Ujung Derita Palestina

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ada nyawa, nyawa ikan. Begitulah gambaran penduduk Palestina saat ini sejak puluhan tahun silam. Serangan udara maupun darat selalu ditumpahkan zionis Yahudi tanpa pandang bulu. Perempuan, anak-anak, orang tua, semua menjadi korban kebiadaban mereka. Segala fasilitas pun tak urung mereka hancurkan tanpa ampun. Sekolah, rumah sakit, kamp-kamp pengungsian luluh lantak rata dengan tanah. Lantas hingga kapan kondisi ini akan terus berlangsung? Kapankah ujung derita rakyat Palestina?

Zionis Yahudi tidak Pernah Berhenti Menyerang

Kengerian di tanah Palestina masih terus terjadi. Dilansir dari laman kompas.com (4/01/2025), dalam 24 jam terakhir di awal tahun ini setidaknya 62 warga Palestina tewas akibat serangan udara zionis Yahudi. Serangan tersebut terjadi pada Sabtu dini hari yang mengenai rumah keluarga Al-Ghoula di Gaza, hingga menewaskan 12 orang, yang sebagiannya merupakan anak-anak. Data Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan korban tewas dalam tiga bulan terakhir mencapai 45.700 orang bahkan lebih.

Sementara menurut Biro Statistik Pusat Palestina (PCBS), lebih dari 55.000 orang tewas, 11.000 orang masih hilang dan sekitar 100.000 warganya telah meninggalkan Gaza. Populasi Gaza menurut PCBS diperkirakan telah turun 6 persen, sehingga menjadi 2,1 juta saja sejak terjadi serangan dari Zionis Yahudi 7 Oktober tahun lalu (detiknews.com, 6/01/2025).

Meski lembaga Internasional seperti PBB turut campur dengan menengahi dan melakukan gencatan senjata, nyatanya zionis Yahudi tidak hentinya melakukan serangan. Negeri-negeri Muslim hanya mampu mengecam dan mengutuk. Bahkan saat Netanyahu dinyatakan bersalah oleh pengadilan internasional, dia tetap bebas melenggang karena negara-negara sekutunya melindungi dengan menolak keputusan pengadilan internasional tersebut.

Umat Tercerai-berai

Melihat kondisi Palestina saat ini, setidaknya ada beberapa kenyataan yang tampak. Pertama, ini merupakan gambaran kebiadaban Zionis Yahudi yang tidak manusiawi. Mereka bisa dengan mudah menyudahi hidup warga sipil tanpa merasa bersalah. Layaknya pembunuh berdarah dingin, zionis Yahudi selama puluhan tahun telah dengan sadis membunuhi penduduk Palestina tanpa ampun. Seluruh mata di dunia telah menyaksikannya dengan nyata. Maka jelas, zionis Yahudi adalah penjahat perang yang seharusnya dienyahkan dari muka bumi.

Di sisi lain, kondisi ini pun memperlihatkan pada dunia betapa lemah negeri-negeri Muslim di dunia. Sekalipun mereka mempunyai kekuatan militer yang bagus, persenjataan yang lengkap dan canggih, namun mereka ciut di hadapan zionis dan sekutunya. Lantas untuk apa semua persenjataan yang mereka miliki?

Para penguasa Muslim telah terjebak dalam paham nasionalisme. Mereka tidak lagi mengenali kaum Muslim di Palestina sebagai saudara seakidah mereka yang seharusnya mereka bela. Mereka fokus pada kekuasaannya. Mereka pun tidak malu saat berjabat tangan, menjalin persahabatan para kafir penjajah. Inilah dampak nyata dari lunturnya pemikiran Islam yang murni.

Sementara fakta yang ketiga, jelas terlihat betapa lemahnya umat Islam di dunia. Dengan jumlah umat Islam hari ini sebanyak 2.022.133.798, kaum muslim tidak mempunyai power untuk membela saudara seakidahnya di Palestina begitu pula di negeri-negeri lainnya yang mengalami penindasan.

Berjuang Melanjutkan Kembali Kehidupan Islam

Sungguh miris dengan kondisi yang tengah dialami kaum muslim saat ini. Padahal, dahulu Islam pernah menduduki dua pertiga dunia selama belasan abad. Masa gemilang tersebut terlihat jelas, salah satunya pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Kala itu mereka mampu menunjukkan taringnya, mereka menguasai Jazirah Arabia, Palestina, Syiria, dan sebagian besar wilayah Persia dan Mesir. Selama 10 tahun kepemimpinannya, Umar bin Khattab juga berhasil menaklukkan wilayah Damaskus, Aleppo, Horn, Antiokia, Irak di Nahawan, Persia di Cadisia, dan Baitul Maqdis. Luasnya kekuasaan tersebut juga telah memberikan pengaruh yang besar terhadap penyebaran Islam ke seluruh dunia (Wikipedia).

Maka, tampaklah kaum muslim akan kembali memiliki kekuatan jika berada dalam satu kepemimpinan. Terutama saat kaum muslim menjadikan kedaulatan di tangan syara dan menjadikan hukum-hukum-Nya sebagai satu-satunya sistem kehidupan. Akidah Islam dijadikan sebagai asas sistem kehidupan dan dakwah serta jihad sebagai metode dalam menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia.

Benteng pertahanan tersebut adalah Khilafah. Dengan adanya benteng pertahanan tersebut dan seruan jihad fisabilillah dari sang pemimpin umat, maka kaum muslim tidak akan gentar melawan siapa pun musuh di hadapannya.

Untuk mewujudkan kekuatan tersebut umat butuh dibangun kembali kesadarannya. Yakni kesadaran bahwa Islam adalah sistem kehidupan bukan sekadar ibadah ritual. Islam hadir untuk dijadikan aturan baik individu, masyarakat, maupun negara. Inilah pemahaman yang sudah dikubur oleh kafir penjajah lewat pemikiran sekularisme.

Ketika masyarakat telah sadar, pemikirannya akan mendorong diri mereka untuk sama-sama berjuang mengembalikan kehidupan Islam. Dengan begitu kaum muslim akan kembali meraih kemenangan. Palestina maupun kaum muslim lainnya pun akan mampu dibebaskan dari kesengsaraan hidup yang selama ini seakan tidak berujung.

Wallahu’alam.

Oleh: Anisa Rahmi Tania
Aktivis Muslimah Sumedang

Loading

Views: 5

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA