Pakar: Gagasan Proyek Whoosh, Ada Proses yang Salah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pakar perkereta-apian, Dr. -Eng. Ahmad Sugiana, M.T., menilai ada proses yang salah mulai dari gagasan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.

“Pertama, gagasan atau idenya itu sendiri. Dan di situ ada proses yang salah,” ujarnya dalam program Fokus Live: Patgulipat Kereta Api Cepat di kanal YouTube UIY Official, Ahad (26/10/2025).

Ia menjelaskan, sejak awal proyek ini ditumpangkan dalam program Proyek Strategis Nasional (PSN) yang membuat pelaksanaannya terkesan dipaksakan.

“Akhirnya banyak proyek-proyek, salah satunya infrastruktur itu dipaksakan karena banyak intervensi,” bebernya.

Ahmad menambahkan, secara teknis banyak hal yang harus menyesuaikan dengan kondisi tersebut. “Itu yang cukup berat,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa dalam tahap pra-feasibility study (pra-studi kelayakan), salah satu aspek penting adalah ridership forecasting atau perkiraan jumlah calon penumpang. Namun, menurutnya, sering kali perhitungan ini dibuat terlalu optimistis.

“Memang di proyek-proyek infrastruktur, khususnya kereta api termasuk LRT dan MRT, itu untuk forecasting atau memperkirakan berapa calon penumpang itu kadang sering ada over atau terlalu optimis,” jelasnya.

Ia mencontohkan, pada awalnya KCJB diproyeksikan memiliki lebih dari 60 ribu penumpang per hari, namun kemudian direvisi menjadi 30 ribu. “Realisasi sekarang sekitar 18.000 pada jam sibuk,” paparnya.

Ahmad juga menilai kenaikan biaya operasional yang tidak sebanding dengan jumlah penumpang menyebabkan harga tiket menjadi tidak layak (feasible).

“Sekarang kan harga tiketnya di 250 atau 300-an ribu yang paling murah itu, karena pada saat dinaikkan lagi jadi tidak feasible lagi untuk penumpang bisa mau naik,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa perkiraan jumlah penumpang harus disusun secara realistis agar proyek infrastruktur seperti KCJB tidak sekadar berjalan di atas kertas.

“Memang ridership forecasting ini istilahnya harus realistis, sehingga tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan atau proyek bisa jalan,” pungkasnya.[] Muhammad Nur

Views: 36

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA