Sekularisme Melahirkan Generasi Sadis

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kasus pembunuhan di kalangan pelajar kembali terjadi. Kali ini terjadi akibat sakit hati cinta pelaku ditolak. Korban adalah FPR (16 tahun), seorang pelajar SMK yang dibunuh oleh temannya sendiri AI (16 tahun). Pembunuhan ini terungkap setelah polisi menyelidiki temuan jasad wanita membusuk di sebuah Warkop di perumahan Made Great Residence, Desa atau Kecamatan Made, pada Rabu 15 Januari 2025.

Polres Lamongan mengungkap bahwa pelaku membunuh korban dengan cara menjerat leher korban menggunakan kerudung milik korban. Selain itu, pelaku juga memukul korban secara berulang di bagian perut dan mata kanannya, kemudian membenturkan kepalanya ke tembok sampai mengakibatkan pendarahan. Setelah pelaku meyakini korban telah meninggal, ia membiarkan mayatnya begitu saja di TKP sekitar Warkop. (monitorindonesia.com, 16/01/2025)

Pembunuhan di kalangan pelajar bukan kali ini saja. Kejadian serupa sudah sering terjadi dengan motif berbeda-beda, sehingga telah menjadi fenomena yang perlu dicari jalan keluarnya. Jika dikaji secara mendalam, kita akan menemukan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan pelajar tega melakukan aksi pembunuhan terhadap temannya sendiri.

Pertama, dari aspek pembentukan kepribadian generasi dalam pendidikan. Hari ini, generasi begitu lemah dalam mengontrol emosi akibat minimnya pendidikan moral dan kepribadian mulia dalam dirinya. Akibatnya, generasi tidak memahami jati diri yang berujung pada ketidakpahaman dalam menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Mereka pun rentan dengan penyakit mental yang merugikan diri sendiri, bahkan orang lain.

Kedua, tidak adanya lingkungan sosial yang suportif membentuk kepribadian mereka. Masyarakat hari ini tidak memiliki standar baku terkait benar salah dan terpuji tercela dalam menilai sebuah perbuatan. Standar itu dikembalikan kepada akal manusia yang akhirnya menciptakan standar semu. Tindakan pembunuhan dikecam, tetapi aktivitas pacaran dan _khalwat_ atau berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram dianggap biasa.

Ketiga, media khususnya media sosial hari ini telah menjadi guru bagi generasi yang rendah literasi. Tak jarang kita akan menemukan konten-konten yang justru mengajarkan generasi melakukan tindak kekerasan sebagai salah satu cara meluapkan emosi. Tidak adanya kontrol dari orang tua, bahkan negara sebagai pemegang kendali digitalisasi di negeri ini menjadikan generasi menyerap pemikiran apa pun dari media.

Berbagai kondisi yang melingkupi ini adalah buah dari kehidupan yang diatur dengan sistem sekuler-kapitalisme. Sekulerisme merupakan paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama Islam, khususnya, hanya sebagai agama ritual yang tidak memiliki peran dalam mengatur aspek kehidupan lain, selain urusan privat dan ibadah.

Akibatnya, sistem pendidikan yang diberlakukan berasas sekuler, yang mengabaikan pembentukan kepribadian Islam generasi. Masyarakat yang sekuler jauh dari budaya _amar makruf nahi mungkar_ dengan standar halal haram. Medianya sekuler karena hanya bertujuan mencari cuan, sehingga membebaskan konten apa pun berseliweran.

Sungguh, kapitalisme telah membuat ukuran kebahagiaan manusia hanya berpusat pada materi atau terpenuhinya keinginan seseorang. Sehingga, muncul perilaku liberal yang melahirkan prinsip tujuan dapat menghalalkan segala cara. Alhasil, emosi pun dilampiaskan sesuai dengan hawa nafsu.

Islam Solusinya

Berbagai persoalan generasi jelas membutuhkan sistem yang mampu memberikan solusi komprehensif atas berbagai persoalan yang sedang mereka hadapi. Sistem yang dimaksud adalah sistem Islam. Sistem Islam yang diterapkan di bawah institusi Khilafah Islam akan menjadikan negara sebagai penanggung jawab segala urusan umat, termasuk membentuk kepribadian mulia generasi.

Rasulullah SAW bersabda, “Imam atau Khalifah adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Al Bukhari)

Islam menjadikan pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan akhlak mulia, pengendalian diri, dan pemahaman yang benar terhadap hubungan antarmanusia, atau dengan kata lain membentuk kepribadian Islam. Alhasil, generasi akan memahami jati diri sebagai hamba Allah dan selalu berusaha untuk taat kepada Allah kapan pun dan di mana pun.

Mereka akan takut untuk menyakiti orang lain, apalagi menghilangkan nyawa sesama. Hidupnya diisi dengan hal-hal bermanfaat, yaitu dengan mengkaji ilmu, berdakwah, dan memberikan sumbangsih terbaik untuk peradaban Islam. Selain itu, negara Khilafah juga akan menerapkan sistem sosial dalam Islam.

Islam memiliki aturan yang jelas terkait pergaulan laki-laki dan perempuan untuk mencegah timbulnya fitnah dan perilaku yang melampaui batas. Sistem sosial Islam ini akan menjaga pergaulan sesuai dengan tuntunan syari’at. Dengan aturan ini, hubungan remaja laki-laki dan perempuan diarahkan agar tetap dalam batas yang wajar. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya hubungan yang merusak moral atau memicu konflik emosional dengan dukungan penerapan syariat Islam dalam berbagai bidang lainnya atau secara Kafah (menyeluruh)

Kasus tragis seperti yang dilakukan pelajar Lamongan tadi dapat dicegah mulai akar permasalahannya. Selain itu, untuk menciptakan suasana ketakwaan pada rakyat, negara juga akan mengontrol media. Ini karena media merupakan sarana edukasi bagi generasi dan mampu memberikan informasi-informasi bagi para penontonnya.

Maka, negara harus menjaga agar informasi yang diterima adalah kebenaran atau tidak bertentangan dengan Islam. Negara melarang masuknya pemikiran sekuler liberal, hedonis, dan pemikiran lain yang bertentangan dengan Islam, melalui media. Konten-konten sadis seperti kekerasan dan pembunuhan tidak akan pernah diizinkan tayang.

Negara memiliki sistem digitalisasi yang kuat, yang mampu mengatasi hal ini. Media dalam Islam hanya digunakan untuk sarana dakwah semata. Demikianlah penjagaan negara Khilafah terhadap generasi yang menjauhkan dari segala bentuk kemaksiatan dan membentuknya menjadi pembangun peradaban mulia. Wallahua’lam.

 

 

 

Oleh: Edah Purnawati

(Sahabat Tinta Media)

Loading

Views: 18

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA