Tinta Media – Lagi dan lagi, seorang anak membunuh keluarga sendiri. Kasus terbaru terjadi di Perumahan Taman Bona Indah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Pada sabtu (30/11/2024) sekitar tengah malam, seorang remaja berinisial MAS tega menusuk ayah dan ibunya yang sedang tidur. Neneknya yang terbangun pun menjadi sasaran kebuasannya.
Sebilah pisau dapur digunakan pelaku untuk menusuk para korban. Penusukan ini mengakibatkan ayah dan nenek pelaku tewas di lokasi kejadian. Sementara, ibu pelaku selamat tetapi tengah kritis di rumah sakit. Motif pelaku melakukan hal tersebut karena mendapat bisikan gaib. (Beritasatu, 30/11/2024)
Sebelumnya, seorang remaja putri di Kota Makassar, Sulawesi Selatan dengan sadis menganiaya ibunya dengan parang hingga kritis di halaman rumah, Selasa (24/9/2024) (sindonews.com, 24/9/2024).
Sampai hati dan sangat mengerikan, dengan mudahnya anak menganiaya hingga membunuh orang tua. Padahal, dirinya bagian dari darah daging orang tuanya. Tragedi nahas ini tak hanya terjadi sekali, tetapi berulang kali.
Kasus ini tak menyoal lagi individu. Hal ini sangat berkaitan erat dengan sistem kehidupan dan aturan yang menaungi. Inilah potret buram sebagai hasil pendidikan keluarga dan sekolah di negeri sekuler demokrasi yang menyebabkan anak mati rasa.
Menurut Psikolog Anak dan Remaja Novita Tandry, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi pelaku melakukan pembunuhan terhadap keluarganya. Faktor tersebut bukan tunggal, tetapi akumulasi, kombinasi antara faktor psikologis, sosiologis, dan lingkungan (tvnews.com, 30/11/2024).
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa penyebab kasus anak bunuh keluarga tak hanya melulu pada kesalahan si pelaku sendiri, tetapi berkaitan dengan 2 faktor pendukung, yaitu faktor internal dan eksternal.
Pertama, faktor internal muncul dari keluarga. Keluarga adalah pondasi awal pembentukan karakter. Jika pondasi ini rapuh, maka bisa memengaruhi pola sikap anak. Seperti lingkungan keluarga penuh kekerasan, ketidakharmonisan orang tua dan anak, minimnya pendidikan agama, juga kurangnya pengawasan dan kasih sayang.
Kedua, faktor eksternal muncul dari lingkungan sekolah, teman bermain, dan media. Sekolah sebagai tempat menimba ilmu ternyata tidak mampu mencetak generasi berakhlak mulia tersebab kurikulum berbasis sekularisme telah memisahkan agama dari pengajaran ilmu-ilmu lainnya.
Teman bermain atau sirkel pergaulan buruk pun memengaruhi perilaku anak menjadi buruk. Lalu media. Anak mana yang hari ini tidak dekat dengan penggunaan media? Hampir setiap anak mempunyai gadget, sementara media yang ditayangkan tidak pernah lepas dari konten negatif dan informasi unfaedah. Bila media diakses tanpa filter iman dan ilmu, maka tontonan menjadi tuntunan.
Kondisi ini diperparah dengan negara yang tidak menjalankan fungsinya, termasuk dalam menyelenggarakan sistem pendidikan yang memiliki visi membina kepribadian dan menjaga kesehatan mental generasi.
Islam menjadikan pemimpin sebagai raa’in, yang bertanggung jawab atas rakyat, termasuk membangun generasi. Kepemimpinan Islam memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi cemerlang yang berkualitas, melalui penerapan berbagai sistem kehidupan sesuai dengan Islam.
Kepemimpinan ini mengharuskan negara membangun sistem pendidikan yang berasas akidah Islam dan menghasilkan generasi yang beriman dan bertakwa, menguasai iptek, berjiwa pemimpin.
Sejarah panjang penerapan Islam telah membuktikan lahirnya banyak sosok ilmuwan yang juga menguasai ilmu agama dan optimal berkiprah dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Fenomena anak bunuh keluarga hanya terjadi di sistem rusak kapitalisme sekularisme. Untuk mengubah kondisi yang ada, maka solusinya segera beralih pada sistem yang sahih, yaitu penerapan Islam Kaffah melalui institusi Khilafah, sehingganak terjaga, keluarga aman sentosa. Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Fitria Hizbi
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 13















