintah Ciparay selaku pemilik aset diminta untuk bertindak tegas kepada para pedagang yang bandel agar cepat pindah ke Pasar Cijagur. Karena jika tidak demikian, dikhawatirkan akan menimbulkan kecemburuan dari pedagang lain yang sudah melakukan aktivitasnya di Pasar Cijagur.

Keamanan dan kenyamanan di pasar adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh rakyat dengan adanya revitalisasi pasar sebagai bentuk dari pembangunan. Semua itu adalah tanggung jawab negara untuk memenuhi kebutuhan rakyat terkait hal tersebut di atas. Pasar merupakan fasilitas umum yang harus dipenuhi oleh negara sebagai bentuk tanggung jawab dalam mengurus urusan rakyat. Namun apa jadinya jika negara melepas tanggung jawab tersebut dan menyerahkan kepada pihak swasta?

Tentunya akan sangat merugikan rakyat, bukan menyenangkan rakyat, karena pihak swasta pasti ingin mendapatkan keuntungan yang besar. Hal tersebut justru sangat merugikan dan membuat rakyat semakin tertindas. Pedagang yang ingin berdagang di pasar harus merogoh kocek untuk menyewa lapak di pasar. Harga sewanya yang fantastis sangat memberatkan para pedagang, belum lagi dengan adanya pajak dan iuran harian.

Bukan hanya itu, imbasnya akan dirasakan oleh masyarakat secara umum karena jika harga sewanya mahal, maka pedagang akan menaikkan harga dagangannya. Karena jika tidak begitu, maka mereka akan rugi. Namum, jika harga menjadi naik, pelanggan bisa saja pergi mencari ke tempat lain. Mirisnya, masyarakat akan bertambah pula biaya atau anggaran untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hal ini wajar terjadi di negara yang mengadopsi sistem kapitalisme liberal dengan sistem ekonominya yang kapitalistik pula. Negara hanya berperan sebagai regulator bagi para oligarki. Negara berlepas tangan dalam mengurusi rakyatnya. Rakyat justru dijadikan sebagai lahan bisnis ditengah kondisi ekonomi yang serba sulit.

Sebaliknya, dengan dalih atas nama pembangunan, negara justru menfasilitasi dengan berbagai kebijakan untuk melancarkan para pengusaha besar. Itulah watak negara kapitalis, terlihat baik melakukan pembangunan namun sejatinya semua yang dilakukan mengandung kepentingan dan manfaat bagi segelintir orang. Negara selalu merampas hak rakyat dan lebih mementingkan para oligarki.

Berbeda ketika negara diatur dengan aturan yang shahih yaitu Islam. Negara Islam yang dibangun atas landasan akidah Islam. Negara Islam memposisikan negara adalah sebagai pengurus urusan rakyat, baik muslim maupun non muslim, kaya ataupun miskin, di kota maupun di desa. Islam memandang bahwa selama ada di dalam negara daulah khilafah, semua rakyat adalah sebagai tanggung jawab negara. Negara wajib memenuhi berbagai kebutuhan dasar rakyatnya, termasuk dalam menyediakan berbagai insfratruktur seperti pasar. Rakyat juga tidak perlu membayar mahal berbagai fasilitas yang dibangun oleh negara.

Di sinilah peran penting negara Islam, rakyat tidak dijadikan sebagai lahan bisnis untuk mengambil keuntungan. Kekuasaan adalah amanah untuk mengurus rakyat dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Pembangunan berbagai fasilitas dilakukan atas dasar terwujudnya kemaslahatan umat. Rakyat bebas dan berhak menggunakan berbagai fasilitas tersebut tanpa harus bayar pajak.

Fasilitas yang memadai sangat diperhatikan oleh negara Islam, sehingga pembangunan tidak dilakukan dengan serampangan seperti halnya dalam kapitalisme. Pasar adalah tempat yang disediakan negara untuk semua orang yang mau berdagang asal sesuai syariat. Salah saatunya tidak berjualan barang-barang yang diharamkan oleh syari’at.

Begitulah, kesejahteraan akan terwujud nyata ketika sebuah negara mengadopsi sistem Islam sebagai panduan dalam mengatur dan mengurus rakyatnya. Di sinilah pentingnya mengambil solusi Islam agar keadilan dan kemaslahatan bisa dirasakan oleh seluruh manusia karena Islam adalah rahmatan lil alamiin.

Wallahu a’lam bishawab.

 

 

Oleh: Dartem

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 31

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA