Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan Makin Buram dan Memprihatinkan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) selalu dirayakan setiap tahunnya. Namun, nyatanya dunia pendidikan tidaklah menjadi lebih baik, justru makin buram dan suram.

Deretan kasus yang terjadi di dunia pendidikan dan mencoreng dunia pendidikan itu sendiri kian bermunculan. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum guru, pelajar, maupun mahasiswa sudah merambah dunia pendidikan Indonesia.

Sebut saja kasus terbaru, yaitu dugaan pelecehan seksual di dalam grup aplikasi pesan oleh sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI). Sebanyak 16 mahasiswa FH UI diduga menjadi pelaku pelecehan seksual tersebut. Lain lagi di Bantul, seorang pelajar tewas akibat dianiaya hingga dilindas sepeda motor. Mirisnya, hal ini sudah direncanakan oleh para pelaku (kumparannews.com, 21/4/2026).

Ada lagi kasus di Bandung, seorang pelajar dikeroyok hingga tewas, yang ternyata para pelakunya juga pelajar. Tak kalah miris, di Bogor ada dua pelajar yang menjadi korban penyiraman air keras saat pulang sekolah (detiknews.com, 22/4/2026).

Kasus-kasus kekerasan yang berbau kriminalitas di lembaga pendidikan kini terus meningkat dan semakin mengkhawatirkan. Hasil pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia menunjukkan ada sebanyak 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan dalam tiga bulan terakhir (kompas.id, 14/4/2026). Hal ini membuktikan bahwa ruang aman, baik di sekolah maupun di kampus, tidak lagi terjamin.

Sekolah atau kampus sebagai tempat tersebarnya ilmu pengetahuan dan pembentukan kepribadian siswa justru menjadi sarana tindakan tercela, rusak, dan kriminal. Korban maupun pelakunya tidak sedikit berasal dari dunia pendidikan itu sendiri. Ini merupakan sinyal bahwa negeri kita sedang darurat pendidikan. Generasi muda harus diselamatkan dari sistem pendidikan yang tidak mampu melahirkan manusia-manusia yang cerdas, beradab, dan memanusiakan manusia.

Selain kasus-kasus di atas yang mencoreng dunia pendidikan, kini ditambah lagi dengan kasus kecurangan dalam ujian yang semakin meningkat. Maraknya joki UTBK membuat budaya plagiat semakin merata di seluruh lembaga pendidikan. Di Surabaya berhasil ditangkap dua pelaku perjokian untuk meloloskan calon mahasiswa program studi kedokteran dengan imbalan Rp200 juta (detiknews.com, 22/4/2026). Hal ini tentu saja mengkhawatirkan jika kampus meluluskan calon mahasiswa yang tidak kompeten.

Belum lagi kasus peredaran narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa yang semakin banyak. Perilaku niradab pelajar terhadap guru juga semakin beragam. Orang tua siswa berani menghina hingga memenjarakan guru karena anaknya dimarahi atau dihukum. Makin lengkaplah potret buram dunia pendidikan Indonesia.

Seharusnya, peringatan Hardiknas menjadi alarm keras bagi semua pihak. Semua pihak harus teredukasi tentang bagaimana memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan Indonesia saat ini. Menelaah kembali kegagalan implementasi arah atau peta jalan pendidikan yang mengakibatkan pelajar menjadi anarkis dan mengalami krisis kepribadian atau dekadensi moral.

Sistem pendidikan nasional kita saat ini yang cenderung sekuler-kapitalistik banyak menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses secara instan tanpa mau berusaha secara serius. Juga menghasilkan orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar. Terlebih lagi dengan longgarnya sistem sanksi negara bagi para pelajar, terutama yang masih di bawah umur, sehingga menoleransi kriminalitas yang mereka lakukan sebagai kenakalan remaja semata. Tidak ada efek jera yang mereka terima dan terbentuklah tabir kebal terhadap hukum pidana, sehingga kriminalitas yang dilakukan malah semakin menjadi.

Hal ini juga tidak lepas dari minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler sehingga mereka mudah tersesat. Ditambah diperlebarnya ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral serta kepribadian mereka, sehingga mudah terseret dalam tindakan kejahatan dan kemaksiatan.

Jika kita mengkaji semua kondisi buruk dunia pendidikan itu, penyebabnya tidak hanya berasal dari buruknya tingkah laku oknum di dunia pendidikan, baik yang berstatus sebagai pelajar, pengajar, maupun perangkat pendukung pendidikan lainnya. Akan tetapi, faktor penyebab utama semua itu adalah buah dari rusaknya sistem yang diterapkan saat ini, yaitu sistem sekuler kapitalisme. Di dalamnya, asas manfaat menjadi tujuan utama sehingga rusaklah semua lini kehidupan, tak terkecuali dunia pendidikan.

Sedangkan dalam Islam, pendidikan merupakan hal yang penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Asas akidah dalam pendidikan Islam akan menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak akan melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan, apalagi melakukan tindakan kriminal. Dalam pendidikan Islam ditanamkan akidah yang benar dan kuat serta keterikatan terhadap hukum Islam dalam segala hal. Halal dan haram menjadi acuan, bukan menghalalkan segala cara.

Selain itu, dalam Islam pendidikan akan fokus pada pembentukan karakter (syahsiah Islamiah), di mana para pelajarnya harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikap sesuai dengan Islam. Islam juga akan menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan, termasuk para pelajar, untuk memberikan peringatan dan efek jera sehingga tidak ada yang akan mengulanginya kembali.

Negara Islam juga akan membangun suasana hidup bermasyarakat dan bernegara yang penuh ketakwaan yang akan mendorong setiap orang untuk berlomba dalam amal kebaikan. Tidak ada waktu untuk memikirkan kemaksiatan ataupun kesempatan besar untuk bermaksiat berulang kali dengan berbagai cara. Sinergi pendidikan dalam keluarga, lingkungan, dan sistem pendidikan yang diterapkan oleh negara juga sama, yakni berdasarkan akidah dan syariat Islam. Wallahu a‘lam bish-shawab.

Oleh: Dini
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA