Tinta Media – Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keputusan Israel yang mencabut izin kerja 37 organisasi kemanusiaan internasional di wilayah Palestina, khususnya Gaza. Palestina menolak alasan yang disampaikan Israel dan menegaskan bahwa organisasi-organisasi tersebut menyediakan bantuan vital bagi warga Palestina, termasuk layanan kesehatan dan perlindungan anak di tengah agresi yang terus berlangsung.
Kementerian Luar Negeri Palestina menegaskan bahwa Israel tidak memiliki otoritas atas Palestina dan menyebut tindakan tersebut sebagai perampasan hak serta pelanggaran hukum internasional. Mereka juga mendesak komunitas internasional dan PBB untuk menolak keputusan Israel, menjatuhkan sanksi, serta melindungi operasional organisasi kemanusiaan (Antaranews.com, 31/12/2025).
Hari ini, Palestina masih terus berduka. Suara dentuman bom dan tangisan pilu terus menggantikan tawa ceria warga Palestina. Ribuan nyawa melayang dan puluhan ribu lainnya terluka. Lebih dari 50.000 jiwa menjadi korban kebiadaban Israel. Air mata dan darah yang tertumpah tak terhitung jumlahnya. Apakah kita, sebagai umat Islam, masih bisa menutup mata dan telinga terhadap penderitaan saudara-saudara kita di Palestina? Apakah kita masih bisa menikmati kenyamanan hidup sementara mereka hidup dalam ketakutan, kehilangan tempat tinggal, makanan, dan anggota keluarga?
Warga Palestina kini bertahan di kamp-kamp pengungsian tanpa rasa aman dan kenyamanan. Apakah kita akan terus berdiam diri tanpa mengambil tindakan? Tidakkah kita merasa marah dan malu atas kekejaman Zionis Israel? Kita harus bersuara dan bertindak. Mari memboikot produk-produk yang mendukung penjajahan Israel, menyebarkan informasi tentang penderitaan Palestina melalui media sosial, mendoakan mereka, serta menyalurkan bantuan kemanusiaan. Jangan biarkan sikap diam kita menjadi bagian dari kejahatan ini.
Penjajahan Palestina oleh Barat menunjukkan bahwa negeri-negeri muslim masih terjajah secara pemikiran. Konflik Palestina sering dipersepsikan sebagai perang dua negara, padahal Israel sejatinya adalah “tamu” yang tidak diundang dan kini mengusir pemilik rumah. Kaum Muslim Palestina berjuang mempertahankan tanah mereka dengan keimanan, menjaga kehormatan dan hak atas tanah yang telah menjadi milik umat Islam.
Tanah Palestina merupakan tanah kharajiyah, milik kaum muslim yang diperoleh melalui penaklukan pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra. Kaum muslim Palestina hari ini menjalankan amanah untuk menjaga tanah tersebut. Namun, upaya menghentikan kebiadaban Zionis Israel sejauh ini belum efektif, karena masih sebatas kecaman, kutukan, dan aksi simbolis. Dibutuhkan langkah yang lebih serius dan kolektif untuk benar-benar mengakhiri derita Palestina.
Fatwa jihad dari International Union of Muslim Scholars (IUMS) telah menyerukan intervensi militer, ekonomi, dan politik guna menghentikan genosida di Gaza. Namun, fatwa tersebut tidak akan berdampak nyata jika hanya berhenti sebagai seruan tanpa tindakan konkret dari para pemimpin negeri-negeri muslim. Kekuatan militer berada di tangan penguasa, tetapi hingga kini belum tampak langkah nyata dari negara-negara Arab dan muslim untuk merealisasikan fatwa tersebut.
Jihad fi sabilillah memang dibutuhkan untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis Israel. Namun, pertanyaannya adalah siapa yang akan memimpin dan mengoordinasikan perjuangan ini? Para pemimpin negeri-negeri muslim harus bersatu dan menggalang kekuatan militer untuk melawan kezaliman Zionis. Jihad defensif telah dilakukan oleh kaum muslim Palestina, tetapi tanpa komando yang kuat dan persatuan umat, penjajahan sulit diakhiri. Umat tidak bisa terus berharap pada lembaga internasional yang terbukti tidak berpihak.
Umat Islam membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan bersatu, yaitu Khilafah, untuk menghadapi tantangan global, termasuk membebaskan Palestina. Persatuan umat adalah kunci, dan Khilafah diyakini mampu menggalang kekuatan umat untuk menghadapi musuh bersama. Gerakan Islam perlu fokus pada penyadaran ideologis dan upaya mempersatukan umat agar mampu mendorong penerapan syariat dan pembebasan Palestina.
Semoga perjuangan membela Palestina dan menegakkan Khilafah menjadi amal jariah di hadapan Allah Azza wa Jalla. Daulah Khilafah Rasyidah ala minhaj an-nubuwwah adalah harapan umat Islam untuk meraih kemuliaan dan keadilan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Rukmini,
Ibu Rumah Tangga
![]()
Views: 41
















